Senin, 06 Juli 2026

Bukti Ini Benarkan Timnas Argentina Dan Lionel Messi Tak Saling Cocok

Bukti Ini Benarkan Timnas Argentina dan Lionel Messi Tak Saling Cocok !! 

Pelatih Argentina, Jorge Sampaoli, mengakui bahwa skuat timnas Argentina dan eksistensi Lionel Messi tak saling cocok dalam ajang Piala Dunia 2018.

Bagai sebuah mendung, timnas Argentina dikatakan menutupi sinar permainan seorang Lionel Messi.

Konsekuensinya, kapten timnas Argentina itu tak mampu berbuat banyak pada dua sabung awal di fase penyisihan Grup D.



Pada pertemuan pertama, Lionel Messi gagal membawa timnas Argentina meraih poin penuh ketika melawan timnas Islandia dengan skor tamat 1-1.

Di pertemuan kedua, Messi kembali telan kekecewaan setelah timnas Argentina harus mengakui kemenangan timnas Kroasia dengan skor final 0-3, Jumat (22/6/2018) dini hari WIB.

"Saya pikir, keberadaan skuat Argentina menutupi kebrilianan Messi," ucap Jorge Sampaoli dalam konferensi pers usai sabung melawan timnas Kroasia.

"Leo tampil tidak normal karena tim tidak menyatu dengannya seperti yang seharusnya terjadi," kata sang pelatih menambahkan.

Lantas, bagaimana bukti bahwa timnas Argentina dan seorang Lionel Messi tidaklah cocok?

Dilansir BolaSport.com dari laman BBC, Statistik penampilan Lionel Messi dalam langgar kontra timnas Kroasia cukup pertanda bahwa ketidak cocokan dengan timnas Argentina cukup terasa.

Pertama, Jorge Sampaoli menempatkan Lionel Messi sebagai pusat permainan dalam ajang Piala Dunia 2018.

Hampir setiap umpan dan serangan selalu berlabuh kepada Lionel Messi sebagai eksekutor, pun Messi kerap "dibukakan jalan" supaya mampu mencetak gol.

Dalam langgar kontra Kroasia, Lionel Messi karena di jaga ketat. Sang pemain catatkan 49 sentuhan namun hanya dua sentuhan yang beliau terima di kotak penalti lawan.

Kedua, Lionel Messi bahkan harus menunggu hingga babak kedua untuk mendapatkan peluang pertamanya dalam matchday kedua ini.

Tercatat, gres pada menit ke-64 Lionel Messi melepaskan tembakan ke gawang pertama dalam pertandingan.

Itupun, Messi gagal menjebol gawang Kroasia sesudah menerima bola muntah di depan gawang, hasil kolaborasi antara Gonzalo Higuain dan Maximiliano Meza.

Ketiga, Lionel Messi seakan memang tertutupi magisnya dengan "tak beruntung" untuk bisa cetak gol.

Bagaimana tidak, Messi sudah catatkan 12 tembakan ke gawang dalam dua laga pertama timnas Argentina.

Namun, tak satupun berbuah gol untuk Messi. Bahkan, catatan kegagalan tersebut menjadi yang terbanyak sementara ini di Piala Dunia 2018.


sumber : bolasport.com

5 Fakta Yuli Sumpil, Pentolan Aremania Yang Dihentikan Masuk Stadion Seumur Hidup Nomer 4 Bikin Kaget !!

5 Fakta Yuli Sumpil, Pentolan Aremania yang Dilarang Masuk Stadion Seumur Hidup  nomer 4 bikin kaget !

 Dedengkot Aremania, Yuli Sumpil, mendapatkan hukuman berat dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI yang telah resmi dikeluarkan pada Kamis (11/10/18). Bagaimana tidak, Yuli Sumpil tidak boleh hadir dalam pertandingan sepak bola seumur hidupnya.

Sanksi tersebut diberikan alasannya adalah agresi kurang terpujinya yang masuk ke lapangan pada pertandingan panas antara Arema FC vs Persebaya Surabaya. Yuli Sumpil masuk ke dalam lapangan bersama rekannya berjulukan Fandi.




Dirinya bahkan melaksanakan provokasi kepada kiper cadangan Persebaya, Alfonsius Kelvan. Yuli Sumpil mencoba untuk memancing emosi Kelvan dengan menabur uang di atas lapangan.

Yuli Sumpil sendiri memang kerap kali menghiasi pertandingan-pertandingan yang dijalani Arema FC di setiap musimnya. Akan sangat janggal bagi Arema kalau tak melihat sosok Yuli Sumpil di pinggir lapangan.

Kali ini INDOSPORT.com pun mecoba untuk membahas fakta-fakta Yuli Sumpil, suporter yang dihukum seumur hidup tak boleh menyaksikan pertandingan sepak bola.

1. Seorang Dirigen


Selebrasi gol Arema Indonesia, Aremania.
Yuli Sumpil merupakan suporter yang sangat fanatik dengan Arema FC yang juga merupakan seorang dirigen Aremania. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Yuli Sumpil tak pernah lelah berteriak di pinggir lapangan untuk Arema FC.

Dipilihnya Yuli Sumpil sebagai dirigen Aremania nyatanya karena dirinya mampu berkomunikasi dengan baik oleh ribuan Aremania dan kemampuannya membangkitkan semangat para suporter. Ia pun punya nilai plus karena mempunyai penampilan yang cukup nyentrik.

2. Menahan Lagu Rasis


Yuli Sumpil, dirijen Aremania menyerahkan pinjaman hasil dari iuran sukarela Aremania dengan nilai Rp 31 juta
Sebagai seorang dirigen, Yuli Sumpil yaitu orang yang akan memilih lagu mana dan gerakan badan apa yang harus dilakukan Aremania di atas tribun. Yuli Sumpil sempat menyampaikan bahwa dirinya berusaha keras biar tidak ada lagu rasis dikala tabrak berlangsung.

"Kita selalu berusaha tidak menyanyikan lagu berirama rasis. Selama suporter lawan tidak memancing lebih dulu, ya kita tidak membalas," ujar laki-laki yang selalu bangun memimpin suporter dari tribun timur Stadion Kanjuruhan itu.

"Kalau kami fokus saja pada nyanyian untuk mendukung Arema. Tapi, jikalau sahabat-sobat ingin bernyanyi yang sedikit provokatif, itu semata-mata untuk menaikkan tensi pertandingan saja," lanjutnya.

3. Ciptakan Lagu untuk Arema


Aremania mendatangi kantor Arema FC.
Yuli Sumpil juga sempat membuat lagu untuk dinyanyikan Aremania di setiap pertandingan yang dijalani Singo Edan. Lagu tersebut diciptakan khusus untuk menjalani ISL 2015 kemudian.

Lagu tersebut diciptakan biar para pemain, pelatih dan administrasi Arema FC tahu perjuangan para suporter. Karena menurutnya jiwa, harta dan nyawa dikhususkan untuk tim yang bermarkas di Stadion Kanjuruhan tersebut

4. Dinilai Mirip dengan Young Lex


Penampilan Yuli Sumpil nyatanya dinilai mirip dengan penyanyi rap Indonesia, Young Lex. Kemiripan itu hadir sebab keduanya mempunyai sikap yang kontroversial dan kerap kali mengeluarkan kata-kata bergairah dalam setiap aksinya.

Namun, sosok Yuli Sumpil tidak dibenci oleh sejumlah Aremania. Hal tersebut berbanding terbalik dengan agresi Young Lex yang kerap kali dibenci oleh netizen Indonesia.

Kesamaan lainnya yaitu Yuli Sumpil dan Young Lex sama-sama memiliki jiwa seni dalam menciptakan sebuah lagu. Namun bedanya, lagu yang diciptakan Yuli Sumpil tidak diniatkan untuk komersial.

