Senin, 06 Juli 2026

5 Fakta Yuli Sumpil, Pentolan Aremania Yang Dihentikan Masuk Stadion Seumur Hidup Nomer 4 Bikin Kaget !!

5 Fakta Yuli Sumpil, Pentolan Aremania yang Dilarang Masuk Stadion Seumur Hidup  nomer 4 bikin kaget !

 Dedengkot Aremania, Yuli Sumpil, mendapatkan hukuman berat dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI yang telah resmi dikeluarkan pada Kamis (11/10/18). Bagaimana tidak, Yuli Sumpil tidak boleh hadir dalam pertandingan sepak bola seumur hidupnya.

Sanksi tersebut diberikan alasannya adalah agresi kurang terpujinya yang masuk ke lapangan pada pertandingan panas antara Arema FC vs Persebaya Surabaya. Yuli Sumpil masuk ke dalam lapangan bersama rekannya berjulukan Fandi.




Dirinya bahkan melaksanakan provokasi kepada kiper cadangan Persebaya, Alfonsius Kelvan. Yuli Sumpil mencoba untuk memancing emosi Kelvan dengan menabur uang di atas lapangan.

Yuli Sumpil sendiri memang kerap kali menghiasi pertandingan-pertandingan yang dijalani Arema FC di setiap musimnya. Akan sangat janggal bagi Arema kalau tak melihat sosok Yuli Sumpil di pinggir lapangan.

Kali ini INDOSPORT.com pun mecoba untuk membahas fakta-fakta Yuli Sumpil, suporter yang dihukum seumur hidup tak boleh menyaksikan pertandingan sepak bola.

1. Seorang Dirigen


Selebrasi gol Arema Indonesia, Aremania.
Yuli Sumpil merupakan suporter yang sangat fanatik dengan Arema FC yang juga merupakan seorang dirigen Aremania. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Yuli Sumpil tak pernah lelah berteriak di pinggir lapangan untuk Arema FC.

Dipilihnya Yuli Sumpil sebagai dirigen Aremania nyatanya karena dirinya mampu berkomunikasi dengan baik oleh ribuan Aremania dan kemampuannya membangkitkan semangat para suporter. Ia pun punya nilai plus karena mempunyai penampilan yang cukup nyentrik.

2. Menahan Lagu Rasis


Yuli Sumpil, dirijen Aremania menyerahkan pinjaman hasil dari iuran sukarela Aremania dengan nilai Rp 31 juta
Sebagai seorang dirigen, Yuli Sumpil yaitu orang yang akan memilih lagu mana dan gerakan badan apa yang harus dilakukan Aremania di atas tribun. Yuli Sumpil sempat menyampaikan bahwa dirinya berusaha keras biar tidak ada lagu rasis dikala tabrak berlangsung.

"Kita selalu berusaha tidak menyanyikan lagu berirama rasis. Selama suporter lawan tidak memancing lebih dulu, ya kita tidak membalas," ujar laki-laki yang selalu bangun memimpin suporter dari tribun timur Stadion Kanjuruhan itu.

"Kalau kami fokus saja pada nyanyian untuk mendukung Arema. Tapi, jikalau sahabat-sobat ingin bernyanyi yang sedikit provokatif, itu semata-mata untuk menaikkan tensi pertandingan saja," lanjutnya.

3. Ciptakan Lagu untuk Arema


Aremania mendatangi kantor Arema FC.
Yuli Sumpil juga sempat membuat lagu untuk dinyanyikan Aremania di setiap pertandingan yang dijalani Singo Edan. Lagu tersebut diciptakan khusus untuk menjalani ISL 2015 kemudian.

Lagu tersebut diciptakan biar para pemain, pelatih dan administrasi Arema FC tahu perjuangan para suporter. Karena menurutnya jiwa, harta dan nyawa dikhususkan untuk tim yang bermarkas di Stadion Kanjuruhan tersebut

4. Dinilai Mirip dengan Young Lex


Penampilan Yuli Sumpil nyatanya dinilai mirip dengan penyanyi rap Indonesia, Young Lex. Kemiripan itu hadir sebab keduanya mempunyai sikap yang kontroversial dan kerap kali mengeluarkan kata-kata bergairah dalam setiap aksinya.

Namun, sosok Yuli Sumpil tidak dibenci oleh sejumlah Aremania. Hal tersebut berbanding terbalik dengan agresi Young Lex yang kerap kali dibenci oleh netizen Indonesia.

Kesamaan lainnya yaitu Yuli Sumpil dan Young Lex sama-sama memiliki jiwa seni dalam menciptakan sebuah lagu. Namun bedanya, lagu yang diciptakan Yuli Sumpil tidak diniatkan untuk komersial.

5. Dijadikan Penelitian Skripsi

Sosok Yuli Sumpil nyatanya pernah diteliti oleh salah satu mahasiswa Universitas Kristen Petra Surabaya berjulukan Ayub Dahana. Mahasiswa itu mencoba untuk membahas ‘Kompetensi Komunikasi Yuli Sumpil dalam Memimpin Kelompok Suporter Aremania’, begitu judul skripnya.

Dalam penelitiannya itu, hadir dua faktor mengapa Yuli Sumpil sukses memimpin ribuan Aremania. Pertama, faktor internal mengenai kemampuan Yuli Sumpil mengikuti keadaan, melakukan pembicaraan, mengatur pembicaraan, menawarkan empati, berbicara secara efektif dan mendapat kelayakan.

Kedua, faktor penerimaan/janji dari khalayak tersebut. Sehingga, dalam konteks komunikasi publik yang bersifat informal maka kompetensi komunikasi tidak bisa dilepaskan dari faktor penerimaan oleh publiknya.



BACA SUMBER

Tidak ada komentar:

Posting Komentar