Minggu, 23 Agustus 2026
Jakmania Gemetar! Satu Persatu Pemain Tinggalkan Persija, Giliran Andritany Kirim Instruksi
Jakmania Gemetar! Satu Persatu Pemain Tinggalkan Persija, Giliran Andritany Kirim "Kode"
Saat ini musim Liga 1 di Indonesia sudah berakhir dimana Persija Jakarta keluar sebagai juara sehabis mampu mengalahkan pesaing terkuatnya yaitu PSM Makassar. Untuk itu saat ini sedang periode break menuju demam isu berikutnya. Dan dimasa ini biasanya para klub akan gencar mencari pemain baru untuk mereka rekrut. Namun, transfer kali ini tampaknya menciptakan para pendukung Persija Jakarta adalah Jakmania sedikit gemetar alasannya adalah satu persatu pemain Persija mulai pergi.
Salah satunya yakni pemain timnas Indonesia ialah Andritany Ardhiyasa yang dirumorkan akan meninggalkan Persija Jakarta. Hal tersebut diketahui sehabis dirinya mengunggah sebuah foto berpelukan sekaligus dibarengi dengan caption panjang berbau perpisahan.
"Ini sepak bola ada pergi ada juga yang tiba saat diawal akan berlangsungnya persiapan tim. Yang pergi bukan berarti ia gagal, melainkan mencari sebuah kesempatan.
"Yang ada bukan berarti juara, melainkan diberikan tanggung jawab berat untuk kedepan. Terima kasih sahabat-teman kita pernah berjuang bahu-membahu dengan misi, dan komitmen yang sama. Kemanapun kita pergi, kita ialah satu 'sang juara'," tulis Andritany dalam unggahannya.
Sontak postingan tersebut langsung ramai dikomentari para warganet Indonesia termasuk The Jakmania yang menyampaikan bahwa Andritany akan meninggalkan Persija Jakarta. Selain itu banyak dari mereka yang berharap Andritany bertahan di Persija Jakarta.
Sumber : ucnews
Minggu, 16 Agustus 2026
Fix Sudah, Begini Legalisasi Naomi Zaskia Perihal Kabar Ijab Kabul Dengan Sule
Fix Sudah, Begini Pengakuan Naomi Zaskia Tentang Kabar Pernikahan Dengan Sule
Dalam beberapa hari ini kabar kedekatan komedian Sule dengan model bagus bernama Naomi Zaskia menjadi pembicaraan di media. Tak sedikit yang menyebut kalau Sule akan segera menikah dengan model berdarah Jerman itu.
Hal itu bermula dari postingan Sule yang mengunggah foto dirinya tengah menggenggam tangan seorang perempuan. Dari gelang yang dikenakan wanita itu, diyakini jikalau itu yaitu tangan Naomi. Sule pun mengaku dirinya akan menikah tahun ini.
"Insha Allah antara April, Mei, Juni, saya akan menikah secara sah, hehehe," ujar Sule.
Komedian pemilik nama orisinil Entis Sutisna itu bahkan mengungkapkan jika dirinya sudah meminta izin kepada anak-anaknya untuk menikah lagi. "Saya sudah bicara sama anak-anak, termasuk Ikky (Rizky Febian). Justru mereka mendukung aku (segera menikah lagi)," tutur Sule.
Tapi apakah benar sosok perempuan yang akan dinikahi Sule itu adalah Naomi Zaskia? Sule sendiri mengaku sudah mengenal Naomi sejak tahun 2016 silam. Ia juga menyebut Naomi sebagai sosok wanita yang baik dan sholihah.
"Perkenalannya udah usang, kan dari mata turun ke hati. Dari mata-nya udah usang, ke hatinya ya belum lama lah, tidak mengecewakan lah," jelas Sule.
Lalu bagaimana dengan Naomi sendiri? Model anggun itu tak mengiyakan kabar planning pernikahannya dengan Sule. Ia belakangan malah menyebut bila di antara mereka hanya terjalin pertemanan. "Intinya, we are friend."
Lalu saat disinggung soal kemungkinan dirinya untuk menjalin relasi dengan Sule, Naomi tak menampik hal itu. Ia hanya meminta doa terbaik untuk dirinya. "Nggak tahu ya saya, susah komennya sampai situ. Intinya doain saja sih yang terbaik buat aku."
sumber:m.detik.com
Selasa, 11 Agustus 2026
Fantastik !!! Jelang Lawan Korsel, Timnas U-23 Santap Dua Menu Latihan Ini !!