5. Dijadikan Penelitian Skripsi

Sosok Yuli Sumpil nyatanya pernah diteliti oleh salah satu mahasiswa Universitas Kristen Petra Surabaya berjulukan Ayub Dahana. Mahasiswa itu mencoba untuk membahas ‘Kompetensi Komunikasi Yuli Sumpil dalam Memimpin Kelompok Suporter Aremania’, begitu judul skripnya.

Dalam penelitiannya itu, hadir dua faktor mengapa Yuli Sumpil sukses memimpin ribuan Aremania. Pertama, faktor internal mengenai kemampuan Yuli Sumpil mengikuti keadaan, melakukan pembicaraan, mengatur pembicaraan, menawarkan empati, berbicara secara efektif dan mendapat kelayakan.

Kedua, faktor penerimaan/janji dari khalayak tersebut. Sehingga, dalam konteks komunikasi publik yang bersifat informal maka kompetensi komunikasi tidak bisa dilepaskan dari faktor penerimaan oleh publiknya.



BACA SUMBER

Rafael Benitez: Does Newcastle Utd Manager Have St James' Park Future?



After consecutive wins and seven points out of a possible nine, people are finally beginning to believe Rafael Benitez's claims that his Newcastle United side are not going to be relegated.

But even if he does manage to keep them up, will it be enough to ensure he remains at St James' Park?

If he does maintain the momentum and ensures Premier League status, it will be an achievement to rival any of the managerial successes crafted over a long and illustrious career.

Can Benitez's vision be realised at Newcastle?
A victim of his own success by finishing 10th in the Premier League the season after winning promotion, you wonder if it would not have been better, having steered the family saloon to a mid-place finish in football's equivalent of a grand prix, to leave while he was ahead.

Had they beaten a virtually already relegated West Brom at home in their penultimate game of last season they would have finished in an almost unimaginable eighth place. It was a stressful season, and in the summer lots of doubts surfaced about how much the club was going to back the Spaniard's ambitious vision.

The spurious and scurrilous assertions that he only took - and remains in - the job for the money are as outrageous as they are inaccurate. The fact is Benitez was lured to Newcastle with the same dreams and aspirations as just about every single Newcastle fan. He, like they, wanted to wake the "sleeping giant".

For "sleeping", read comatose. Rip van Winkle, who slept for a mere 20 years, is practically an insomniac by comparison. Apart from the Championship and the kind of farce that was the Intertoto Cup, the last piece of silverware to sit in the club's trophy room was the Inter-Cities Fairs Cup from way back in 1969.

He did not come to the club with a plan to merely avoid relegation. He wanted to win, to compete.

And yet in the footballing-mad metropolis that is Tyneside, expectations are high. Unnaturally so, really, with the perception that a top-10 finish ought to be the bare minimum for a club with the facilities and fanbase that they enjoy.

If Benitez had merely been there for the money, he could name his price and leave for China tomorrow. But for the Spanish manager that would mean failure, quitting, and one thing Benitez is not, and never has been, is a quitter.

Ongoing money issues - can Benitez and Ashley find common ground?

It is about money, of course, but not for Benitez himself.

He needs it for the club, and not just on new players but also for much-needed investment in the academy, the lifeblood of the club that in the long term can help to raise it from its slumbers.

Backing on both fronts is conspicuous by its absence and much will depend on whether or not money is spent in the winter transfer window.

If it is not forthcoming then, despite Benitez's claim that Newcastle will survive, there is a very good chance that they will be relegated and that he will be sacked - or even move on.

It would then fall to the owner, Mike Ashley, to explain to the fans just why he had dispensed with the services of a manager who maximised the potential of a side despite having to watch on helplessly as the 'family silver' was sold off around him and replaced, largely, with borrowed or cut-price cutlery.

Relegation to the Championship at the end of 2015-16 led to a flurry of transfer activity and between July and August the club cashed in on quality players, with Moussa Sissoko (Tottenham), Georginio Wijnaldum (Liverpool), Andros Townsend (Crystal Palace), Daryl Janmaat (Watford), Remy Cabella (Marseille) and Papiss Cisse (Shandong Luneng) all leaving.

Cheick Tiote, who died in June 2017, and Fabricio Coloccini were given away presumably to reduce the wage bill.

About £87m worth of talent was sold, with about £57m re-invested on players including Dwight Gayle (Crystal Palace), Matt Ritchie (Bournemouth), Matz Sels (Gent), Grant Hanley (Blackburn Rovers), Ciaran Clark (Aston Villa) and Daryl Murphy (Ipswich). Those were quality players for the sasaran that season - to be promoted.
Despite the loss of quality, Newcastle won the Championship and won promotion alongside Brighton and Huddersfield.

Benitez's reward for gaining promotion and Newcastle's idea of preparing for a life in the Premier League was to have a net spend of about a third of what Huddersfield and Brighton spent in summer 2017. In fact, the net spend of about £20m still put them well in credit on transfer dealing during Rafa's rule and streets behind the vast majority of Premier League clubs.

Ashley's claim that he would "spend every penny generated" on improving the club has - to date - translated into a 2018-19 season in which he has made another net profit on the transfer market of about £7.5m.

What happens in the winter window will define the direction Benitez's relationship with Newcastle takes. The impression local observers have is that he would probably not extend his contract unless they spend and Newcastle say they will not spend unless the manager commits to the club.

It is not a western-style stand-off between Ashley and Benitez, though. It is a matter of vision and the possibility of a project - fundamentally nobody is asking the businessman to change how he runs his business, but also not to alter agreed parameters.

Witnesses at St James' Park have seen the owner enjoying his recent visits to the ground, sharing time with the manager and players. It might be a good time to find common ground.

From Valencia to Real Madrid - Benitez has been here before

Ashley's promises to Benitez on spending to strengthen the side will feel all too familiar - and hollow - to the 58-year-old, who more often than not gets the targets agreed at the start of projects but has to suffer the moving of the goal posts by owners and presidents.

In 2004, and having won two La Liga titles in three seasons with Valencia, he left the club after the board signed winger Fabian Canobbio rather than Samuel Eto'o, the player he had asked for.

"I was hoping for a sofa and they've brought me a lamp," he remarked.

But that was nothing compared to the debacle that awaited him at Liverpool, where the American duo Tom Hicks and George Gillett contrived to steer the club into a perilous position, with administration a possibility before they sold it in 2010.

There were more broken promises about rebuilding and so on at Inter Milan, where he signed and improved players like Philippe Coutinho - one of his great enjoyments - but where he did not get the players he chose and who were agreed with the ownership (Javier Mascherano and Dirk Kuyt).

There followed the universal and unwarranted loathing by almost everyone at Chelsea, despite bringing home the Europa League, before becoming yet another victim of the player power that permeates the Real Madrid dressing room when he took charge at the Bernabeu.

In such company, Newcastle and Ashley must have initially felt to Benitez like a philanthropic breath of fresh air.

Perhaps he should have known better.

A new contract on the table - but will he sign it?

A look at Benitez's statistics reveals an interesting story.

Despite having recorded Newcastle's worst 10-game start to a season since the 19th century, back-to-back wins means they are up to 14th in the table. For the time being at least, they can look upwards.

Tottenham are the only side from the top six to have beaten Benitez's Newcastle by more than two goals (August 2017) and in his past eight Premier League games against the top six he has either won (twice) or lost by a single goal.

All of which means one thing: Newcastle are close but clearly not close enough.

Benitez's contract comes to an end next summer. As it stands he has a renewal offer on the table, but to be signed the club have to show enough commitment with a project that should be around improving facilities and results, not just survival.

Should Salomon Rondon - on a year's loan from West Brom - continue to score for his new club then he may will dig them out of a hole, guarantee survival and once again Ashley will believe his approach has been vindicated. With Gayle having gone in the opposite direction to the Baggies, the two clubs should be able to sit down and work out a deal to suit all parties.

