Sabtu, 11 November 2017

Lukaku Jadi Korban Rasial Pendukung Cagliari

Cagliari - Penyerang klub Inter Milan, Romelu lukaku, mengalami perlakuan tak mengenakkan ketika bertandang ke Cagliari pada langgar pekan kedua Serie A, Minggu (1/9/2019). Lukaku menjadi salah satu sasaran ejekan rasial oleh pendukung Cagliari.

 mengalami perlakuan tak mengenakkan ketika bertandang ke Cagliari pada laga pekan kedua S Lukaku Jadi Korban Rasial Pendukung Cagliari

Menjalani pertandingan di Sardegna Arena, penyerang Timnas Belgia tersebut bermain semenjak dari menit awal. Dia pun berhasil mencetak gol pada menit ke-72 .

Akan tetapi, saat ia hendak mau mengeksekusi bola pinalti, Lukaku menjadi target ejekan oleh fans Cagliari. Seperti dilansir Sky Sports, suporter tuan rumah melontarkan kata -kata simpanse ke arah mantan penyerang Manchester United (Romelu Lukaku) tersebut.

Lukaku pun kembali membalas hinaan tersebut dengan mencetak gol dan melaksanakan selebrasi dengan menatap ke arah tribune suporter Cagliari. Namun sayangnya, aksi mengejek tersebut terus dilakukan oleh para pendukung tuan rumah setelah Romelu Lukaku melalukan tendangan penalti.

Beruntung, ajukan tersebut tidak menciptakan Lukaku Kehilangan konsentrasi. Dia pun berhasil membawa Inter Milan meraih kemenangan 2-1 atas Cagliari.

Romelu Lukaku bukanlah korban pertama yang mendapatkan ejekan rasial dari para suporter Cagliari. Namun sebelumnya, Moise Kean dan Blaise Matuidi juga menerima perlakuan syang sama ketika Juventus bertandang ke markas Cagliari pada April kemudian.

 mengalami perlakuan tak mengenakkan ketika bertandang ke Cagliari pada laga pekan kedua S Lukaku Jadi Korban Rasial Pendukung Cagliari

Komisi Displin Serie A kemudian melakukan penyelidikan atas perlakuan rasial tersebut. Akan tetapi, Cagliari tidak menerima hukuman apapun terkait dengan agresi tak terpuji yang dilakukan oleh para suporternya.


Sumber: Sky Sports



Jumat, 10 November 2017

Ditawar Persija, Bintang Ini Pilih Gabung Persib Bandung

Masa depan bek kanan Sriwijaya FC, yaitu Marckho Sandy masih belum terperinci. Setelah memastikan tak akan melanjutkan karir bersama Laskar Wong Kito pada putaran kedua Liga 1 Gojek Traveloka 2018, Marckho belum menetapkan akan bergabung dengan tim lain. Meskipun demikian, Marckho Sandy masih berstatus sebagai pemain Sriwijaya FC lantaran ia tak termasuk dalam pemain yang dilepas, seperti dilansir dari bolasport.com (18/07/2018).

Semantara, dengan keputusan Marckho untuk hijrah, nama Persija Jakarta santer menjadi tujuan kepindahan Marckho. Tetapi, gres-gres ini lewat agennya, Marchko enggan bergabung dengan Macan Kemayoran dan lebih menentukan untuk gabung Persib Bandung. Arif Anwar (distributor Marckho) menyampaikan, "Dia sendiri yang mau (mengundurkan diri), memang ada beberapa tim lain yang menawari Marco, tapi dia inginnya ke Persib", mirip dilansir dari tribunnews.com (18/07/2018).

Sumber::
UCnews.com
tribunnews.com

Senin, 06 November 2017

Minggu, 05 November 2017

Preview Simpulan Champion 2013 Bayern Munich Vs Dortmund

"Terima kasih karena telah membuat permainan yang kami cintai". Demikian kata-kata yang tertera di salah satu billboard Borussia Dortmund yang ditujukan pada publik Inggris.


Ya, malam nanti salah satu stadion legendaris Inggris, Wembley, akan mengasuh salah satu partai simpulan terakbar ekspresi dominan ini: Bayern Muenchen vs Borussia Dortmund. Sedikit ironis memang. Di saat salah satu asosiasi sepakbola tertua di dunia, FA, merayakan 150 tahun ulang tahunnya, mereka terpaksa hanya jadi host yang baik. Di hadapan publiknya sendiri, Inggris harus mengasuh simpulan untuk dua tim dari salah satu rival terbesarnya, Jerman.


