Senin, 06 Juli 2026

Bukti Ini Benarkan Timnas Argentina Dan Lionel Messi Tak Saling Cocok

Bukti Ini Benarkan Timnas Argentina dan Lionel Messi Tak Saling Cocok !! 

Pelatih Argentina, Jorge Sampaoli, mengakui bahwa skuat timnas Argentina dan eksistensi Lionel Messi tak saling cocok dalam ajang Piala Dunia 2018.

Bagai sebuah mendung, timnas Argentina dikatakan menutupi sinar permainan seorang Lionel Messi.

Konsekuensinya, kapten timnas Argentina itu tak mampu berbuat banyak pada dua sabung awal di fase penyisihan Grup D.



Pada pertemuan pertama, Lionel Messi gagal membawa timnas Argentina meraih poin penuh ketika melawan timnas Islandia dengan skor tamat 1-1.

Di pertemuan kedua, Messi kembali telan kekecewaan setelah timnas Argentina harus mengakui kemenangan timnas Kroasia dengan skor final 0-3, Jumat (22/6/2018) dini hari WIB.

"Saya pikir, keberadaan skuat Argentina menutupi kebrilianan Messi," ucap Jorge Sampaoli dalam konferensi pers usai sabung melawan timnas Kroasia.

"Leo tampil tidak normal karena tim tidak menyatu dengannya seperti yang seharusnya terjadi," kata sang pelatih menambahkan.

Lantas, bagaimana bukti bahwa timnas Argentina dan seorang Lionel Messi tidaklah cocok?

Dilansir BolaSport.com dari laman BBC, Statistik penampilan Lionel Messi dalam langgar kontra timnas Kroasia cukup pertanda bahwa ketidak cocokan dengan timnas Argentina cukup terasa.

Pertama, Jorge Sampaoli menempatkan Lionel Messi sebagai pusat permainan dalam ajang Piala Dunia 2018.

Hampir setiap umpan dan serangan selalu berlabuh kepada Lionel Messi sebagai eksekutor, pun Messi kerap "dibukakan jalan" supaya mampu mencetak gol.

Dalam langgar kontra Kroasia, Lionel Messi karena di jaga ketat. Sang pemain catatkan 49 sentuhan namun hanya dua sentuhan yang beliau terima di kotak penalti lawan.

Kedua, Lionel Messi bahkan harus menunggu hingga babak kedua untuk mendapatkan peluang pertamanya dalam matchday kedua ini.

Tercatat, gres pada menit ke-64 Lionel Messi melepaskan tembakan ke gawang pertama dalam pertandingan.

Itupun, Messi gagal menjebol gawang Kroasia sesudah menerima bola muntah di depan gawang, hasil kolaborasi antara Gonzalo Higuain dan Maximiliano Meza.

Ketiga, Lionel Messi seakan memang tertutupi magisnya dengan "tak beruntung" untuk bisa cetak gol.

Bagaimana tidak, Messi sudah catatkan 12 tembakan ke gawang dalam dua laga pertama timnas Argentina.

Namun, tak satupun berbuah gol untuk Messi. Bahkan, catatan kegagalan tersebut menjadi yang terbanyak sementara ini di Piala Dunia 2018.


sumber : bolasport.com

5 Fakta Yuli Sumpil, Pentolan Aremania Yang Dihentikan Masuk Stadion Seumur Hidup Nomer 4 Bikin Kaget !!

5 Fakta Yuli Sumpil, Pentolan Aremania yang Dilarang Masuk Stadion Seumur Hidup  nomer 4 bikin kaget !

 Dedengkot Aremania, Yuli Sumpil, mendapatkan hukuman berat dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI yang telah resmi dikeluarkan pada Kamis (11/10/18). Bagaimana tidak, Yuli Sumpil tidak boleh hadir dalam pertandingan sepak bola seumur hidupnya.

Sanksi tersebut diberikan alasannya adalah agresi kurang terpujinya yang masuk ke lapangan pada pertandingan panas antara Arema FC vs Persebaya Surabaya. Yuli Sumpil masuk ke dalam lapangan bersama rekannya berjulukan Fandi.




Dirinya bahkan melaksanakan provokasi kepada kiper cadangan Persebaya, Alfonsius Kelvan. Yuli Sumpil mencoba untuk memancing emosi Kelvan dengan menabur uang di atas lapangan.

Yuli Sumpil sendiri memang kerap kali menghiasi pertandingan-pertandingan yang dijalani Arema FC di setiap musimnya. Akan sangat janggal bagi Arema kalau tak melihat sosok Yuli Sumpil di pinggir lapangan.