But it will probably take considerably more than that to ensure Benitez will be committing his future to the city that has adopted him as one of their own - and that is a real shame.


SOURCE 

Jumat, 26 Juni 2026

Tertahan Di Mestalla, Barca Turun Dari Singgasana !!

Tertahan di Mestalla, Barca Turun dari Singgasana !!


Barcelona hanya mampu bermain imbang 1-1 masa bertamu ke markas Valencia, Estadio Mestalla dalam lanjutan La Liga 2018-19 jornada 8 yang digelar pada Senin (8/10) dini hari WIB.

Barca bahkan sempat tertinggal lebih dulu sesudah tuan rumah mencetak gol lewat Ezequiel Garay di menit-menit awal. Tim tamu baru bisa menciptakan skor kembali seimbang berkat gol Lionel Messi.

Laga berjalan belum genap dua menit, publik Mestalla sudah bergemuruh menyambut gol untuk Valencia yang dicetak Garay meneruskan sebuah sepak pojok Dani Parejo yang sempat mengenai kepala Gerad Pique.



Tak lama berselang, Valencia hampir saja menggandakan keunggulan mereka andai saja tembakan keras Michy Batshuayi tak digagalkan Marc-Andre Ter Stegen.

Valencia menerima dilema ketika Goncalo Guedes mengalami cedera dan terpaksa ditarik keluar di menit ke-12. Posisinya digantikan Denis Cheryshev.

Barcelona jadinya sukses menyamakan skor di menit ke-23 lewat tembakan khas Messi. Sebelumnya La Pulga melaksanakan kolaborasi satu-dua dengan Luis Suarez.

Valencia memperoleh peluang emas untuk kembali memimpin di menit ke-40. Sayang tembakan Jose Gaya ke tiang jauh masih melebar dari sasaran. Skor 1-1 bertahan hingga turun minum.

Kembali dari kamar ganti, Barcelona masih mendominasi berkelahi dari sisi penguasaan bola. Namun pasukan Ernesto Valverde tetap kesulitan untuk mengacak-acak pertahanan tuan rumah.

Entrenador Valencia, Marcelino Garcia Toral mencoba untuk meningkatkan intensitas serangan timnya dengan memasukkan Rodrigo untuk menggantikan Kevin Gameiro.

Tak ada gol yang berhasil diciptakan kedua tim di sisa langgar. Skor imbang 1-1 pun menjadi hasil simpulan tubruk ini. Hasil ini menciptakan Barcelona terpaksa kehilangan singgasana yang direbut Sevilla. Sementara Valencia masih tertahan di peringkat 13.

Susunan PemainValencia: Neto, Piccini, Garay, Paulista, Gaya, Soler, Parejo, Kondogbia (Coquelin 79'), Guedes (Cheryshev 12'), Gameiro (Rodrigo 67'), Batshuayi.

Barcelona: Ter Stegen; Semedo, Pique, Vermaelen, Jordi Alba; Busquets, Rakitic, Arthur (Rafinha 88'); Messi, Luis Suarez, Coutinho (Dembele 84').



sumber : bola.net

Kamis, 18 Juni 2026

Lupakan Piala Aff 2018, Timnas Indonesia Langsung Menatap Kompetisi Ini, Bisa Juara Nih!

Lupakan Piala AFF 2018, Timnas Indonesia Langsung Menatap Kompetisi ini, Bisa Juara Nih!



 Timnas Indonesia dipastikan gagal melaju ke babak semifinal Piala AFF 2018 meskipun masih menyisakan satu pertandingan lagi. Hal ini tidak terlepas dari hasil imbang yang didapat oleh Filipina pada pertandingan kontra Thailand beberapa waktu yang kemudian.


Kegagalan Timnas Indonesia lolos ke babak semifinal tidak hanya telah menunjukan kalau PSSI tidak becus dalam membina sepakbola Indonesia. Namun juga memunculkan tuntutan agar PSSI segera di reformasi agar prestasi Timnas Indonesia di lalu hari mampu lebih baik lagi.

Pada tahun 2019 mendatang, bahu-membahu Timnas Indonesia sudah dinantikan oleh beberapa kompetisi bergengsi yang mungkin bisa mereka juarai. Dilansir dari laman Indosport.com (23/11/2018) bahwa salah satunya ialah Piala AFF U-22 2019 yang akan dihelat pada awal tahun 2019 mendatang. Kompetisi ini juga menjadi ajang persiapan bagi negara-negara yang tampil di SEA Games 2018 supaya bisa mempersiapkan timnya lebih baik mungkin.


Piala AFF U-22 bukanlah kompetisi gres, sebab beberapa tahun yang lalu kompetisi semacam ini juga pernah digulirkan. Hanya saja, Piala AFF U-22 ini akan menjadi ajang jalan masuk bagi Timnas di level junior untuk mampu membela negara mereka.

Beberapa pelatih ternama di Indonesia mirip Indra Sjafri bahkan sudah diprediksi akan menukangi Timnas Indonesia U-22 ini. Sebab banyak pihak yang menyebut jika Timnas Indonesia U-22 nanti akan banyak dihuni oleh alumni Timnas Indonesia U-19.


Seperti yang kita ketahui bahwa dikala ini, PSSI tengah merencanakan pembentukan Timnas Indonesia yang berkesinambungan, dimana pelatih di timna ingusan akan terus mendampingi pemain yang mereka asuh saat tampil di kompetisi dengan tingkat yang lebih tinggi pada setiap tahunnya.

Lantas bagaimana dengan prediksi anda melihat bahwa Timnas Indonesia akan tampil di Piala AFF U-22 tersebut. Apakah anda yakin Indonesia mampu menjadi juara pada kompetisi kali ini?.


sumber : www.indosport.com

Senin, 15 Juni 2026

Neymar Sudah Kembali Ke Psg

Neymar Sudah Kembali ke PSG
6 Mei 2018

Neymar telah kembali ke PSG selepas mengalami kecederaan. Dia dilihat melaksanakan aktiviti di PSG untuk memulihkan kecergasannya sebelum kembali ke lapangan.

Pemain bintang PSG telah ditarik keluar dari padang hijau semenjak Februari lalu. Permainan terakhir ia akan menghadapi Marseille. Dalam permainan, Neymar mengalami kecederaan.

Jurulatih PSG, Unai Emery, sendiri memberi petunjuk bahawa Neymar akan kembali bermain sebelum musim berakhir. Tetapi dalam apa perlawanan pemain Brazil akan kembali tidak ada akreditasi.

Pasti, Neymar telah kembali ke Perancis selepas beberapa waktu menjalani pemulihan di Brazil. Dia dilihat berlatih di gym di Pusat Latihan Ooredoo untuk memulihkan kecergasannya sebelum kembali bermain.

"Dia kelihatan biasa. Neymar kembali bekerja di Pusat Latihan Ooredoo," kenyataan itu menyampaikan PSG media umum.

PSG sendiri dalam perlawanan terakhir menentang Amiens di Ligue 1 memperoleh seri 2-2. Dalam perlawanan seterusnya, PSG akan bertemu dengan Les Herbiers dalam perlawanan tamat Coupe de Francis.

Jika PSG dapat mengalahkan satu pasukan dari bahagian ketiga di Perancis, maka mereka akan merebut tiga gelaran domestik isu terkini ini. Selepas itu, PSG akan bermain di Ligue 1 sekali lagi menghadapi Rennes dan Caen.