Namun ironi Inggris yang tak mampu berpesta di kandangnya sendiri sepatutnya tidak mengurangi fokus pada Bayern dan Dortmund, kedua tim terbaik di Eropa saat ini. Dengan mengusung teladan bermain yang berbeda, keduanya bisa mematahkan dua raksasa asal Spanyol, Real Madrid dan Barcelona. Bayern menggulung Barcelona dengan aggregat 7-0, sementara Dortmund menghempaskan Real Madrid melalui agregat 4-3. Partai penuh gengsi El Classico pun hasilnya tak tercipta di Wembley dan berganti dengan Der Klassiker.
Bagi Bayern dan Borussia sendiri, Der Klassiker di akhir ini seakan jadi puncak persaingan keduanya yang muncul dalam 3 tahun terakhir. Kebangkitan Dortmund dari problem finansial (ditandai dengan juara Bundesliga dua tahun berturut-turut) kemudian dijawab oleh Bayern di trend ini dengan membuat salah satu tim terbaik di Jerman sepanjang masa. Berbagai rekor kemudian dipecahkan oleh Heynckes dan belum dewasa asuhnya di Bundesliga, mulai dari kebobolan paling sedikit sampai rentetan kemenangan terbanyak.


Sebagai raksasa sepak bola Jerman dan Eropa, tentu Bayern tak ingin panggungnya dicuri terus menerus oleh Borussia, tim yang sekarang populer dan disukai banyak fans lain.
Menilik sejarah pertemuan mereka di tahun-tahun terakhir, bisa dikatakan Dortmund memiliki keunggulan. Dari 9 kali bertemu di tiga tahun terakhir, mereka bisa mengalahkan Bayern 5 kali. Sementara Bayern hanya pernah 2 kali menang atas Robert Lewandowski dan mitra mitra.


Namun, dua kali kemenangan FC Hollywood ini datang dalam 4 pertemuan terakhir (dua lainnya berakhir imbang). Ini mampu diartikan dua hal, yakni Bayern yang mulai mengejar Dortmund dalam kualitas permainan, atau Jupp Heynckes yang mulai hafal dengan strategi Juergen Klopp. Secara taktikal sendiri, ada tiga hal menarik yang mampu diamati dari pertemuan kedua tim ini.


Penguasaan Bola vs Transisi
Meski mampu menguasai Bundesliga dalam tiga tahun terakhir, baik Bayern dan Dortmund melakukannya dengan cara berbeda.
Di bawah isyarat Klopp, Dortmund jadi tim yang sangat berilmu menggunakan momen transisi dari bertahan ke menyerang secara cepat untuk menghabisi lawan. Di awal-awal kebangkitan Borussia di lapangan hijau, mereka memang acap kali bertahan secara dalam kemudian menyerang dengan energi penuh lewat serangan balik. Bahkan, ketika mengalahkan Bayern 2-0 pada Oktober 2010, pertemuan pertama di 3 tahun terakhir, Bayern hingga memiliki penguasaan bola hingga 65%.


Dengan melepaskan ball-possesion, Dportmund lebih memilih untuk menguasai zona. Ini juga diakui oleh Klopp yang memodelkan timnya (salah satunya) dari Arrigo Sacchi dan AC Milan di awal 90-an. Klopp akan mengisi latihan timnya dengan sesi "mengendalikan ruang" dan memposisikan pemainnya untuk mensugesti lawan, meski tanpa bola. Melalui sesi shadow play, Klopp pun mengajarkan timnya untuk memanfaatkan koordinasi dan waktu sebaik mungkin.


"Sebelumnya, kami hanya berlari mengejar lawan hingga capai. Namun, dengan memanfaatkan zona, aku berguru caranya membangun permainan dan tak hanya menghancurkannya," ucap Klopp pada La Gazetta dello Sport mengenai cara bermain Dortmund.


Ini berbeda dengan gaya yang dimanikan oleh Bayern di bawahHeynckes. Secara aktif, Bayern berusaha menguasai dan merebut bola dari kaki lawan. Karena itu tak heran di UCL ini Bayern mempunyai ball possesionsampai 54,2% per game, sementara Borussia hanya 44,9%. Tak jadi keanehan juga kalau Bayern jadi tim yang paling bergairah, dan telah mengoleksi 28 kartu kuning, dan BVB hanya menerima 13.