Fantastik !!! Jelang Lawan Korsel, Timnas U-23 Santap Dua Menu Latihan ini !!
Timnas Indonesia U-23 kembali menggelar latihan jelang berkelahi uji coba melawan Korea Selatan U-23 di Stadion Pakansari, Sabtu (23/6/2018). Pada latihan hari kedua, Kamis (21/6), tim instruktur menawarkan dua sajian latihan.
Menu latihan pertama tentu saja latihan fisik alasannya adalah Muhamad Hargianto dan mitra-kawan tiba ke Timnas U-23 dalam kondisi pasca libur lebaran. Mereka diberi latihan kecepatan jarak pendek oleh tim instruktur.
"Yang pertama ialah latihan fisik dengan kecepatan pendek, artinya dengan ritme yang tidak terlalu panjang. Yang kedua, instruktur menyiapkan strategi buat lawan Korea Selatan," ujar pelatih fisik timnas U-23, Miguel Gandia.
Sementara itu, terkait kondisi para pemain, Miguel menyatakan bahwa kondisi fisik dari penggawa Garuda Muda menggembirakan. Meskipun, mereka baru saja menjalani libur Hari Raya Idulfitri selama sepekan lebih.
"Anak-anak sangat bagus sekali kondisinya, mereka gampang dilatih saat mereka kembali ke sini alasannya adalah mereka umurnya muda dan masih 23 tahun. Mungkin akan lebih sulit kalau umur mereka 30 tahun untuk dapat fisik yang lebih baik lagi."
"Tapi belum dewasa ini muda dan mereka cepat mengerti," katanya.
Laga uji coba melawan Korea Selatan U-23 sendiri merupakan salah satu persiapan timnas U-23 sebelum tampil di ajang Asian Games 2018. Pada kesempatan ini, instruktur kepala Luis Milla memanggil 23 pemain. Termasuk beberapa pemain yang masuk dalam kategori senior.
Arsitek berkebangsaan Spanyol itu juga turut menyertakan dua gelandang senior. Kedua gelandang tersebut Stefano Lilipaly dan Nelson Alom. Selain itu, ada pula nama Riko Simanjuntak, Beto Gonchalves dan Muhammad Ridho dalam skuat tersebut.
sumber : bola.net
Timnas Indonesia U-23 kembali menggelar latihan jelang berkelahi uji coba melawan Korea Selatan U-23 di Stadion Pakansari, Sabtu (23/6/2018). Pada latihan hari kedua, Kamis (21/6), tim instruktur menawarkan dua sajian latihan.
Menu latihan pertama tentu saja latihan fisik alasannya adalah Muhamad Hargianto dan mitra-kawan tiba ke Timnas U-23 dalam kondisi pasca libur lebaran. Mereka diberi latihan kecepatan jarak pendek oleh tim instruktur.
"Yang pertama ialah latihan fisik dengan kecepatan pendek, artinya dengan ritme yang tidak terlalu panjang. Yang kedua, instruktur menyiapkan strategi buat lawan Korea Selatan," ujar pelatih fisik timnas U-23, Miguel Gandia.
Sementara itu, terkait kondisi para pemain, Miguel menyatakan bahwa kondisi fisik dari penggawa Garuda Muda menggembirakan. Meskipun, mereka baru saja menjalani libur Hari Raya Idulfitri selama sepekan lebih.
"Anak-anak sangat bagus sekali kondisinya, mereka gampang dilatih saat mereka kembali ke sini alasannya adalah mereka umurnya muda dan masih 23 tahun. Mungkin akan lebih sulit kalau umur mereka 30 tahun untuk dapat fisik yang lebih baik lagi."
"Tapi belum dewasa ini muda dan mereka cepat mengerti," katanya.
Laga uji coba melawan Korea Selatan U-23 sendiri merupakan salah satu persiapan timnas U-23 sebelum tampil di ajang Asian Games 2018. Pada kesempatan ini, instruktur kepala Luis Milla memanggil 23 pemain. Termasuk beberapa pemain yang masuk dalam kategori senior.
Arsitek berkebangsaan Spanyol itu juga turut menyertakan dua gelandang senior. Kedua gelandang tersebut Stefano Lilipaly dan Nelson Alom. Selain itu, ada pula nama Riko Simanjuntak, Beto Gonchalves dan Muhammad Ridho dalam skuat tersebut.
sumber : bola.net
Jumat, 07 Agustus 2026
It's Advantage Psg In The Champions League
Manchester United must mount a miraculous recovery operation to keep their Champions League campaign alive after they were overpowered by Paris St-Germain at Old Trafford.