Sementara itu, Neymar juga berharap mampu pulih tidak lama lagi dan kembali bermain. Sebabnya, Brazil akan menjalani perlawanan sulung di Piala Dunia 2018 ke Switzerland pada 17 Jun tempatan.

sumber: bola.net

Minggu, 14 Juni 2026

Bola Liga Indonesia Edy Rahmayadi: Saya Mundur Dari Pssi Sebab Bertanggung Jawab


Home Bola Liga Indonesia Edy Rahmayadi: Saya Mundur dari PSSI alasannya adalah Bertanggung Jawab

KOMPAS.com - Edy Rahmayadi telah menyatakan mundur sebagai Ketua Umum PSSI pada Minggu (20/1/2019). Hal tersebut beliau nyatakan dalam Kongres PSSI yang tengah berlangsung di Bali, tepatnya di Sofitel Bali Nusa Dua Beach Resort, Bali. Terkait pengunduran dirinya itu, Edy menyatakan bahwa ia mundur karena bertanggung jawab dan tak ingin mengkhianati PSSI. "Saya nyatakan hari ini saya mundur dari ketua. Dengan syarat, jangan khianati PSSI ini," kata Edy dikutip dari Tribun Bali. "Jangan sebab satu hal lain terus kita bercokol merusak rumah besar ini. Saya mundur bukan karena saya tidak bertanggung jawab, tetapi alasannya saya bertanggung jawab," ucap Edy dalam pidatonya.

Sebelumnya, Edy Rahmayadi terpilih sebagai Ketua Umum PSSI masa 2016-2020 dalam Kongres PSSI yang digelar di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Kamis (10/11/2016).  Saat itu, Edy mengalahkan kandidat lainnya, yakni Bernhard Limbong, Kurniawan Dwi Yulianto, Eddy Rumpoko, Moeldoko, dan Sarman.  Kemudian, Edy memenangi Pemilihan Gubernur Sumatera Utara pada 2018 lalu. Dia pun menjabat sebagai Gubernur Sumut, sekaligus Ketua Umum PSSI. Kini, Edy telah menyatakan mundur sebagai Ketua Umum PSSI.



sumber : bola.kompas.com

Rabu, 27 Mei 2026

Lionel Messi Sengaja Bermain Jelek Di Piala Dunia 2018?

top news !!! Lionel Messi Sengaja Bermain Jelek di Piala Dunia 2018?

Lionel Messi masih belum terbebas dari sorotan tajam usai kekalahan 0-3 tim nasional Argentina saat menghadapi timnas Kroasia pada Jumat (22/6/2018).


Kapten timnas Argentina tersebut kembali gagal mencetak gol sehabis urung menyarangkan bola pada langgar pertama fase grup melawan timnas Islandia.

Kini Lionel Messi disebut sebagai biang keladi kegagalan Argentina tersebut.

Pelatih asal Argentina, Ricardo Caruso Lombardi, menilai bahwa Messi memang sengaja bermain buruk pada dua sabung awal Piala Dunia 2018.

"Messi telah menghancurkan tujuh instruktur. Saya merasa bahwa beliau sengaja bermain buruk agar Jorge Sampaoli dikritik pedas," kata Lombardi mirip dilansir BolaSport.com dari Marca.

Tanpa ampun, Lombardi bahkan menasihati Argentina untuk bertindak tegas terhadap Messi.

"Argentina harus mengeluarkan Messi sebab dia sama sekali tak peduli. Ia bermain di luar kode pelatih," kata Lombardi.

"Dia selalu ingin dikelilingi oleh para pemain yang beliau sukai saja, tetapi bukan nama-nama terbaik," ucap Lombardi menambahkan.

Messi sebetulnya menjadi sosok sentral dalam kelolosan Argentina ke putaran grup Piala Dunia 2018.

Ia mencetak hat-trick ke gawang Ekuador di tubruk terakhir Kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Amerika Selatan atau Conmebol.

Namun penampilan Messi di Piala Dunia 2018 justru antiklimaks dengan belum mencetak gol sama sekali.

Hal ini menciptakan pasukan Jorge Sampaoli gres mampu mengoleksi satu poin dari sepasang adu yang telah dimainkan di Rusia 2018.


sumber : bolasport.com

Minggu, 17 Mei 2026

Netizen Indonesia Meradang Di Akun Resmi Afc Usai Timnas Singapura Taklukan Mongolia, Ini Karena

Netizen Indonesia Meradang !! di Akun Resmi AFC Usai Timnas Singapura Taklukan Mongolia, Ini Alasannya

 Timnas Singapura gres saja menyelesaikan laga uji coba menghadapi timnas Mongolia di Stadion Bishan pada Jumat (12/10/2018)

Menjamu Mongolia, timnas Singapura berhasil menaklukan sang tamu.
Dalam adu tersebut, timnas Singapura menaklukan Mongolia dengan skor 2-0.



Namun, usai kemenangan timnas Singapura tersebut, netizen Indonesia justru kedapatan meradang di akun resmi federasi sepak bola Asia (AFC).

Netizen Indonesia kedapatan melontarkan banyak komentar bernada pedas di akun tersebut.

Ternyata alasan di balik meradangnya para netizen Indonesia karena AFC mengunggah hasil kemenangan timnas Singapura tapi tidak mengunggah hasil timnas Indonesia pada Rabu (10/10/2018) kemudian.

"Indonesia 3-0 Myanmar tak diunggah, kenapa?" tulis akun @yudhiansyah12.

"Woy min, Indonesia vs Myanmar mana @theafchub," tulis akun @pajarifkymuhammad___.

"Indo gak di infoin?" tulis akun @haniffkhusnaa_.

"Indonesia mana yang lawan myanmar?" tulis akun @iamsyahroni23.

"Kemaren indonesia menang atas mnyanmar kok gak di post," tulis akun @muhamdherry.

"Where is indonesia result dude?" tulis akun @said.iskandar.

"Indonesia 3-0 Myanmar kok kagak di post, adminnya....," tulis akun @doniipratamaaa_.

Kala itu, timnas Indonesia juga melakukan berkelahi uji coba internasional menghadapi timnas Myanmar.

Indonesia berhasil menang 3-0, namun hasil pertandingan itu tak diberitakan oleh AFC di akun resminya.




sumber : bolasport.com

Senin, 11 Mei 2026

Takluk Dari Korsel !!! Timnas Indonesia U-23 Tanpa Kemenangan Di 6 Sabung

Takluk dari Korsel !!! Timnas Indonesia U-23 Tanpa Kemenangan di 6 Laga

Cibinong - Timnas Indonesia U-23 kembali menelan hasil buruk pada uji coba menuju Asian Games 2018. Melawan Korea Selatan di Stadion Pakansari, Cibinong, Sabtu (23/6/2018), Indonesia mengalah 1-2.

Hasil ini melanjutkan tren jelek Timnas Indonesia U-23 dalam berkelahi uji coba. Tercatat, sudah enam laga uji coba yang mereka lewati tanpa kemenangan. Sebelumnya, mereka kalah 0-1 dari Bahrain, 0-0 kontra Korea Utara, 0-0 kontra Uzbekistan, 1-2 dari Thailand, dan 0-0 melawan Thailand.

Sebagai tuan rumah, Indonesia lebih dulu mengambil inisiatif serangan. Lewat kecepatan para pemain sayap mirip Febri Hariyadi dan Riko Simanjuntak, mereka mencoba menusur pertahanan Korsel.

Septian David Maulana memiliki peluang emas di menit keenam. Menerima umpan terobosan dan lolos jebakan offside, beliau mendapatkan ruang tembak di dalam kotak penalti. Sayang, arah tendangannya masih jauh dari target.

Tempo permainan cepat yang diperagakan Garuda Muda hingga menit ke-10 mampu diladeni Korsel. Meski lebih mengandalkan serangan balik, tim Negeri Gingseng itu mampu mengimbangi kecepatan para pemain Indonesia.

Serangan seporadis sempat dilancarkan tuan rumah di menit ke-12. Berawal dari skema serangan balik, Riko Simanjuntak sempat merebut bola dari kaki pemain Korsel. Sayang, serangan tersebut diakhiri dengan tendangan spekulasi Nelson Alom yang tak mengenai target.