Kali ini INDOSPORT.com pun mecoba untuk membahas fakta-fakta Yuli Sumpil, suporter yang dihukum seumur hidup tak boleh menyaksikan pertandingan sepak bola.

1. Seorang Dirigen


Selebrasi gol Arema Indonesia, Aremania.
Yuli Sumpil merupakan suporter yang sangat fanatik dengan Arema FC yang juga merupakan seorang dirigen Aremania. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Yuli Sumpil tak pernah lelah berteriak di pinggir lapangan untuk Arema FC.

Dipilihnya Yuli Sumpil sebagai dirigen Aremania nyatanya karena dirinya mampu berkomunikasi dengan baik oleh ribuan Aremania dan kemampuannya membangkitkan semangat para suporter. Ia pun punya nilai plus karena mempunyai penampilan yang cukup nyentrik.

2. Menahan Lagu Rasis


Yuli Sumpil, dirijen Aremania menyerahkan pinjaman hasil dari iuran sukarela Aremania dengan nilai Rp 31 juta
Sebagai seorang dirigen, Yuli Sumpil yaitu orang yang akan memilih lagu mana dan gerakan badan apa yang harus dilakukan Aremania di atas tribun. Yuli Sumpil sempat menyampaikan bahwa dirinya berusaha keras biar tidak ada lagu rasis dikala tabrak berlangsung.

"Kita selalu berusaha tidak menyanyikan lagu berirama rasis. Selama suporter lawan tidak memancing lebih dulu, ya kita tidak membalas," ujar laki-laki yang selalu bangun memimpin suporter dari tribun timur Stadion Kanjuruhan itu.

"Kalau kami fokus saja pada nyanyian untuk mendukung Arema. Tapi, jikalau sahabat-sobat ingin bernyanyi yang sedikit provokatif, itu semata-mata untuk menaikkan tensi pertandingan saja," lanjutnya.

3. Ciptakan Lagu untuk Arema


Aremania mendatangi kantor Arema FC.
Yuli Sumpil juga sempat membuat lagu untuk dinyanyikan Aremania di setiap pertandingan yang dijalani Singo Edan. Lagu tersebut diciptakan khusus untuk menjalani ISL 2015 kemudian.

Lagu tersebut diciptakan biar para pemain, pelatih dan administrasi Arema FC tahu perjuangan para suporter. Karena menurutnya jiwa, harta dan nyawa dikhususkan untuk tim yang bermarkas di Stadion Kanjuruhan tersebut

4. Dinilai Mirip dengan Young Lex


Penampilan Yuli Sumpil nyatanya dinilai mirip dengan penyanyi rap Indonesia, Young Lex. Kemiripan itu hadir sebab keduanya mempunyai sikap yang kontroversial dan kerap kali mengeluarkan kata-kata bergairah dalam setiap aksinya.

Namun, sosok Yuli Sumpil tidak dibenci oleh sejumlah Aremania. Hal tersebut berbanding terbalik dengan agresi Young Lex yang kerap kali dibenci oleh netizen Indonesia.

Kesamaan lainnya yaitu Yuli Sumpil dan Young Lex sama-sama memiliki jiwa seni dalam menciptakan sebuah lagu. Namun bedanya, lagu yang diciptakan Yuli Sumpil tidak diniatkan untuk komersial.

5. Dijadikan Penelitian Skripsi

Sosok Yuli Sumpil nyatanya pernah diteliti oleh salah satu mahasiswa Universitas Kristen Petra Surabaya berjulukan Ayub Dahana. Mahasiswa itu mencoba untuk membahas ‘Kompetensi Komunikasi Yuli Sumpil dalam Memimpin Kelompok Suporter Aremania’, begitu judul skripnya.

Dalam penelitiannya itu, hadir dua faktor mengapa Yuli Sumpil sukses memimpin ribuan Aremania. Pertama, faktor internal mengenai kemampuan Yuli Sumpil mengikuti keadaan, melakukan pembicaraan, mengatur pembicaraan, menawarkan empati, berbicara secara efektif dan mendapat kelayakan.

Kedua, faktor penerimaan/janji dari khalayak tersebut. Sehingga, dalam konteks komunikasi publik yang bersifat informal maka kompetensi komunikasi tidak bisa dilepaskan dari faktor penerimaan oleh publiknya.



BACA SUMBER

Rafael Benitez: Does Newcastle Utd Manager Have St James' Park Future?