Kedua pemain sayap, Franck Ribery dan Arjen Robben, yang semula populer egois dan tak pernah membantu pertahanan, pun sekarang aktif turun-naik dan membantu David Alaba dan Philipp Lahm dalam menahan gempuran dari sayap lawan.


Sebagaimana Barcelona yang memakai penguasaan bola sebagai salah satu cara bertahan, Bayern pun mempunyai prinsip yang sama. Dengan menguasai ball-possesion, Bayern merebut kesempatan lawannya untuk menyerang. Ini terbukti dengan Bayern yang hanya memperlihatkan lawannya rata-rata 9,2 kali percobaan ke arah gawang dalam satu pertandingan, tertinggi diantara tim-tim lainnya yang bermain sampai minimal perempat tamat.


4-2-3-1
Mengandalkan gaya bermain yang berbeda, baik Bayern dan Dortmund sama-sama memakai gugusan 4-2-3-1 saat bermain. Ini bahu-membahu mencerminkan tren yang sedang melanda Bundesliga dalam 5 tahun terakhir.


Hingga 2008, tim-tim Jerman acapkali menggunakan formasi 4-4-2 ala Jerman yang mengandalkan serangan melalui sayap. Namun, pada 2011, telah ada lebih dari 10 tim yang lebih memilih gugusan 4-2-3-1. Tren ini pun diikuti dengan kencenderungan untuk memposisikan dua pemain tengah yang sama baiknya dalam bertahan maupun mengalirkan bola, ketimbang memasangkan satu hard-defensive midfielder dan satu playmaker.


Merebaknya tren ini sedikit banyak dipengaruhi oleh tiga instruktur: Klopp, Joachim Loew, dan Lous Van Gaal ketika menangani Die Roten.


Kala itu, Klopp sempat mengubah tugas Nuri Sahin dari seorang attacking midfielder menjadi pemain tengah yang berduet dengan Tinga di lini tengah. Sementara itu, di timnas Jerman Loew mulai memasangkan Michael Ballack dan Simon Rolfes di tengah untuk menopang Mesut Oezil sebagai pembagi bola di area sepertiga lapangan tamat.


Kemunculan Bastian Schweinsteiger sebagai salah satu pemain tengah terbaik di dunia pun patutnya diatributkan pada perubahan gugusan ini. Kala itu, Van Gaal menarik Schweini dari sayap dan memasangkannya dengan Van Bommel sebagai double-pivot. Schweini yang memang tidak mempunyai kecepatan untuk bermain di posisi sayap, atau sebagai playmaker di depan, kemudian seakan berubah menjadi jadi pemain baru dengan tugas barunya di tengah.


Menurut salah seorang jurnalis terkemuka asal Jerman, Uli Hesse, tren ini bergotong-royong berpihak pada jenis sepak bola cantik, atau sepak bola menyerang yang beresiko. Ini dikarenakan 4-2-3-1 juga disertai dengan adanya kebutuhan untuk melakukan pressing tinggi di kawasan pertahanan lawan yang secara fisik dan mental akan menghabiskan energi pemain.


Namun, bagi pecinta sepakbola yang sedang menanti partai akhir malam nanti, kedua tim yang mengusung permainan menyerang tentu akan jadi satu hal yang dinanti-nantikan.


Defensive Forward
Selain alasannya formasi 4-2-3-1, benang merah antara Bayern dan Dortmund terletak pada penggunaan seorang ujung tombak yang juga fasih dalam bertahan, atau lebih dikenal dengan defensive forward. Dalam hal ini, Bayern menggunakan Mario Mandzukic sementara Dortmund memiliki Lewandowski.


Selain sebab kemampuan dalam menjebol gawang lawan, keduanya memang acap dipuji alasannya kerja keras mereka dalam membantu bertahan. Ini, misalnya, terlihat dari jarak yang di-cover oleh Lewandowski dan Mandzukic di Liga Champions.


Bermain selama 630 menit, Mandzukic telah "menempuh" jarak sejauh 76,5 km, atau rataan 10,9 km/pertandingan. Sementara Lewandowski lebih unggul dengan rataan 11,1 km/pertandingan, atau total 123,1 km dalam 1.000 menit permainan.