Di menit ke-12, Korsel sempat mengancam pertahanan anak latih Luis Milla itu. Lee Keun Ho melepaskan tendangan keras dari luar kotak penalti yang masih melenceng tipis di sisi kanan gawang Indonesia kawalan Muhammad Ridho.

Memasuki menit ke-20, Korsel gantian mengambil alih kendali permainan. Tim asuhan Kim Hag Bum itu dengan leluasa memainkan bola dari kaki ke kaki. Setiap serangan yang mereka bangkit, gawang Indonesia selalu terancam.

Hingga memasuki menit ke-30, Alberto Goncalves sebagai penyerang tunggal Indonesia pun masih minim menerima peluang. Tak ada pasokan umpan matang yang tiba dari lini kedua seperti Febri, Riko, dan Septian David.

Di menit ke-35, peluang emas balasannya didapat Beto. Riko mengirimkan umpan silang mendatar yang cukup matang. Sayang, Beto gagal mendapatkan momen yang tepat untuk melakukan sontekan pada bola.

Di menit ke-40, giliran Korsel yang memiliki peluang emas lewat serangan balik. Beruntung, tendangan Lee Jinhyun masih melammbung jauh di atas mistar gawang Muhammad Ridho. Tiga menit lalu, Korsel kesudahannya mencetak gol. Dari situasi sepak pojok, Jeong Taewook mencetak gol lewat tandukan. Babak pertama ditutup dengan keunggulan 1-0 tim tamu.

Babak Kedua

Luis Milla melaksanakan beberapa perubahan di babak kedua. Di antaranya adalah memasukkan Osvaldo Haay dan Stefano Lilipaly. Masuknya dua pemain itu menciptakan serangan Indonesia jauh lebih terorganisasi.

Di menit ke-54, Indonesia pun menerima peluang lewat kerja sama apik dengan Beto. Namun, tendangan mendatar yang dilepaskan Febri masih mudah diamankan kiper Korsel, Kang Hyeonmu.

Peluang lebih terbuka didapat Beto di menit ke-57. Mendapat operan dari Putu Gede Juni Antara, penyerang Sriwijaya FC itu gagal menanduk bola ke arah gawang Korsel.

Permainan Indonesia di babak kedua tak jauh berbeda jika dibandingkan dengan babak pertama. Tempo permainan cepat masih mereka peragakan, tapi sulit bagi Beto dan mitra-mitra untuk memaksimalkan setiap serangan.

Salah satunya yakni peluang yang didapat Osvaldo di menit ke-69. Menerima umpan Beto dari sisi kanan pertahanan Korsel, Osvaldo yang berada di depan gawang gagal mengarahkan bola ke posisi yang sempurna. Sontekannya malah melenceng ke sisi kanan gawang.

Di menit ke-77, giliran Febri yang menerima peluang emas. Mengecoh satu pemain, Febri menggiring bola hingga berhadapan eksklusif dengan kiper Korsel. Namun, tendangannya malah mengenai kaki kiper Korsel dan melenceng dari gawang.

Upaya tuan rumah akibatnya menuai hasil di menit ke-90+3. Serangan bertubi-tubi Indonesia diakhiri dengan sundulan Hansamu Yama Pranata yang gagal diantisipasi kiper Korsel.

Sayang, Indonesia justru sedikit lengah di menit-menit simpulan. Berawal dari situasi bola mati, bola liar tepisan Awan Setho dilanjutkan Han Seunggyu untuk mencetak gol kemenangan Korsel dari luar kotak penalti.

Susunan Pemain

Indonesia: Muhammad Ridho; Putu Gede Juni Antara, Ricky Fajrin, Hansamu Yamaha Pranata, Rezaldi Hehanusa, Muhammad Hargianto, Nelson Alom, Febri Hariyadi, Riko Simanjuntak, Septian David Maulana, Alberto Goncalves

Pelatih: Luis Milla

Korsel: Kang Hyeonmu; Jeong Taewook, Lee Siyoung, Kim Jinya, Hwang Hyunsoo, Kim Geonung, Lee Jinhyun, Kim Hyeonug, Lee Donggyeong, Kim Jungmin, Lee Keun Ho

Pelatih: Kim Hag Bum

sumber : liputan6.com

Minggu, 12 April 2026

Emiliano Sala - A 'South American Warrior'& The ,Local Carlos Tevez'


Emiliano Sala: Profile of 'a South American warrior' & the 'local Carlos Tevez'

At 28, Emiliano Sala had just reached football maturity, and his move to Cardiff was shaping up to be a thrilling adventure.

The transfer marked belated recognition for a player who might be imperfect technically but who is physical, courageous - and endearing.

On the pitch, he is confrontational; off it, he has led a quiet life.

He loves detective novels and would never go to an away game without taking a book. He plays guitar too but took that up quite late, and usually prefers to leave it at home.

A common morning sight in Nantes was Sala, seated at a table outside a cafe with his Labrador Naja curled up at his feet.

Destiny is cruel.

Fans of Nantes football club spent the whole of January hoping - rumour had it that Sala didn't really want to leave for Cardiff. His coach, Vahid Halilhodzic, had rekindled his career last October following a long period of struggle under former manager Miguel Cardoso and refused to discuss the possibility of his striker leaving.

Halilhodzic - himself a former centre-forward at Nantes - had decided his mission was to relaunch the Argentine player, whose role model since childhood had been the legendary striker Gabriel Batistuta.

"He's a sensitive young man; he needs to feel confident, so the priority was to help him believe in himself. Only after that could we talk, striker-to-striker," said Halilhodzic.

Sala confirmed: "The club was ready to sell me to Galatasaray, but I held on tight. I have no regrets, because Vahid and I talk a lot, and I'm steadily improving."

Between July and September, during the Cardoso kala at Nantes, Sala scored four times; between October and December, he scored eight times.

'If he were an English player, he would be Jamie Vardy'
Sala is first and foremost an instinctive striker.

If he were an English player, he would be Jamie Vardy: a player who likes wide spaces and being part of a team that has a strong counter-attacking style; a lively, light player but one who is also resilient and reliable - a real South American warrior.

During his time with French club Niort he was often referred to as "the local Carlos Tevez".

Sala was also a skilled 'fox in the box', thanks particularly to his exceptional finishing ability with his head. He had perfect timing, and he was clinical on set pieces with his great headers. There is no doubt his technique still lacked something, but the Premier League looked like his turf to conquer.

He was initially unsure about joining a club struggling in their own league, but Kita, the president of Nantes, didn't want to miss out on the 17m euro transfer fee.

The player Cardiff wanted was the Sala that Halilhodzic had so successfully polished and relaunched.

In Argentina, Sala trained in San Francisco, Cordoba, at an academy allied to Bordeaux, moving to France to join Bordeaux when he was 20.

Everyone who knew him there agrees - Emiliano was a good guy and a good team-mate.

On Tuesday, Felipe Saad, who played with Sala at Caen, told L'Equipe: "He was a lovable, generous fellow. He always believed that football was a team sport. I am so shaken.

"His move to Cardiff was going to bring him the recognition he deserved, albeit belatedly. He so deserved his talent to be recognised."

It is true that Sala's progress was rather slow: people still referred to him as a "promising talent" when he was 23 and at Bordeaux.

His team-mates even poked fun at him for his unpolished style on the field - so much so that, after a season spent in the Bordeaux reserves in 2011-12, Sala was loaned to Orleans, then a Niveau 3 team. He went on to score 19 goals in 37 matches.

Next came another loan, this time to Niort, in D2. Initially, Sala's then-coach Pascal Gastieu had no real interest in him.

"I considered his technique to only be adequate, though everything else was there," said Gastieu. "He was a generous guy and when he was on the field he never gave up.