Second half goals from Presnel Kimpembe and Kylian Mbappe secured victory for the French champions, with Paul Pogba sent off for two yellow cards late on.
United's revival with 10 wins in 11 games under interim manager Ole Gunnar Solskjaer raised hopes that this was the night they could reclaim their place in Europe's elite.
Instead, they were outclassed by PSG to suffer their first European home defeat by a margin of more than one goal and will now need to produce something remarkable in Paris on 6 March to stand a chance of advancing to the Champions League quarter-finals.
Solskjaer's hopes were hampered by first-half injuries to Jesse Lingard and Anthony Martial but PSG made light of the absence of injured Brazilian superstar Neymar and striker Edinson Cavani.
Former Manchester United misfit Angel Di Maria was their tormentor, his 53rd minute corner allowing Kimpembe, arguably fortunate to still be on the pitch, to escape the attentions of Nemanja Matic and sidefoot past David De Gea.
And it was fitting that the brilliant Mbappe, whose searing pace was a threat all night, enhanced PSG's position of superiority when he turned Di Maria's inviting cross past the exposed De Gea on the hour.
If United's plight was not bad enough already, it was made worse when Pogba was sent off for a second yellow card in the tamat minute of normal time and will miss the second leg.
Reality bites for Solskjaer
Solskjaer has done a remarkable job in transforming the mood and performances since succeeding sacked Jose Mourinho in December - but this was his toughest night since he arrived back at Old Trafford.
It was no reflection on Solskjaer that United lost, they were simply the victims of a better team that still possessed an outstanding attack in the shape of Di Maria and Mbappe, even in the absence of Neymar and Cavani.
Solskjaer and United's cause was not helped by injuries to Lingard and Martial in the opening period, the latter particularly damaging given his brilliant recent form.
United could not be faulted for effort or character but they simply did not have the weapons to trouble Thomas Tuchel's side as they exposed United's defence through the width and delivery of Di Maria and the irresistible speed of Mbappe.
Solskjaer will not give up hope ahead of the second leg in Paris but logic suggests this is the end of the road for Manchester United's Champions League ambitions.
Di Maria answers the jeers
Di Maria's frustrating spell at Manchester United after a then British record £59.7m move from Real Madrid was reflected in the barrage of jeers that accompanied him throughout this Champions League tie.
The Argentine, often poorly utilised by manager Louis van Gaal, lasted only a year before leaving United for Paris in a £44.3m deal having never produced his finest form.
Here, to their pain, Manchester United and their fans witnessed exactly what they could have had.
Di Maria shrugged off the abuse, and a needless barge from Ashley Young that sent him flying painfully downhill and into Old Trafford's cinder track in the first half, to make contributions of real significance in PSG's win.
And how he enjoyed it.
It was his corner that fell to Kimpembe for the opener and he showed what he was really all about when he outpaced United's retreating defence and put the second on the plate for Mbappe as he arrived with perfect timing.
Di Maria was given a standing ovation by PSG's fans when he was replaced late on after finally showing his real worth at "The Theatre Of Dreams."
Man of the Match - Angel Di Maria (PSG)
'Mountains are there to be climbed' - what they said
Manchester United manager Ole Gunner Solskjaer to BT Sport: "They had the momentum after the first goal and controlled the game. You could see that we hadn't played at this level for a while and we will have to learn. It was an experience that can go either way, it's not going to be a season defining one, it's one we have to learn from."
Asked about injuries to Lingard and Martial:"You can't say that's a reason, we had quality players to come on but Lingard and Martial give us something and let's hope they are not too serious. They are muscle injuries, we have to wait a couple of days."
On Pogba's sending off: "Paul Pogba is trying to get his body across and Dani Alves is clever enough to put his foot in there. Paul wants to shield the ball, he's unlucky.
"Mountains are there to be climbed, you can't lay down and say this is over We will go there, play our game and improve from today.
"Today is a reality check for us."
PSG boss Thomas Tuchel: "We lost too many easy balls in the first half but the second half was really excellent.