After consecutive wins and seven points out of a possible nine, people are finally beginning to believe Rafael Benitez's claims that his Newcastle United side are not going to be relegated.

But even if he does manage to keep them up, will it be enough to ensure he remains at St James' Park?

If he does maintain the momentum and ensures Premier League status, it will be an achievement to rival any of the managerial successes crafted over a long and illustrious career.

Can Benitez's vision be realised at Newcastle?
A victim of his own success by finishing 10th in the Premier League the season after winning promotion, you wonder if it would not have been better, having steered the family saloon to a mid-place finish in football's equivalent of a grand prix, to leave while he was ahead.

Had they beaten a virtually already relegated West Brom at home in their penultimate game of last season they would have finished in an almost unimaginable eighth place. It was a stressful season, and in the summer lots of doubts surfaced about how much the club was going to back the Spaniard's ambitious vision.

The spurious and scurrilous assertions that he only took - and remains in - the job for the money are as outrageous as they are inaccurate. The fact is Benitez was lured to Newcastle with the same dreams and aspirations as just about every single Newcastle fan. He, like they, wanted to wake the "sleeping giant".

For "sleeping", read comatose. Rip van Winkle, who slept for a mere 20 years, is practically an insomniac by comparison. Apart from the Championship and the kind of farce that was the Intertoto Cup, the last piece of silverware to sit in the club's trophy room was the Inter-Cities Fairs Cup from way back in 1969.

He did not come to the club with a plan to merely avoid relegation. He wanted to win, to compete.

And yet in the footballing-mad metropolis that is Tyneside, expectations are high. Unnaturally so, really, with the perception that a top-10 finish ought to be the bare minimum for a club with the facilities and fanbase that they enjoy.

If Benitez had merely been there for the money, he could name his price and leave for China tomorrow. But for the Spanish manager that would mean failure, quitting, and one thing Benitez is not, and never has been, is a quitter.

Ongoing money issues - can Benitez and Ashley find common ground?

It is about money, of course, but not for Benitez himself.

He needs it for the club, and not just on new players but also for much-needed investment in the academy, the lifeblood of the club that in the long term can help to raise it from its slumbers.

Backing on both fronts is conspicuous by its absence and much will depend on whether or not money is spent in the winter transfer window.

If it is not forthcoming then, despite Benitez's claim that Newcastle will survive, there is a very good chance that they will be relegated and that he will be sacked - or even move on.

It would then fall to the owner, Mike Ashley, to explain to the fans just why he had dispensed with the services of a manager who maximised the potential of a side despite having to watch on helplessly as the 'family silver' was sold off around him and replaced, largely, with borrowed or cut-price cutlery.

Relegation to the Championship at the end of 2015-16 led to a flurry of transfer activity and between July and August the club cashed in on quality players, with Moussa Sissoko (Tottenham), Georginio Wijnaldum (Liverpool), Andros Townsend (Crystal Palace), Daryl Janmaat (Watford), Remy Cabella (Marseille) and Papiss Cisse (Shandong Luneng) all leaving.

Cheick Tiote, who died in June 2017, and Fabricio Coloccini were given away presumably to reduce the wage bill.

About £87m worth of talent was sold, with about £57m re-invested on players including Dwight Gayle (Crystal Palace), Matt Ritchie (Bournemouth), Matz Sels (Gent), Grant Hanley (Blackburn Rovers), Ciaran Clark (Aston Villa) and Daryl Murphy (Ipswich). Those were quality players for the sasaran that season - to be promoted.
Despite the loss of quality, Newcastle won the Championship and won promotion alongside Brighton and Huddersfield.

Benitez's reward for gaining promotion and Newcastle's idea of preparing for a life in the Premier League was to have a net spend of about a third of what Huddersfield and Brighton spent in summer 2017. In fact, the net spend of about £20m still put them well in credit on transfer dealing during Rafa's rule and streets behind the vast majority of Premier League clubs.

Ashley's claim that he would "spend every penny generated" on improving the club has - to date - translated into a 2018-19 season in which he has made another net profit on the transfer market of about £7.5m.

What happens in the winter window will define the direction Benitez's relationship with Newcastle takes. The impression local observers have is that he would probably not extend his contract unless they spend and Newcastle say they will not spend unless the manager commits to the club.

It is not a western-style stand-off between Ashley and Benitez, though. It is a matter of vision and the possibility of a project - fundamentally nobody is asking the businessman to change how he runs his business, but also not to alter agreed parameters.