Namun, satu data yang menunjukkan bagaimana baik Lewandowski maupun Mandzukic acap kali membantu dengan defensive action-nya, yakni jumlah pelanggaran yang dilakukan kedua tim. Sejauh ini, Lewandowski telah mencetak 25 kali foul, lebih banyak dari kedua pemain tengah Dortmund, yakni Bender (15 kali foul), dan Guendogan (7). Sementara itu Mandzukic juga telah melaksanakan 25 pelanggaran, padahal Martinez hanya 22 kali dan Schweisnteiger 13 kali.


Selain dengan defensive action, kedua striker yang apik mengontrol bola dengan kondisi membelakangi gawang pun fasih melaksanakan pressing terhadap center-back, atau menarik keluar bek lawan dengan bergerak melebar. Keduanya memang bukan bertipe poacher yang lebih sering menunggu bola di kotak penalti.


Satu hal yang bisa jadi catatan ialah, bila mengembalikan khitah seorang striker untuk mencetak gol, Lewandowski terang lebih unggul dibanding Mandzukic. Sepanjang penyelenggaraan Liga Champion isu terkini ini, beliau telah mencetak 10 gol dan 2 assist. Sementara itu, Mandzukic hanya berkontribusi 2 gol dan 1 assistdalam 9 pertandingan. Empat gol yang dicetak Lewandowski ke gawang Real Madrid juga jadi salah satu penampilan individual paling baik di kompetisi demam isu ini.


Perkiraan susunan pemain:

Borussia Dortmund: Weidenfeller; Schmelzer, Subotic, Hummels, Piszcek; Bender, Gundogan; Grosskreutz, Reus, Blaszczykowski; Lewandowski.

Bayern Muenchen: Neuer; Lahm, Boateng, Dante, Alaba; Schweinsteiger, Martinez; Robben, Muller, Ribery; Mandzukic

Sumber

Kamis, 02 November 2017

Gosip Isl : Persela 1-1 Persija

Persija bisa mencuri poin dari Persela dalam lanjutan Indonesia Super League (ISL) 2012/13. Bermain di Stadion Surajaya, Lamongan, Minggu (16/6), Persija menahan imbang tuan rumah Persela dengan skor 1-1.

Bolarius

Minggu, 29 Oktober 2017

Romeu Lukaku Pilih Bertahan Di Chelsea


Penyerang muda Chelsea, Romelu Lukaku menyatakan hasratnya untuk bertahan di Stamford Bridge. Pemain yang diboyong dari Anderlecht dua demam isu lalu itu memang jarang mendapat kesempatan bermain, demam isu kemudian pun dirinya dipinjamkan ke West Bromwich Albion untuk menimba pengalaman.


Bolarius

Kamis, 26 Oktober 2017

Neymar Grogi Bergabung Dengan Barca

Penyerang asal Brasil, Neymar, mengaku merasa grogi juga bergabung dengan Barcelona. Apalagi, ini kali pertama ia akan ke Eropa dan bergabung dengan klub besar yang mempunyai banyak pemain besar.

Hal itu dikatakan Neymar seusai acara jugling di Rio De Janiero, Selasa atau Rabu (29/5/2013) pagi WIB. Neymar gres pergi ke Barcelona setelah memperkuat timnas Brasil di Piala Konfederasi yang akan digelar di enam kota di negaranya, Juni nanti.

"Apa yang aku rasakan adalah masbodoh di perut," kata Neymar soal rencananya akan bermain bersama klub berjuluk Blaugrana.

Meski begitu, beliau tetap fokus membela Brasil di Piala Konfederasi. Rasa grogi dan penasaran bermain dengan Barca, katanya, tak akan memengaruhi permainannya bersama timnas.

"Sekarang aku fokus ke Piala Konfederasi. Itu yang paling penting, berusaha membawa Brasil memenangkan kompetisi ini," ungkapnya.

Neymar akan terbang ke Barcelona pekan depan untuk diperkenalkan sebagai pemain baru Barcelona. Setelah itu, ia akan kembali ke Brasil untuk bergabung dengan timnas.

Sumber

Rabu, 18 Oktober 2017

Alfred Riedl Pantas Kembali Untuk Timnas

Penunjukkan La Nyalla Mahmud Mattalitti sebagai Ketua Badan Tim Nasional yang baru memunculkan spekulasi tentang bakal berubahnya bangku instruktur tim nasional Indonesia. Sosok Luis Manuel Blanco yang ditunjukkan oleh Ketua BTN usang, Isran Noor, sebagai instruktur tim nasional, diyakini akan segera tergusur.