"We deserved to win, and to do so here at Old Trafford just now, I congratulate my team - but it's only half-time and we still have to play at the Parc des Princes."
source : bbc.com
Senin, 27 Juli 2026
Keputusan Kontroversial Evan Dimas Bisa Merugikan Dirinya
Keputusan Kontroversial Evan Dimas Bisa Merugikan Dirinya
Gelandang andalan timnas Indonesia Evan Dimas gres saja mengejutkan pecinta sepakbola Indonesia sebab keputusan tak diduga yang telah diambilnya.
Dilansir Bolasport.com adalah kepindahannya ke Barito Putera yang menjadi sebuah kejutan di selesai tahun 2018, mampu dikatakan kejutan alasannya adalah sejatinya dalam beberapa pekan terakhir nama Evan Dimas justru lebih sering dikaitkan dengan beberapa klub Thailanda dan Jepang.
Keputusan Evan tersebut juga bisa disebut sebagai keputusan yang kontroversial alasannya adalah seharusnya ia mampu dengan mulus bermain di liga Thailand alasannya adalah mereka baru saja menciptakan peraturan soal kewajiban setiap klub di Thai League untuk menyediakan kuota khusus pemain Asia Tenggara.
Apalagi dalam rilis beberapa media seperti Goal.com agem Evan menyatakan sudah ada salah satu klub yang serius mendekati Evan Dimas, lantas mengapa pemain orisinil Jawa Timur ini memilih pulang ke tanah air?
Jika dianalisa dari segi positifnya, mungkin saja Evan tengah mempersiapkan rencana besar dalam karirnya sehingga keputusan tersebut dianggap sebagai keputusan terbaik baginya.
Namun bila kita melihat dari kacamata negatifnya, bahwa secara jenjang karir kembalinya dia ke kompetisi Indonesia merupakan bentuk kerugian besar alasannya adalah peluangnya untuk bersinar di liga luar seperti Thailand sangat besar. Selain itu dari segi teknis pastinya juga akan mengalami perkembangan dan peningkatan sebab Thailand sudah terkenal dengan liga yang rapi baik dari segi permainan maupun dari segi profesionalitas setiap tim yang berpartisipasi.
Namun apapun opini yang tengah berkembang dikala ini, kita sebagai penikmat dan suporter harus tetap mendukung dan menghormati keputusan apapun yang diambil Evan selagi hal itu tidak merusak keberlangsungan karirnya.
Semoga kepindahan ini tidak menurunkan daya performa Evan sebagai pemain yang bertalenta bagi timnas Indonesia dan pastinya diperlukan dia bisa lebih berkembang dengan Barito Putera. Bravo!
sumber : ucnews.ucweb.com
Gelandang andalan timnas Indonesia Evan Dimas gres saja mengejutkan pecinta sepakbola Indonesia sebab keputusan tak diduga yang telah diambilnya.
Dilansir Bolasport.com adalah kepindahannya ke Barito Putera yang menjadi sebuah kejutan di selesai tahun 2018, mampu dikatakan kejutan alasannya adalah sejatinya dalam beberapa pekan terakhir nama Evan Dimas justru lebih sering dikaitkan dengan beberapa klub Thailanda dan Jepang.
Keputusan Evan tersebut juga bisa disebut sebagai keputusan yang kontroversial alasannya adalah seharusnya ia mampu dengan mulus bermain di liga Thailand alasannya adalah mereka baru saja menciptakan peraturan soal kewajiban setiap klub di Thai League untuk menyediakan kuota khusus pemain Asia Tenggara.
Apalagi dalam rilis beberapa media seperti Goal.com agem Evan menyatakan sudah ada salah satu klub yang serius mendekati Evan Dimas, lantas mengapa pemain orisinil Jawa Timur ini memilih pulang ke tanah air?
Jika dianalisa dari segi positifnya, mungkin saja Evan tengah mempersiapkan rencana besar dalam karirnya sehingga keputusan tersebut dianggap sebagai keputusan terbaik baginya.
Namun bila kita melihat dari kacamata negatifnya, bahwa secara jenjang karir kembalinya dia ke kompetisi Indonesia merupakan bentuk kerugian besar alasannya adalah peluangnya untuk bersinar di liga luar seperti Thailand sangat besar. Selain itu dari segi teknis pastinya juga akan mengalami perkembangan dan peningkatan sebab Thailand sudah terkenal dengan liga yang rapi baik dari segi permainan maupun dari segi profesionalitas setiap tim yang berpartisipasi.
Namun apapun opini yang tengah berkembang dikala ini, kita sebagai penikmat dan suporter harus tetap mendukung dan menghormati keputusan apapun yang diambil Evan selagi hal itu tidak merusak keberlangsungan karirnya.