Witnesses at St James' Park have seen the owner enjoying his recent visits to the ground, sharing time with the manager and players. It might be a good time to find common ground.

From Valencia to Real Madrid - Benitez has been here before

Ashley's promises to Benitez on spending to strengthen the side will feel all too familiar - and hollow - to the 58-year-old, who more often than not gets the targets agreed at the start of projects but has to suffer the moving of the goal posts by owners and presidents.

In 2004, and having won two La Liga titles in three seasons with Valencia, he left the club after the board signed winger Fabian Canobbio rather than Samuel Eto'o, the player he had asked for.

"I was hoping for a sofa and they've brought me a lamp," he remarked.

But that was nothing compared to the debacle that awaited him at Liverpool, where the American duo Tom Hicks and George Gillett contrived to steer the club into a perilous position, with administration a possibility before they sold it in 2010.

There were more broken promises about rebuilding and so on at Inter Milan, where he signed and improved players like Philippe Coutinho - one of his great enjoyments - but where he did not get the players he chose and who were agreed with the ownership (Javier Mascherano and Dirk Kuyt).

There followed the universal and unwarranted loathing by almost everyone at Chelsea, despite bringing home the Europa League, before becoming yet another victim of the player power that permeates the Real Madrid dressing room when he took charge at the Bernabeu.

In such company, Newcastle and Ashley must have initially felt to Benitez like a philanthropic breath of fresh air.

Perhaps he should have known better.

A new contract on the table - but will he sign it?

A look at Benitez's statistics reveals an interesting story.

Despite having recorded Newcastle's worst 10-game start to a season since the 19th century, back-to-back wins means they are up to 14th in the table. For the time being at least, they can look upwards.

Tottenham are the only side from the top six to have beaten Benitez's Newcastle by more than two goals (August 2017) and in his past eight Premier League games against the top six he has either won (twice) or lost by a single goal.

All of which means one thing: Newcastle are close but clearly not close enough.

Benitez's contract comes to an end next summer. As it stands he has a renewal offer on the table, but to be signed the club have to show enough commitment with a project that should be around improving facilities and results, not just survival.

Should Salomon Rondon - on a year's loan from West Brom - continue to score for his new club then he may will dig them out of a hole, guarantee survival and once again Ashley will believe his approach has been vindicated. With Gayle having gone in the opposite direction to the Baggies, the two clubs should be able to sit down and work out a deal to suit all parties.

But it will probably take considerably more than that to ensure Benitez will be committing his future to the city that has adopted him as one of their own - and that is a real shame.


SOURCE 

Jumat, 26 Juni 2026

Tertahan Di Mestalla, Barca Turun Dari Singgasana !!

Tertahan di Mestalla, Barca Turun dari Singgasana !!


Barcelona hanya mampu bermain imbang 1-1 masa bertamu ke markas Valencia, Estadio Mestalla dalam lanjutan La Liga 2018-19 jornada 8 yang digelar pada Senin (8/10) dini hari WIB.

Barca bahkan sempat tertinggal lebih dulu sesudah tuan rumah mencetak gol lewat Ezequiel Garay di menit-menit awal. Tim tamu baru bisa menciptakan skor kembali seimbang berkat gol Lionel Messi.

Laga berjalan belum genap dua menit, publik Mestalla sudah bergemuruh menyambut gol untuk Valencia yang dicetak Garay meneruskan sebuah sepak pojok Dani Parejo yang sempat mengenai kepala Gerad Pique.



Tak lama berselang, Valencia hampir saja menggandakan keunggulan mereka andai saja tembakan keras Michy Batshuayi tak digagalkan Marc-Andre Ter Stegen.

Valencia menerima dilema ketika Goncalo Guedes mengalami cedera dan terpaksa ditarik keluar di menit ke-12. Posisinya digantikan Denis Cheryshev.

Barcelona jadinya sukses menyamakan skor di menit ke-23 lewat tembakan khas Messi. Sebelumnya La Pulga melaksanakan kolaborasi satu-dua dengan Luis Suarez.

Valencia memperoleh peluang emas untuk kembali memimpin di menit ke-40. Sayang tembakan Jose Gaya ke tiang jauh masih melebar dari sasaran. Skor 1-1 bertahan hingga turun minum.

Kembali dari kamar ganti, Barcelona masih mendominasi berkelahi dari sisi penguasaan bola. Namun pasukan Ernesto Valverde tetap kesulitan untuk mengacak-acak pertahanan tuan rumah.