"He knew he had room for improvement, especially on a technical level. He'll reach full maturity later than the average player, you'll see."

At the time, Sala agreed: "My headers aren't good enough, even though I'm tall. It's something I'll have to work on."

Sala's next loan move took him to Caen. It wasn't always easy for him, a joint Italian-Argentine national, to be constantly on the move. But he eventually found his feet at Nantes, where he won an initial five-year contract.

It didn't take Sala long to establish himself and soon Wolves, then in the Championship, got in touch with Nantes about him. President Kita, who had signed Sala a year earlier for 1m euros, rejected the 4m euro offer.

Sala had been tempted - "this might be the second division, but that's the English league" - but he knew that, even at 26, he wasn't yet mature enough to go up against the solid defence of English teams.

"I haven't left my mark on Nantes yet. If I was to leave, I would want it to be after I've made it, and I'd want to leave a good memory of me."

Sala could be spotted outside a cafe in Nantes, having breakfast with Naja, as recently as a few days ago.

Afterwards, he went to say goodbye to his Nantes team-mates. Then he boarded a plane to Cardiff.

source : bbc.com

Selasa, 07 April 2026

Unggah Foto Liburan, Baju Roy Kiyoshi Ini Jadi Materi Candaan Netizen, Aduh Bang Roy !



Unggah Foto Liburan, Baju Roy Kiyoshi Ini Makara Bahan Candaan Netizen, Aduh Bang Roy !

Siapa yang tidak mengenal selebriti yang mendadak viral ini, sobat niscaya tahu dan tidak heran jika dia sering dibicarakan karena sebab keunikan yang dimilikinya tersebut.

Teman-sobat pasti tahu kebiasaan atau lebih tepatnya khasnya Roy Kiyoshi dikala tampil di televisi, hmmm saya mencium wangi-bacin sesuatu kayaknya, begitulah kalimat yang pertama kali diucapkan oleh roy sendiri, ditambah lagi dengan kemampuan nya yakni sebagai indigo menciptakan dirinya kini semakin populer di publik.

Roy sendiri sering membagikan kegiatannya melalu instagram, di akun instagramnya @roykiyoshi dia membagikan sebuah postingan dirinya sedang berlibur di Burano, Italia, namun netizen malah mengomentari hal lain tentang Roy yakni pakain nya dan hal tersebut menjadi bahan candaan netizen



Pada foto tersebut Roy menggunakan baju berwarna merah muda yang bangun dalam sebuah lorong kuning.

"Salfok sama baju nya ka, pingki pingki gtu @roykisyoshi" ujar pemilik akun @_wulan.m.

"Aku Kira BlackPink Ter nyata Koko" Sahut akun @davv.n.

"Koko kok kayak di dalam jeruk yah" Ujar pemilik akun @dewi.firni_

"kalau di liat liat baju koko lucu ya pink kayak patrick hahhahahahah" sahut akun @najfhiska.



Sumber : www.tribunnews.com


Selasa, 24 Maret 2026

Ada Insiden Di Kanjuruhan, Arema Ingin Pemain Persib Minta Maaf Kepada Aremania


Ada Insiden di Kanjuruhan, Arema Ingin Pemain Persib Minta Maaf kepada Aremania

Bola.com, Malang - Pertandingan leg kedua 16 besar Piala Indonesia antara Arema FC dengan Persib Bandung menyisakan friksi. Arema menerka pemain Persib melaksanakan ujaran kebencian sepulang dari Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang.

Beredar di media sosial, video pemain Persib dari dalam kendaraan rantis yang ditumpangi melontarkan kalimat rasis untuk Aremania. Mereka melakukan itu sebab merespons beberapa Aremania yang mengacungkan jari tengah ke arah kendaraan Persib saat melintas.

Tapi, tetap saja respons dari pemain Persib yang disesalkan oleh manajemen Arema alasannya di dalam lapangan, kedua tim sepakat untuk menyuarakan perdamaian ditandai dengan membawa kaus bertema perdamaian jelang pertandingan di Bandung dan Malang yang tujuannya meredakan permusuhan suporter Persib dan Arema.

“Kami merasa perlu untuk menawarkan jawaban terkait video yang beredar karena Arema sudah berusaha untuk menjaga dan menciptakan pertandingan kemarin berjalan aman dan lancar. Termasuk Aremania sudah mengubah sikapnya. Tapi kalau sengaja diprovokasi tentu mereka akan bersikap beda,” terang Media Officer Arema, Sudarmaji.

Menurut Sudarmaji, tindakan pemain Persib lewat vidio itu sudah menciptakan kekerabatan suporter Arema dengan Persib kembali mampu memanas. Untuk meredakannya, Arema meminta Persib segera menyampaikan ajakan maaf sekaligus penjelasan.

“Kalau mampu secepatnya meminta maaf secara jantan kepada Aremania dan mengakui tindakannya itu salah. Arema akan bertindak untuk meredakan atau menahan Aremania semoga tidak terprovokasi,” jelasnya.

Sebenarnya teror suporter kepada pemain lawan sudah sering terjadi. Skuat Arema sendiri juga sering menerima perlakukan yang sama dari suporter Persib saat diluar stadion. Tapi tidak ada respon mirip yang sengaja diabadikan lewat vidio mirip tim Persib Bandung.

“Pemain Persib merupakan idola bagi fans mereka. Kaprikornus harusnya memperlihatkan pola yang baik. Tidak larut dalam euforia (lolos ke 8 besar Piala Indonesia) lalu menyampaikan umpatan mulut yang kontraproduktif dengan yang dikampanyekan pemain di lapangan,” sesalnya.

Dalam pertandingan itu, Arema ditahan Persib 2-2. Tim berjuluk Maung Bandung lolos alasannya adalah lebih produktif mencetak gol di sangkar lawan. Mengingat pertemuan pertama di Bandung kedua tim bermain imbang 1-1.


sumber : bola.com

Senin, 23 Maret 2026

Timnas U-19 Vs Taiwan Di Rcti Khusus Pengguna Antena, Pengguna Parabola Nonton Disini Bos!

Timnas U-19 vs Taiwan di RCTI Khusus Pengguna Antena, Pengguna Parabola Nonton Disini Bos!

Timnas U-19 akan memulai berkelahi pertama di Piala Asia U-19 2018 dengan melawan Taiwan pada (18/10/2018) pukul 19.00 WIB di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK).

RCTI selaku pemegang hak siar akan menayangkannya secara pribadi, namun hanya penguna antena yang bisa menikmatinya. Sementara pengguna parabola harus geleng-geleng kepala sebab siarannya akan diacak.



Lantas bagaimana solusi bagi pengguna parabola untuk menyaksikan sabung tersebut?

Ada dua pilihan, pertama ialah berlangganan televisi satelit berbayar mirip Matrix TV yang akan menyiarkan melalui channel FOX Sports.

Kedua yaitu menyaksikannya melalui channel feed yang gratis tanpa langganan, namun harus mau sedikit bersusah payah memutar parabola atau biasa dikenal dengan tracking.

Biasanya channel feed akan muncul dikala laga berlangsung, dan info channel feed itu akan menyebar di lembaga persatelitan di medsos baik facebook, instagram ataupun twitter.

Mau langganan atau feed, kembali ke pilihan masing-masing. Namun satu hal, jangan doakan Timnas U-19 kalah gara-gara diacak, karena Timnas tak salah yang salah ialah tv-nya.



sumber : ucnews.com

Sabtu, 14 Maret 2026

Madrid Diklaim Akan Kalahkan Liverpool Dengan Gampang

Madrid Diklaim Akan Kalahkan Liverpool Dengan Praktis
Jum'at 11 Mei 2018

 Presiden Kehormatan Real Madrid Francisco Gento mengklaim Liverpool tak akan punya kesempatan untuk bisa menang lawan Cristiano Ronaldo cs di akhir Liga Champions mendatang.