Semoga kepindahan ini tidak menurunkan daya performa Evan sebagai pemain yang bertalenta bagi timnas Indonesia dan pastinya diperlukan dia bisa lebih berkembang dengan Barito Putera. Bravo!
sumber : ucnews.ucweb.com
Jumat, 24 Juli 2026
Rekor Barcelona Di Liga Spanyol Berada Di Tangan Cristiano Ronaldo
Rekod Barcelona dalam liga Sepanyol berada di tangan Cristiano Ronaldo
5 Mei 2018
BARCELONA kelihatan ahli di Liga Sepanyol 2017-2018. Kelab penjagaan Ernesto Valverde menjadi juara apabila pertandingan itu masih meninggalkan empat perlawanan. Lebih ahli kerana dalam 34 perlawanan yang telah dilakukan, Blaugrana-nama samaran Barcelona-tidak mencicipi kekalahan tunggal.
Daripada 34 perlawanan, Lionel Messi dan kawannya memenangi 26 kemenangan dan lapan seri. Jika empat perlawanan di depan Barcelona tidak mencicipi kekalahan, mereka menjadi kelab pertama dalam sejarah Liga Sepanyol yang mampu mencatatkan rekod tanpa kalah dalam satu musim.
Walau bagaimanapun, dua daripada empat pasukan yang akan menghadapi Barcelona, ialah kelab tradisional dalam Liga Sepanyol. Pada hari Isnin 7 Mei 2018 waktu tempatan pagi, Barcelona akan menjadi tuan rumah Real Madrid. Los Blancos-nama samaran Madrid - jelas menyasarkan kemenangan untuk penamat di kedudukan kedua, dan juga cita-cita untuk menghentikan rekod tanpa kalah Barcelona.
Madrid vs Barcelona
Sementara itu, tiga hari lalu, Barcelona akan menjadi tuan rumah Villrarreal. The Submarines Yellow-dijuluki Villarreal- juga bercita-cita untuk mencapai tiga mata demi kemasan di zon Liga Europa. Walau begitu, perlawanan menentang Madrid jelas yang paling sukar daripada kelab permainan Villarreal dan kelab lain.
Itu kerana Madrid berada dalam trend faktual. Madrid hanya menerima kawasan di parti Liga Juara-Juara selepas menyingkirkan Bayern Munich di separuh final dengan agregat 4-3. Di samping itu, jangan lupa bahawa Madrid mempunyai salah satu yang paling jahat di bumi: Cristiano Ronaldo.
Selepas berehat ketika Madrid mengalahkan Leganes minggu lepas, Ronaldo kemungkinan besar kembali ke Barcelona. Lebih-lebih lagi, pemain bola sepak berusia 33 tahun dikira dengan ketara ketika menghadapi Barcelona.
Sejak mempertahankan Madrid pada 2009, Ronaldo mempunyai 29 kali menentang Barcelona. Ronaldo mencatat matlamat dan membantu banyak kasus luar biasa. Daripada 29 perlawanan, bapa kepada empat anak itu membungkus 17 gol dan 15 assist.
Ronaldo vs Barcelona
Malah, gol terakhir Ronaldo dicipta untuk gol Barcelona menjadikan kemenangan untuk Madrid. Dalam minggu ke-31 Liga Sepanyol 2015-2016, Ronaldo menjaringkan satu gol sehingga karenanya Madrid menang 2-1 di Barcelona di Estadio Camp Nou. Oleh itu, terus atau tidak rekod tanpa kalah Barcelona dalam liga Sepanyol berpotensi berada di tangan Ronaldo.
sumber: ucnews.com
5 Mei 2018
BARCELONA kelihatan ahli di Liga Sepanyol 2017-2018. Kelab penjagaan Ernesto Valverde menjadi juara apabila pertandingan itu masih meninggalkan empat perlawanan. Lebih ahli kerana dalam 34 perlawanan yang telah dilakukan, Blaugrana-nama samaran Barcelona-tidak mencicipi kekalahan tunggal.
Daripada 34 perlawanan, Lionel Messi dan kawannya memenangi 26 kemenangan dan lapan seri. Jika empat perlawanan di depan Barcelona tidak mencicipi kekalahan, mereka menjadi kelab pertama dalam sejarah Liga Sepanyol yang mampu mencatatkan rekod tanpa kalah dalam satu musim.