Entrenador Valencia, Marcelino Garcia Toral mencoba untuk meningkatkan intensitas serangan timnya dengan memasukkan Rodrigo untuk menggantikan Kevin Gameiro.

Tak ada gol yang berhasil diciptakan kedua tim di sisa langgar. Skor imbang 1-1 pun menjadi hasil simpulan tubruk ini. Hasil ini menciptakan Barcelona terpaksa kehilangan singgasana yang direbut Sevilla. Sementara Valencia masih tertahan di peringkat 13.

Susunan PemainValencia: Neto, Piccini, Garay, Paulista, Gaya, Soler, Parejo, Kondogbia (Coquelin 79'), Guedes (Cheryshev 12'), Gameiro (Rodrigo 67'), Batshuayi.

Barcelona: Ter Stegen; Semedo, Pique, Vermaelen, Jordi Alba; Busquets, Rakitic, Arthur (Rafinha 88'); Messi, Luis Suarez, Coutinho (Dembele 84').



sumber : bola.net

Kamis, 18 Juni 2026

Lupakan Piala Aff 2018, Timnas Indonesia Langsung Menatap Kompetisi Ini, Bisa Juara Nih!

Lupakan Piala AFF 2018, Timnas Indonesia Langsung Menatap Kompetisi ini, Bisa Juara Nih!



 Timnas Indonesia dipastikan gagal melaju ke babak semifinal Piala AFF 2018 meskipun masih menyisakan satu pertandingan lagi. Hal ini tidak terlepas dari hasil imbang yang didapat oleh Filipina pada pertandingan kontra Thailand beberapa waktu yang kemudian.


Kegagalan Timnas Indonesia lolos ke babak semifinal tidak hanya telah menunjukan kalau PSSI tidak becus dalam membina sepakbola Indonesia. Namun juga memunculkan tuntutan agar PSSI segera di reformasi agar prestasi Timnas Indonesia di lalu hari mampu lebih baik lagi.

Pada tahun 2019 mendatang, bahu-membahu Timnas Indonesia sudah dinantikan oleh beberapa kompetisi bergengsi yang mungkin bisa mereka juarai. Dilansir dari laman Indosport.com (23/11/2018) bahwa salah satunya ialah Piala AFF U-22 2019 yang akan dihelat pada awal tahun 2019 mendatang. Kompetisi ini juga menjadi ajang persiapan bagi negara-negara yang tampil di SEA Games 2018 supaya bisa mempersiapkan timnya lebih baik mungkin.


Piala AFF U-22 bukanlah kompetisi gres, sebab beberapa tahun yang lalu kompetisi semacam ini juga pernah digulirkan. Hanya saja, Piala AFF U-22 ini akan menjadi ajang jalan masuk bagi Timnas di level junior untuk mampu membela negara mereka.

Beberapa pelatih ternama di Indonesia mirip Indra Sjafri bahkan sudah diprediksi akan menukangi Timnas Indonesia U-22 ini. Sebab banyak pihak yang menyebut jika Timnas Indonesia U-22 nanti akan banyak dihuni oleh alumni Timnas Indonesia U-19.


Seperti yang kita ketahui bahwa dikala ini, PSSI tengah merencanakan pembentukan Timnas Indonesia yang berkesinambungan, dimana pelatih di timna ingusan akan terus mendampingi pemain yang mereka asuh saat tampil di kompetisi dengan tingkat yang lebih tinggi pada setiap tahunnya.

Lantas bagaimana dengan prediksi anda melihat bahwa Timnas Indonesia akan tampil di Piala AFF U-22 tersebut. Apakah anda yakin Indonesia mampu menjadi juara pada kompetisi kali ini?.


sumber : www.indosport.com

Senin, 15 Juni 2026

Neymar Sudah Kembali Ke Psg

Neymar Sudah Kembali ke PSG
6 Mei 2018

Neymar telah kembali ke PSG selepas mengalami kecederaan. Dia dilihat melaksanakan aktiviti di PSG untuk memulihkan kecergasannya sebelum kembali ke lapangan.

Pemain bintang PSG telah ditarik keluar dari padang hijau semenjak Februari lalu. Permainan terakhir ia akan menghadapi Marseille. Dalam permainan, Neymar mengalami kecederaan.

Jurulatih PSG, Unai Emery, sendiri memberi petunjuk bahawa Neymar akan kembali bermain sebelum musim berakhir. Tetapi dalam apa perlawanan pemain Brazil akan kembali tidak ada akreditasi.