Musim ini performa pasukan Zinedine Zidane itu di berbagai ajang tak terlalu solid. Alhasil mereka gagal berprestasi di pentas domestik meski mampu bersinar di Eropa.

Namun demikian, Madrid harus berjalan dengan tertatih-tatih untuk bisa melangkah ke babak tamat. Di babak perempatfinal, mereka bahkan sempat kalah melawan Juventus. Di semifinal mereka juga bisa dibilang cukup beruntung alasannya Bayern sempat menciptakan blunder di lini belakangnya dan terhindar dari kekalahan.

Di sisi lain Liverpool tampil solid meski di awal kompetisi sempat tak konsisten. Meski kalah lawan AS Roma di leg kedua semifinal, namun Mohamed Salah cs disebut punya kans juara jika bisa tampil dalam performa terbaiknya.

Gento lantas ditanya apakah ia yakin El Real nanti bisa jadi juara dan memenangkan trofi UCL untuk yang ke-13 kalinya. Ia pun menjawab: "Tanpa perlu diucapkan, pertandingan itu nanti akan berlangsung gampang (bagi Madrid)," klaimnya seperti dilansir Mirror.

Gento menambahkanMadrid tak boleh melewatkan peluang untuk bisa jadi juara di Kiev nanti. Apalagi sebab pentas UCL merupakan satu-satunya kans mereka untuk bisa meraih trofi di musim ini.

“Semua orang merasa senang dengan pertandingan semacam ini - semua orang ingin berada di sana untuk mendukung tim dan menyemangati mereka untuk memenangkan Piala Eropa lainnya - dan melanjutkan rangkaian hasil manis yang kami jalani dan yang selalu kami nikmati [dalam kompetisi ini]," ucap Gento.

"Madrid tidak mampu membiarkan kesempatan ini gagal - final harus dimenangkan, tidak dimainkan dan Real Madrid tahu apa yang dipertaruhkan," tegasnya. (mir/dim)


sumber : bola.net

Kamis, 12 Maret 2026

Ada Gosip Geng !!! Dalam Skuat Jerman

Ada Isu Geng !!! Dalam Skuat Jerman

 Skuat Jerman dikabarkan berada dalam krisis alasannya adalah adanya perseteruan antara geng 'Bling-bling' dan geng Bavaria.

Skuat asuhan Joachim Loew itu memulai perjalanan mereka di Piala Dunia 2018 dengan jelek. Di matchday 1 Grup F kontra Meksiko, mereka menelan kekalahan dengan skor 1-0.


Jerman ketika itu main di bawah standar mereka. Lini belakang tim Panser juga kerap dengan mudah disusupi para pemain laskar El Tri.

Alhasil skuat Panser pun menuai banyak kritikan. Kondisi tim kemudian juga disebut kurang kondusif. Bahkan ada berita perpecahan yang dialami juara dunia 2014 tersebut. (bild/dim)

Bantahan Senior

Kekalahan itu kabarnya menciptakan sejumlah pemain senior Jerman murka. Alhasil sejumlah friksi tercipta di antara pemain imnas Jerman saat ini.

Akan tetapi kabar perpecahan itu pribadi disangkal oleh pemain senior Jerman, Thomas Muller. Dikatakannya gosip itu sama sekali tidak benar.

"Apakah kalian [Media] sudah mengonfirmasi kabar itu? Apakah kalian sudah punya narasumber? Tidak? Oke jika begitu."

Membaik

Tak lama berselang, bek asal Bayern Munchen Mats Hummels angkat bicara soal kondisi timnya. Dikatakannya, situasi di dalam tim Panser sekarang sudah jauh lebih baik.

"Atmosfernya sudah semakin lebih baik, kami kembali ke jalur yang benar," ujar Hummels kepada wartawan, mirip yang dikutip dari Goal.

"Semuanya sudah kembali ke performa terbaiknya. Sempat ada beberapa hari di mana kami sedikit jatuh, tetapi sekarang kami tahu semuanya masih mungkin. Saat kami mencapai potensial, maka kami mampu bermain anggun," lanjutnya.

Masih Pecah

Menurut kabar yang beredar via Sport Bild, perpecahan itu masih eksis. Mereka menyebut ada sejumlah pemain yang tergabung dalam dua geng berbeda.

Dalam geng Bling-bling, ada nama Mesut Ozil, Sami Khedira, Jerome Boateng dan Julian Draxler. Sementara itu geng Bavaria beranggotakan Manuel Neuer, Hummels, Muller dan Toni Kroos.

Media Jerman itu menyebut geng Bling-bling kesal pada geng Bavarian alasannya mereka harusnya bisa bersikap lebih aktif untuk melobi Joachim Loew terkait Leroy Sane. Winger Manchester City itu sebelumnya tak dibawa Loew ke Rusia.

Loew menyebut Sane tak dipanggil karena alasan seni manajemen. Ia disebut lebih menentukan Draxler dan Marco Reus dalam skuatnya sehingga nantinya Sane mampu jadi tak akan mendapat banyak menit bermain di Rusia.

Hasil Positif


Kabar tak sedap itu sendiri muncul sebelum Jerman bermain melawan Swedia. Untungnya kabar itu tidak sampai mempengaruhi semangat juang tim Panser.

Swedia sempat mencetak gol lebih dahulu pada menit 32 melalui Ola Toivonen. Sementara Jerman mampu membalas pada menit 48 melalui Marco Reus.

Skuat Jerman berada dalam kesulitan besar sebab pada menit 82 mereka kehilangan Jerome Boateng yang mendapat kartu merah. Namun mereka mampu mencetak gol pada menit 95 melalui free kick Kroos.


sumber : bola.net

Selasa, 03 Maret 2026

Instruktur Chinese Taipei Puji Permainan Egy Maulana Vikri Sesudah Dipermalukan

Pelatih Chinese Taipei Puji Permainan Egy Maulana Vikri Setelah Dipermalukan


Pelatih Chinese Taipei U-19, Chen Pho-Yu, memuji Egy Maulana Vikri yang tampil apik ketika membela timnas Indonesia U-19. Timnas Indonesia U-19 membuka partisipasi Piala AFC U-19 2018 dengan menaklukkan Chinese Taipei 3-1 di Stadion Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Kamis (18/10/2018).

Performa apik Egy menjadi satu di antara faktor yang membuat timnas Indonesia U-19 menang 3-1 atas Chinese Taipei. Sang pemain mendulang gol satu gol pada menit ke-50.


Selain mencatatkan nama di papan skor, Egy juga menjadi bintang film utama dalam dua gol yang dicetak Witan Sulaeman (71', 88'). Kinerja impresif tak ayal membuat penggawa Lechia Gdansk itu menuai pujian.

"Kami tahu Egy bermain di Polandia. Kami juga tahu beliau ialah pemain yang elok. Kami pun sudah melihat permainan Egy," kata Chen sehabis pertandingan.

"Namun, bermain satu lawan satu melawan Egy adalah hal yang sulit. Oleh alhasil, saya menugaskan para pemain untuk menekan Egy sepanjang pertandingan. Saya akui Egy memang tampil cantik," tutur Chen Pho-Yu.

Performa apik Egy Maulana Vikri membawa pengaruh konkret bagi timnas Indonesia U-19. Saat ini skuat Indra Sjafri merupakan pemuncak klasemen sementara Grup A dengan torehan tiga poin, unggul selisih gol dari Uni Emirat Arab yang menghuni peringkat kedua.