Walau bagaimanapun, dua daripada empat pasukan yang akan menghadapi Barcelona, ialah kelab tradisional dalam Liga Sepanyol. Pada hari Isnin 7 Mei 2018 waktu tempatan pagi, Barcelona akan menjadi tuan rumah Real Madrid. Los Blancos-nama samaran Madrid - jelas menyasarkan kemenangan untuk penamat di kedudukan kedua, dan juga cita-cita untuk menghentikan rekod tanpa kalah Barcelona.
Madrid vs Barcelona
Sementara itu, tiga hari lalu, Barcelona akan menjadi tuan rumah Villrarreal. The Submarines Yellow-dijuluki Villarreal- juga bercita-cita untuk mencapai tiga mata demi kemasan di zon Liga Europa. Walau begitu, perlawanan menentang Madrid jelas yang paling sukar daripada kelab permainan Villarreal dan kelab lain.
Itu kerana Madrid berada dalam trend faktual. Madrid hanya menerima kawasan di parti Liga Juara-Juara selepas menyingkirkan Bayern Munich di separuh final dengan agregat 4-3. Di samping itu, jangan lupa bahawa Madrid mempunyai salah satu yang paling jahat di bumi: Cristiano Ronaldo.
Selepas berehat ketika Madrid mengalahkan Leganes minggu lepas, Ronaldo kemungkinan besar kembali ke Barcelona. Lebih-lebih lagi, pemain bola sepak berusia 33 tahun dikira dengan ketara ketika menghadapi Barcelona.
Sejak mempertahankan Madrid pada 2009, Ronaldo mempunyai 29 kali menentang Barcelona. Ronaldo mencatat matlamat dan membantu banyak kasus luar biasa. Daripada 29 perlawanan, bapa kepada empat anak itu membungkus 17 gol dan 15 assist.
Ronaldo vs Barcelona
Malah, gol terakhir Ronaldo dicipta untuk gol Barcelona menjadikan kemenangan untuk Madrid. Dalam minggu ke-31 Liga Sepanyol 2015-2016, Ronaldo menjaringkan satu gol sehingga karenanya Madrid menang 2-1 di Barcelona di Estadio Camp Nou. Oleh itu, terus atau tidak rekod tanpa kalah Barcelona dalam liga Sepanyol berpotensi berada di tangan Ronaldo.
sumber: ucnews.com
Sabtu, 18 Juli 2026
Bahrain, Korea Utara, Dan Uzbekistan Kompak Beri Pujian Untuk Satu Nama Andalan Luis Milla
Bahrain, Korea Utara, dan Uzbekistan Kompak Beri Pujian untuk Satu Nama Andalan Luis Milla
5 Mei 2018
BOLASPORT.COM - Timnas U-23 Indonesia gagal meraih hasil maksimal pada PSSI Anniversary Cup 2018. Tetapi, ada satu pemain yang dipuji tiga lawan skuat muda Garuda pada turnamen itu.
Timnas U-23 Indonesia yang digawangi oleh Evan Dimas Darmono dkk tersebut harus finis pada posisi tiga klasemen.
Anak ajar Luis Milla hanya bisa mengumpulkan dua poin dari tiga pertandingan yang dilakoni.
Skuad muda Garuda menerima dua hasil seri kontra Korea Utara dan Uzbekistan serta satu kekalahan dari Bahrain.
Kendati gagal, akan tetapi ajang tersebut menyisakan kesan impresif bagi setiap pemain iman Luis Milla.
Apalagi teruntuk salah satu pilar yang selalu menjadi andalan Luis Milla untuk mengisi pos sisi kiri.
Ya, pemain itu yakni Febri Hariyadi, winger milik Persib Bandung yang sejauh tiga adu tampil begitu memukau.
Tak pelak, performanya lantas menerima sanjungan dari berbagai kalangan, bahkan jajaran instruktur tim lawan.
Tiga instruktur tim lawan, Bahrain, Korea Utara, dan Uzbekistan, kompak menunjukkan kebanggaan pada Febri.
Bow, sapaan akrabnya, menjadi satu-satunya nama yang selalu diagungkan oleh ketiga pelatih lawan tersebut.
Hal itu tak lepas dari penampilan Bow yang ciamik disertai keterampilan olah bola dan kecepatannya.
Pelatih Bahrain, Samir Chammam memuji ketajaman Febri pasca sabung melawan Uzbekistan.