Pasti, Neymar telah kembali ke Perancis selepas beberapa waktu menjalani pemulihan di Brazil. Dia dilihat berlatih di gym di Pusat Latihan Ooredoo untuk memulihkan kecergasannya sebelum kembali bermain.

"Dia kelihatan biasa. Neymar kembali bekerja di Pusat Latihan Ooredoo," kenyataan itu menyampaikan PSG media umum.

PSG sendiri dalam perlawanan terakhir menentang Amiens di Ligue 1 memperoleh seri 2-2. Dalam perlawanan seterusnya, PSG akan bertemu dengan Les Herbiers dalam perlawanan tamat Coupe de Francis.

Jika PSG dapat mengalahkan satu pasukan dari bahagian ketiga di Perancis, maka mereka akan merebut tiga gelaran domestik isu terkini ini. Selepas itu, PSG akan bermain di Ligue 1 sekali lagi menghadapi Rennes dan Caen.

Sementara itu, Neymar juga berharap mampu pulih tidak lama lagi dan kembali bermain. Sebabnya, Brazil akan menjalani perlawanan sulung di Piala Dunia 2018 ke Switzerland pada 17 Jun tempatan.

sumber: bola.net

Minggu, 14 Juni 2026

Bola Liga Indonesia Edy Rahmayadi: Saya Mundur Dari Pssi Sebab Bertanggung Jawab


Home Bola Liga Indonesia Edy Rahmayadi: Saya Mundur dari PSSI alasannya adalah Bertanggung Jawab

KOMPAS.com - Edy Rahmayadi telah menyatakan mundur sebagai Ketua Umum PSSI pada Minggu (20/1/2019). Hal tersebut beliau nyatakan dalam Kongres PSSI yang tengah berlangsung di Bali, tepatnya di Sofitel Bali Nusa Dua Beach Resort, Bali. Terkait pengunduran dirinya itu, Edy menyatakan bahwa ia mundur karena bertanggung jawab dan tak ingin mengkhianati PSSI. "Saya nyatakan hari ini saya mundur dari ketua. Dengan syarat, jangan khianati PSSI ini," kata Edy dikutip dari Tribun Bali. "Jangan sebab satu hal lain terus kita bercokol merusak rumah besar ini. Saya mundur bukan karena saya tidak bertanggung jawab, tetapi alasannya saya bertanggung jawab," ucap Edy dalam pidatonya.

Sebelumnya, Edy Rahmayadi terpilih sebagai Ketua Umum PSSI masa 2016-2020 dalam Kongres PSSI yang digelar di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Kamis (10/11/2016).  Saat itu, Edy mengalahkan kandidat lainnya, yakni Bernhard Limbong, Kurniawan Dwi Yulianto, Eddy Rumpoko, Moeldoko, dan Sarman.  Kemudian, Edy memenangi Pemilihan Gubernur Sumatera Utara pada 2018 lalu. Dia pun menjabat sebagai Gubernur Sumut, sekaligus Ketua Umum PSSI. Kini, Edy telah menyatakan mundur sebagai Ketua Umum PSSI.



sumber : bola.kompas.com

Rabu, 27 Mei 2026

Lionel Messi Sengaja Bermain Jelek Di Piala Dunia 2018?

top news !!! Lionel Messi Sengaja Bermain Jelek di Piala Dunia 2018?

Lionel Messi masih belum terbebas dari sorotan tajam usai kekalahan 0-3 tim nasional Argentina saat menghadapi timnas Kroasia pada Jumat (22/6/2018).


Kapten timnas Argentina tersebut kembali gagal mencetak gol sehabis urung menyarangkan bola pada langgar pertama fase grup melawan timnas Islandia.

Kini Lionel Messi disebut sebagai biang keladi kegagalan Argentina tersebut.

Pelatih asal Argentina, Ricardo Caruso Lombardi, menilai bahwa Messi memang sengaja bermain buruk pada dua sabung awal Piala Dunia 2018.

"Messi telah menghancurkan tujuh instruktur. Saya merasa bahwa beliau sengaja bermain buruk agar Jorge Sampaoli dikritik pedas," kata Lombardi mirip dilansir BolaSport.com dari Marca.

Tanpa ampun, Lombardi bahkan menasihati Argentina untuk bertindak tegas terhadap Messi.

"Argentina harus mengeluarkan Messi sebab dia sama sekali tak peduli. Ia bermain di luar kode pelatih," kata Lombardi.