Sumber : bola.com

Sabtu, 21 Februari 2026

Tatap Leg Kedua, Pelatih Home United Sebut Suporter Persija Fantastis

Tatap Leg Kedua, Pelatih Home United Sebut Suporter Persija Fantastis
11 Mei 2018

 Home United membawa bekal berharga masa menyudahi perlawanan Persija Jakarta pada leg pertama semifinal AFC Cup 2018 Zona ASEAN di Stadion Jalan Besar, Singapura, Selasa (8/5/2018).


Persija dipaksa bertekuk lutut oleh Home United dengan skor 2-3.

Pertandingan leg kedua akan bergulir pada 15 Mei 2018 di markas Persija, Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta.

Pelatih Home United, Aidil Sharin mewaspadai tekanan pendukung tuan rumah jelang pertemuan kedua.

Aidil menyebut, pemberian suporter Persija, Jakmania, sedikit bakal mempengaruhi jalannya pertandingan.

"Semoga kami mampu menang alasannya tidak mudah menang di Jakarta. Dan setiap mereka main ke sini (Singapura), selalu tidak gampang (dikalahkan). Karena nanti akan banyak Jakmania di SUGBK. Ya, alasannya adalah cukup sulit terutama di semifinal dan akhir. Setiap berkelahi tandang, fans dan semua hal lain harus diantisipasi," ujar Aidil.

Persija menorehkan rekor soal jumlah penonton di AFC Cup.

Partai Persija melawan Johor Darul Ta'zim (JDT) pada matchday kelima Grup H mengundang 60.157 Jakmania di SUGBK.

Jumlah tersebut merupakan rekor penonton terbanyak dalam sebuah pertandingan yang pernah digelar di AFC Cup.

"Apalagi Persija punya fans fantastis di Jakarta, semoga mereka akan menikmati pertandingan," kata Aidil.

Rotasi
Ditanyai kemungkinan melaksanakan perubahan seni manajemen di leg kedua, Aidil enggan membocorkan.

"Kami selalu memiliki plan, kami juga akan melihat kekuatan dan kelemahan Persija di setiap pertandingan," tutur Aidil.

sumber :Liputan 6.com

Senin, 19 Januari 2026

Eks Madrid Dan Barca Ini Akan Kembali Bersaing Sebagai Pelatih

Eks Madrid dan Barca Ini Akan Kembali Bersaing Sebagai Pelatih
12 Mei 2018

Eks megabintang Real Madrid, Raul Gonzalez mampu segera menyusul jejak Zinedine Zidane dalam dunia kepelatihan sepak bola. Saat ini Raul sedang bersiap untuk memulai keriernya sebagai pelatih dengan mengikuti kursus lisensi instruktur UEFA.
Mengutip goal, Raul menyebut bahwa dirinya sedang memulai tahun pertama untuk lisensi UEFA A dan B. Dia pun mengakui akan memulai karier dengan melatih usia dini.


"Kami sudah memulai tahun pertama lisensi A dan B. Itu yakni langkah pertama untuk melatih dan setidaknya menjadi instruktur usia muda. Dan dalam setahun kami akan bisa mengambul UEFA Pro, yang membuat kami mampu melatih tim manapun," jelas Raul.

Agaknya Raul mengindikasikan bahwa dia juga ingin memulai karier kepelatihannya di Real Madrid. Entah beliau akan melatih usia muda atau tidak, Raul masih belum mampu memastikan.

"Sekarang yang terpenting ialah untuk segera menerima sertifikat kepelatihan ini dan Juni nanti saya akan berbicara dengan klub (Madrid). Kami harus menganalisis kemungkinannya. Saya melihat sepak bola dari sudut pandang yang berbeda dengan kelas ini."

Sementara itu, setidaknya Raul akan mengenal satu wajah familier pada kursus kepelatihan tersebut. Setidaknya beliau akan bergabung dengan mantan bintang Barcelona, Xavi Hernandez.

"Kami berjumlah 16 dan Xavi akan tiba pada Selasa ini. Banyak dari kami yang sudah pernah menjadi rekan setim atau rival dan aku yakin kursus itu akan sangat menyenangkan dan kami akan mempelajari semua hal yang mungkin," tandasnya. (goal/dre)


sumber : bola.net

Sabtu, 10 Januari 2026

Arema Fc Taklukkan Kalteng Putra Di Semifinal Piala Presiden 2019


Arema FC Taklukkan Kalteng Putra di Semifinal Piala Presiden 2019


BOLASPORT.COM - Arema FC menang telak 3-0 Kalteng Putra pada leg pertama babak semifinal Piala Presiden 2019 yang berlangsung di Stadion Kanjuruhan, Malang, Selasa (2/4/2019).

Arema FC sukses mengambil keuntungan pada leg pertama semifinal Piala Presiden 2019 melawan Kalteng Putra.

Tiga gol kemenangan Arema FC ke gawang Kalteng Putra pada leg pertama semifinal Piala Presiden 2019 dicetak oleh Dedik Setiawan (26' dan 66') dan Hanif Sjahbandi (59').

Kemenangan ini bisa menjadi modal berharga bagi Arema FC dikala menjalani leg kedua semifinal Piala Presiden 2019 kontra Kalteng Putra di Stadion 17 Mei, Banjarmasin, Sabtu (6/4/2019).

Pada babak pertama, Arema FC mampu mendominasi pertandingan di 15 menit awal.

Namun, upaya serangan Singo Edan gres membuahkan hasil pada menit ke-26 melalui Dedik Setiawan.

Dedik sukses meneruskan umpan dari Ricky Kayame yang sebelumnya melakukan akselerasi di kotak penalti Kalteng Putra.

Skor 1-0 untuk keunggulan Arema atas Kalteng Putra menutup jalannya babak pertama.

Pada babak kedua, Kalteng Putra berusaha tampil menyerang untuk menyamakan kedudukan.

Pada menit ke-55, Diogo Campos nyaris menyamakan kedudukan andai sepakannya tak ditepis oleh kiper Arema, Kurniawan Kartika Ajie.

Arema FC justru menjiplak keunggulan menjadi 2-0 melalui gol dari Hanif Sjahbandi pada menit ke-59.

Hanif yang berpindah posisi sebagai bek tengah sukses meneruskan bola liar di kotak penalti Kalteng Putra.

Arema FC kian menegaskan keunggulan menjadi 3-0 melalui gol Dedik Setiawan pada menit ke-66.

Penyerang timnas Indonesia itu sukses meneruskan umpan terobosan dari Makan Konate.

Tak ada gol pemanis sampai wasit meniup peluit tanda berakhirnya babak kedua.

Skor 3-0 untuk kemenangan Arema FC atas Kalteng Putra pada leg pertama semifinal Piala Presiden 2019 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Selasa (2/4/2019).

Setelah ini Arema FC akan bertandang ke markas Barito Putera yang dijadikan sangkar oleh Kalteng Putra ialah Stadion 17 Mei, Banjarmasin, pada Jumat (5/4/2019).

Susunan Pemain:

Arema FC (4-3-3): 96-Kurniawan Kartika Ajie; 39-Alfin Tuasalamony, 23-Hamka Hamzah, 6-Ikhfanul Alam (14-Jayus Hariono 37'), 87-Johan Alfarizie; 19-Hanif Sjahbandi, 12-Hendro Siswanto (Muhammad Rafli 88'), 10-Makan Konate; 41-Dendy Santoso, 27-Dedik Setiawan, 21-Ricky Kayame (11-Rivaldi Bawuo 71')

Pelatih: Milomir Seslija

Kalteng Putra (4-4-2): 20-Dimas Galih; 4-OK John, 2-Rafael Bonfim, 3-Wasyiat Hasbullah, 26-Kevin Wopi; 17-Antoni Putro Nugroho, 18-I Gede Sukadana, 12-Rizky Febrianto, 13-Ferinando Pahabol (Maldini Pali 69'); 11-Diogo Campos (Elthon Maran 69'), 10-Patrich Wanggai

Pelatih: Gomes de Oliveira



sumber : bolasport.com