“Blanco itu siapa. Ini instruktur tidak memiliki rekam jejak yang terang di dunia. Pelatih ini juga sudah membuat perpecahan di tim nasional dan tidak mengerti perihal kondisi sepak bola Indonesia. Saya pikir ia tidak layak untuk dipertahankan menjadi instruktur tim nasional,” tutur Andi Darussalam Tabusalla, mantan manajer tim nasional Indonesia selama 2005 sampai 2011.

Sebagai gantinya Andi Darussalam Tabusalla justru menunjuk instruktur usang timnas Alfred Riedl, untuk kembali menangani tim Garuda. “Riedl sosok yang tepat. Dia sudah mengerti kondisi sepak bola Indonesia, mengerti materi terbaik yang ada di Indonesia dan yang lebih penting mengenal aksara pemain Indonesia dan persaingan sepak bola di Asia,” ungkap Andi Darussalam Tabusalla.

Menurut Andi Darussalam Tabusalla yang juga kakak sepupu dari La Nyalla Mahmud Mattalitti tersebut, Alfred Riedl juga dinilai sebagai instruktur yang berprestasi dan  mampu membangkitkan gairah tim nasional. “Saya menilai Alfred Riedl akan sangat cocok kalau dia kembali ditugasi memimpin tim nasional Indonesia,” kata Andi Darussalam Tabusalla.

“Blanco itu siapa. Ini instruktur tidak mempunyai rekam jejak yang terperinci di dunia. Pelatih ini juga sudah membuat perpecahan di tim nasional dan tidak mengerti ihwal kondisi sepak bola Indonesia. Saya pikir ia tidak layak untuk dipertahankan menjadi pelatih tim nasional,” tutur Andi Darussalam Tabusalla, mantan manajer tim nasional Indonesia selama 2005 hingga 2011.

Sebagai gantinya Andi Darussalam Tabusalla justru menunjuk instruktur lama timnas Alfred Riedl, untuk kembali menangani tim Garuda. “Riedl sosok yang sempurna. Dia sudah mengerti kondisi sepak bola Indonesia, mengerti materi terbaik yang ada di Indonesia dan yang lebih penting mengenal abjad pemain Indonesia dan persaingan sepak bola di Asia,” ungkap Andi Darussalam Tabusalla.

Menurut Andi Darussalam Tabusalla yang juga abang sepupu dari La Nyalla Mahmud Mattalitti tersebut, Alfred Riedl juga dinilai sebagai instruktur yang berprestasi dan  mampu membangkitkan gairah tim nasional. “Saya menilai Alfred Riedl akan sangat cocok bila ia kembali ditugasi memimpin tim nasional Indonesia,” kata Andi Darussalam Tabusalla.

Bagaimana berdasarkan Anda teman? Apakah Alfred Riedl pantas kembali menjadi instruktur Timnas Indonesia?

Sumber

Minggu, 15 Oktober 2017

Liverpool Kalah Dengan Skor 0-2 Dari Napoli Pada Matchday-1 Grup E Liga Champions

Liverpool kalah dari Napoli dengan skor 0-2 pada Matchday-1 Grup E Liga Champions yang berlangsung di San Paolo. Gol Napoli pada tubruk tersebut disumbangkan oleh Dries Mertens dan Fernando Llorente.


Begitu tabrak dimulai, permainan menyerang eksklusif mulai oleh Napoli dan Liverpool. Baru dua menit laga berjalan, Mohamed Salah hampir menjebol gawang Napoli namun bisa dihalaun Kalidou Koulibaly.

Di menit ke-7, Napoli langsung membobol gawang Liverpool melalui tandukan Hirving Lozano. Namun, gol tersebut diberi peringatan oleh wasit karena Lozano sedang dalam posisi offside dikala menanduk bola umpan tendangan dari Fabian Ruiz.

Sadio Mane berpeluang membawa Liverpool unggul di menit ke-21. Namun, tendangan Sdio Mane tersebut dari jarak akrab sempat bisa dihalau oleh Alex Meret kiper Napoli.

Liverpool dan Napoli terus saling menyerang dengan seerangan yang sengit. Namun, sampai jeda, tidak ada satu gol pun yang bisa dicetak oleh kedua tim tersebut.