"Permainan Uzbekistan tidak sebagus Indonesia. Contohnya, Indonesia memiliki pemain cepat di sayap kiri (Febri Hariyadi)," ujar Chammam memuji.
Hal senada dilontarkan arsitek Korea Utara, Ju Song Il, seusai jalani pertemuan kontra anak bimbing Luis Milla.
Ju Song Il membeberkan bahwa beliau telah menginstruksikan para pemainnya untuk menjaga pergerakan Febri.
“Sebelumnya saya sudah tahu Indonesia punya pemain cepat, nomor 13 (Febri), beliau sangat elok,” kata Ju Song Il.
Sementara itu, mirip penuturan dua instruktur sebelumnya, juru racik Uzbekistan pun menyatakan hal serupa.
Pelatih Ravshan Khaydarov mengungkapkan, bahwa permainan sayap Indonesia perlu diwaspadai.
"Indonesia permainannya cepat. Punya pemain dengan skill dan teknik bagus, terutama di sayap kiri," ucap Khaydarov.
sumber : bolasport.com
5 Mei 2018
BOLASPORT.COM - Timnas U-23 Indonesia gagal meraih hasil maksimal pada PSSI Anniversary Cup 2018. Tetapi, ada satu pemain yang dipuji tiga lawan skuat muda Garuda pada turnamen itu.
Timnas U-23 Indonesia yang digawangi oleh Evan Dimas Darmono dkk tersebut harus finis pada posisi tiga klasemen.
Anak ajar Luis Milla hanya bisa mengumpulkan dua poin dari tiga pertandingan yang dilakoni.
Skuad muda Garuda menerima dua hasil seri kontra Korea Utara dan Uzbekistan serta satu kekalahan dari Bahrain.
Kendati gagal, akan tetapi ajang tersebut menyisakan kesan impresif bagi setiap pemain iman Luis Milla.
Apalagi teruntuk salah satu pilar yang selalu menjadi andalan Luis Milla untuk mengisi pos sisi kiri.
Ya, pemain itu yakni Febri Hariyadi, winger milik Persib Bandung yang sejauh tiga adu tampil begitu memukau.
Tak pelak, performanya lantas menerima sanjungan dari berbagai kalangan, bahkan jajaran instruktur tim lawan.
Tiga instruktur tim lawan, Bahrain, Korea Utara, dan Uzbekistan, kompak menunjukkan kebanggaan pada Febri.
Bow, sapaan akrabnya, menjadi satu-satunya nama yang selalu diagungkan oleh ketiga pelatih lawan tersebut.
Hal itu tak lepas dari penampilan Bow yang ciamik disertai keterampilan olah bola dan kecepatannya.
Pelatih Bahrain, Samir Chammam memuji ketajaman Febri pasca sabung melawan Uzbekistan.
"Permainan Uzbekistan tidak sebagus Indonesia. Contohnya, Indonesia memiliki pemain cepat di sayap kiri (Febri Hariyadi)," ujar Chammam memuji.
Hal senada dilontarkan arsitek Korea Utara, Ju Song Il, seusai jalani pertemuan kontra anak bimbing Luis Milla.
Ju Song Il membeberkan bahwa beliau telah menginstruksikan para pemainnya untuk menjaga pergerakan Febri.
“Sebelumnya saya sudah tahu Indonesia punya pemain cepat, nomor 13 (Febri), beliau sangat elok,” kata Ju Song Il.
Sementara itu, mirip penuturan dua instruktur sebelumnya, juru racik Uzbekistan pun menyatakan hal serupa.
Pelatih Ravshan Khaydarov mengungkapkan, bahwa permainan sayap Indonesia perlu diwaspadai.
"Indonesia permainannya cepat. Punya pemain dengan skill dan teknik bagus, terutama di sayap kiri," ucap Khaydarov.
sumber : bolasport.com
Kamis, 09 Juli 2026
Man City Produced A Stunning Fightback To Reach The Fa Cup Semi-Finals
Sergio Aguero's controversial late winner ensured Manchester City dramatically kept their quadruple bid on track as they came from two goals down to beat Swansea and reach the FA Cup semi-finals.
Substitute Aguero beat Swansea keeper Kristoffer Nordfeldt with a diving header off Bernardo Silva's low cross at the end of a superb move in the 88th minute.
Replays showed the Argentina striker was marginally offside but the video assistant review system was not in use at the Liberty Stadium, despite having been used in City's third and fourth-round ties at their Etihad Stadium home.