"Dia selalu ingin dikelilingi oleh para pemain yang beliau sukai saja, tetapi bukan nama-nama terbaik," ucap Lombardi menambahkan.

Messi sebetulnya menjadi sosok sentral dalam kelolosan Argentina ke putaran grup Piala Dunia 2018.

Ia mencetak hat-trick ke gawang Ekuador di tubruk terakhir Kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Amerika Selatan atau Conmebol.

Namun penampilan Messi di Piala Dunia 2018 justru antiklimaks dengan belum mencetak gol sama sekali.

Hal ini menciptakan pasukan Jorge Sampaoli gres mampu mengoleksi satu poin dari sepasang adu yang telah dimainkan di Rusia 2018.


sumber : bolasport.com

Minggu, 17 Mei 2026

Netizen Indonesia Meradang Di Akun Resmi Afc Usai Timnas Singapura Taklukan Mongolia, Ini Karena

Netizen Indonesia Meradang !! di Akun Resmi AFC Usai Timnas Singapura Taklukan Mongolia, Ini Alasannya

 Timnas Singapura gres saja menyelesaikan laga uji coba menghadapi timnas Mongolia di Stadion Bishan pada Jumat (12/10/2018)

Menjamu Mongolia, timnas Singapura berhasil menaklukan sang tamu.
Dalam adu tersebut, timnas Singapura menaklukan Mongolia dengan skor 2-0.



Namun, usai kemenangan timnas Singapura tersebut, netizen Indonesia justru kedapatan meradang di akun resmi federasi sepak bola Asia (AFC).

Netizen Indonesia kedapatan melontarkan banyak komentar bernada pedas di akun tersebut.

Ternyata alasan di balik meradangnya para netizen Indonesia karena AFC mengunggah hasil kemenangan timnas Singapura tapi tidak mengunggah hasil timnas Indonesia pada Rabu (10/10/2018) kemudian.

"Indonesia 3-0 Myanmar tak diunggah, kenapa?" tulis akun @yudhiansyah12.

"Woy min, Indonesia vs Myanmar mana @theafchub," tulis akun @pajarifkymuhammad___.

"Indo gak di infoin?" tulis akun @haniffkhusnaa_.

"Indonesia mana yang lawan myanmar?" tulis akun @iamsyahroni23.

"Kemaren indonesia menang atas mnyanmar kok gak di post," tulis akun @muhamdherry.

"Where is indonesia result dude?" tulis akun @said.iskandar.

"Indonesia 3-0 Myanmar kok kagak di post, adminnya....," tulis akun @doniipratamaaa_.

Kala itu, timnas Indonesia juga melakukan berkelahi uji coba internasional menghadapi timnas Myanmar.

Indonesia berhasil menang 3-0, namun hasil pertandingan itu tak diberitakan oleh AFC di akun resminya.




sumber : bolasport.com

Senin, 11 Mei 2026

Takluk Dari Korsel !!! Timnas Indonesia U-23 Tanpa Kemenangan Di 6 Sabung

Takluk dari Korsel !!! Timnas Indonesia U-23 Tanpa Kemenangan di 6 Laga

Cibinong - Timnas Indonesia U-23 kembali menelan hasil buruk pada uji coba menuju Asian Games 2018. Melawan Korea Selatan di Stadion Pakansari, Cibinong, Sabtu (23/6/2018), Indonesia mengalah 1-2.

Hasil ini melanjutkan tren jelek Timnas Indonesia U-23 dalam berkelahi uji coba. Tercatat, sudah enam laga uji coba yang mereka lewati tanpa kemenangan. Sebelumnya, mereka kalah 0-1 dari Bahrain, 0-0 kontra Korea Utara, 0-0 kontra Uzbekistan, 1-2 dari Thailand, dan 0-0 melawan Thailand.

Sebagai tuan rumah, Indonesia lebih dulu mengambil inisiatif serangan. Lewat kecepatan para pemain sayap mirip Febri Hariyadi dan Riko Simanjuntak, mereka mencoba menusur pertahanan Korsel.

Septian David Maulana memiliki peluang emas di menit keenam. Menerima umpan terobosan dan lolos jebakan offside, beliau mendapatkan ruang tembak di dalam kotak penalti. Sayang, arah tendangannya masih jauh dari target.

Tempo permainan cepat yang diperagakan Garuda Muda hingga menit ke-10 mampu diladeni Korsel. Meski lebih mengandalkan serangan balik, tim Negeri Gingseng itu mampu mengimbangi kecepatan para pemain Indonesia.