Napoli dan Liverpool kembali bermain menyerang di babak kedua. Salah dan Mane hampir mencetak gol untuk Liverpool. Namun, upaya keduanya tersebut bisa digagalkan oleh kiper Meret (kiper Napoli) yang tampil gemilang.

Di menit ke-82, Napoli mendapat hadiah penalti sehabis Jose Callejon dijatuhkan oleh Andre Robertson di kotak pinalti. Mertens yang di percayakan untuk mengeksekusi penalti tersebut sukses dengan Skor 1-0.

Memasuki menit ke-90, pemain pengganti Fernando Llorente menjiplak skor. Gol ini tercipta berkat kesalahan pemain belakang Liverpool sehingga bola bisa direbut Llorente untuk menjebolkan gawang yang di jaga oleh kiper Adrian (Napoli). Dan lagu pun berakhir dengan scor 2-0.

Napoli: A. Meret, K. Manolas, 6 Mario Rui, K. Koulibaly, G. Di Lorenzo, Allan (E. Elmas, 75), Fabian Ruiz, D. Mertens, Jose Callejon, L. Insigne (P. Zielinski, 66), H. Lozano (Llorente, 69)

Liverpool: Adrian, J. Matip, V. van Dijk, A. Robertson, T. Alexander-Arnold, J. Milner (G. Wijnaldum, 66), J. Henderson (X. Shaqiri, 87), Fabinho, Roberto Firmino, Mohamed Salah, Sadio  Mane

Rabu, 11 Oktober 2017

Kenapa Luis Milla Tempatkan Febri Dikiri Bukan Dikanan? Ini Alasannya Ternyata, Ahli!

Halo Guys, kembali lagi kita akan membahas salah satu pemain muda berbakat milik Persib Bandung yang sedang berjuang membela Indonesia U-23 di ajang Asian Games 2018.

Kenapa kita bahas Febri Hariyadi lagi, bukan pemain yang lainnya mirip Saddil Ramdani atau Irfan Jaya? jawabannya gampang, alasannya adalah nama Febri Hariyadi selalu menjadi buah bibir Netizen, baik dikala dirinya bermain manis namun begitupun saat dirinya bermain jelek.

Kali ini yang kita bahas ialah soal posisi Febri Hariyadi, banyak yang tidak sadar kenapa posisi pemain Persib itu dikiri bukan dikanan? Mungkin kalian merasa bila Febri seorang kidal, makanya posisinya ada dikiri, ternyata jawabannya salah.

Jika Febri Hariyadi seorang kidal, seharusnya dia ditempatkan di posisi kanan,karena ini akan memudahkan dirinya untuk melakukan bacokan ke kotak penalti, ataupun melakukan tendangan shot on sasaran keras ke arah gawang lawan dengan kaki kirinya.

Banyak loh pemain-pemain kidal Dunia yang berposisi di kanan, contohnya Gareth Bale, Lionel Messi dan pemain lainnya. Mereka bermain cukup anggun loh saat bermain di kanan, karena memudahkan mereka untuk pribadi menendang dengan kaki terkuatnya, adalah kaki kiri.

Nah, pertanyaannya kenapa Luis Milla menempatkan Febri di kiri bukan di kanan, dengan posisinya ini Febri sangat kesulitan untuk menusuk ke kotak penalti, dan melaksanakan tendangan keras.

Jawabannya sih simpel, posisi kanan dikala ini sudah ditempati oleh Saddil Ramdani dan Irfan Jaya, sedangkan di kiri hanya ditempati oleh Febri, meski terkadang Ilham Udin ataupun Septian David selalu mengisi posisi kiri.

Dan penempatan posisi Febri di kiri memang adalah seni manajemen Milla, Milla ingin Febri menjadi perusak konsentrasi lawan, dengan modal kecepatan dan skill yang di atas rata-rata, ini memungkinkan bila Febri akan bisa menguras tenaga lawan.

Kaki kiri Febri Hariyadi juga diharapkan sebagai umpan, dia bisa lebih gampang melaksanakan Crossing ke daerah kotak penalti meski saat berlari dengan kecepatan tinggi, beda lagi jikalau beliau mengandalkan kaki kanan, Febri akan menghentikan dulu bola sebelum melakukan umpan dengan kaki kanan.

Awal karirnya sebagai pemain Profesional juga Febri bermain di kiri, mungkin sudah posisi ternyamannya Febri bermain di sisi kiri, meski dikala ini di klub nya, Persib Bandung bermain di posisi kanan.
Sumber: UCnews.om