Serangan seporadis sempat dilancarkan tuan rumah di menit ke-12. Berawal dari skema serangan balik, Riko Simanjuntak sempat merebut bola dari kaki pemain Korsel. Sayang, serangan tersebut diakhiri dengan tendangan spekulasi Nelson Alom yang tak mengenai target.

Di menit ke-12, Korsel sempat mengancam pertahanan anak latih Luis Milla itu. Lee Keun Ho melepaskan tendangan keras dari luar kotak penalti yang masih melenceng tipis di sisi kanan gawang Indonesia kawalan Muhammad Ridho.

Memasuki menit ke-20, Korsel gantian mengambil alih kendali permainan. Tim asuhan Kim Hag Bum itu dengan leluasa memainkan bola dari kaki ke kaki. Setiap serangan yang mereka bangkit, gawang Indonesia selalu terancam.

Hingga memasuki menit ke-30, Alberto Goncalves sebagai penyerang tunggal Indonesia pun masih minim menerima peluang. Tak ada pasokan umpan matang yang tiba dari lini kedua seperti Febri, Riko, dan Septian David.

Di menit ke-35, peluang emas balasannya didapat Beto. Riko mengirimkan umpan silang mendatar yang cukup matang. Sayang, Beto gagal mendapatkan momen yang tepat untuk melakukan sontekan pada bola.

Di menit ke-40, giliran Korsel yang memiliki peluang emas lewat serangan balik. Beruntung, tendangan Lee Jinhyun masih melammbung jauh di atas mistar gawang Muhammad Ridho. Tiga menit lalu, Korsel kesudahannya mencetak gol. Dari situasi sepak pojok, Jeong Taewook mencetak gol lewat tandukan. Babak pertama ditutup dengan keunggulan 1-0 tim tamu.

Babak Kedua

Luis Milla melaksanakan beberapa perubahan di babak kedua. Di antaranya adalah memasukkan Osvaldo Haay dan Stefano Lilipaly. Masuknya dua pemain itu menciptakan serangan Indonesia jauh lebih terorganisasi.

Di menit ke-54, Indonesia pun menerima peluang lewat kerja sama apik dengan Beto. Namun, tendangan mendatar yang dilepaskan Febri masih mudah diamankan kiper Korsel, Kang Hyeonmu.

Peluang lebih terbuka didapat Beto di menit ke-57. Mendapat operan dari Putu Gede Juni Antara, penyerang Sriwijaya FC itu gagal menanduk bola ke arah gawang Korsel.

Permainan Indonesia di babak kedua tak jauh berbeda jika dibandingkan dengan babak pertama. Tempo permainan cepat masih mereka peragakan, tapi sulit bagi Beto dan mitra-mitra untuk memaksimalkan setiap serangan.

Salah satunya yakni peluang yang didapat Osvaldo di menit ke-69. Menerima umpan Beto dari sisi kanan pertahanan Korsel, Osvaldo yang berada di depan gawang gagal mengarahkan bola ke posisi yang sempurna. Sontekannya malah melenceng ke sisi kanan gawang.

Di menit ke-77, giliran Febri yang menerima peluang emas. Mengecoh satu pemain, Febri menggiring bola hingga berhadapan eksklusif dengan kiper Korsel. Namun, tendangannya malah mengenai kaki kiper Korsel dan melenceng dari gawang.

Upaya tuan rumah akibatnya menuai hasil di menit ke-90+3. Serangan bertubi-tubi Indonesia diakhiri dengan sundulan Hansamu Yama Pranata yang gagal diantisipasi kiper Korsel.

Sayang, Indonesia justru sedikit lengah di menit-menit simpulan. Berawal dari situasi bola mati, bola liar tepisan Awan Setho dilanjutkan Han Seunggyu untuk mencetak gol kemenangan Korsel dari luar kotak penalti.

Susunan Pemain

Indonesia: Muhammad Ridho; Putu Gede Juni Antara, Ricky Fajrin, Hansamu Yamaha Pranata, Rezaldi Hehanusa, Muhammad Hargianto, Nelson Alom, Febri Hariyadi, Riko Simanjuntak, Septian David Maulana, Alberto Goncalves

Pelatih: Luis Milla

Korsel: Kang Hyeonmu; Jeong Taewook, Lee Siyoung, Kim Jinya, Hwang Hyunsoo, Kim Geonung, Lee Jinhyun, Kim Hyeonug, Lee Donggyeong, Kim Jungmin, Lee Keun Ho

Pelatih: Kim Hag Bum

sumber : liputan6.com