City had levelled in contentious circumstances too when Cameron Carter-Vickers was judged to have tripped replacement Raheem Sterling in the area and Aguero's penalty hit the post before rebounding in off Nordfeldt for an own goal.
Defeat was harsh on the impressive hosts, who led 2-0 inside 30 minutes through Matt Grimes' penalty and Bersant Celina's spectacular second.
The former City player, who was mocked for an extraordinary penalty miss against West Brom on Wednesday, curled a sumptuous first-time effort beyond Ederson at the end of a tremendous, flowing move.
City fielded a strong side but needed Sterling and Aguero to come off the bench to shake them out of their fatigue, the latter setting up Bernardo for the visitors' opener, which sparked their thrilling comeback in the last half hour.
Sterling and Sergio finally stir City
Having scored 16 goals in three previous FA Cup games this season and after thrashing Schalke 7-0 in the Champions League on Tuesday, City's bright start to this game seemed to indicate that this would be another stroll.
Yet after missing a few chances, with Nordfeldt also making two fine saves, the front three of Gabriel Jesus, Leroy Sane and Riyad Mahrez started to lose their composure - and so did City's defence.
Fabian Delph, who was sent off in his side's fifth-round defeat by Wigan last year, was caught out by Connor Roberts' deft touch to bring down a long pass and felled the Swansea right-back from behind to concede a clear penalty for the opener.
The visitors then failed to track the runners as Swansea swept forward, leaving Celina unmarked for the second.
The Premier League leaders carried limited threat in the early stages of the second half and looked on course for a tame exit to a side who are 15th in the Championship.
Yet Sterling and Aguero proved to be the difference after they were brought on either side of the hour mark, the latter calmly picking out Bernardo after his own effort was blocked before the excellent Portugal midfielder curved a fine effort into the far corner.
Sterling then feinted past Carter-Vickers before falling under the challenge. Andre Marriner awarded a penalty but replays suggested the centre-back touched the ball before clipping Sterling's ankle, and Swansea's injustice was compounded by Aguero's fortunate conversion.
Pep Guardiola's ruthless side were not prepared to settle for extra time, pushing forward once more and working the ball out to Bernardo on the left of the area to pick out Aguero perfectly, with the lack of VAR working in City's favour.
"I'm sorry it was offside. I don't understand why VAR is not used in this competition at this stage. Hopefully next season this won't happen," Guardiola told BBC Sport.
"The penalty was really lucky but you need it, especially when you're in four competitions."
Unlucky Swans almost pull off a shock
Swansea are having a disappointing season in the Championship, but they took on the Premier League champions with a brave and assured performance.
They rode their luck early on, allowing Sane too much space out wide on several occasions, but took advantage of an increasingly disjointed City to go ahead on 20 minutes when Grimes sent Ederson the wrong way from the spot.
Swansea's second was a goal you would more readily associate with a Guardiola-coached side.
Nordfeldt played out from the back, and two passes later Swansea had released the rapid Daniel James down the left. He cut inside and found the onrushing Nathan Dyer, who picked out Celina to finish.
Even when City surged back, the hosts put in fine blocks to deny them, with Roberts repelling David Silva's close-range shot on the line and Nordfeldt particularly impressive.
The Sweden keeper made a stunning double save at 2-2, pushing Jesus' header onto the post before flicking out his leg to deny Aguero's follow-up.
But ultimately his side could not withstand the onslaught to at least force extra time.
Man of the match - Bernardo Silva (Man City)
Manchester City manager Pep Guardiola, speaking to BBC Sport: "The most incredible thing after what we achieved last season is in this stage we are fighting for everything.
"The most important for the club - more than winning one title - is having the mentality to be there until the end and fight for the titles in this stage of the season.
"That's important because for the future, for the new players and managers who are coming, they will learn from this group of players, and this group of people, that we never give up and fight for every single game and title until the end."
Swansea manager Graham Potter, speaking to BBC Sport: "The players are disappointed of course but they can also be proud about how they have conducted themselves in the game.
"They showed courage and quality against a tough team. I have nothing but pride and admiration for my players."
"VAR is not here so that's life and I wouldn't like that to take away from the quality of our performance and from Manchester City."
source : https://www.bbc.com
Senin, 06 Juli 2026
Bukti Ini Benarkan Timnas Argentina Dan Lionel Messi Tak Saling Cocok
Bukti Ini Benarkan Timnas Argentina dan Lionel Messi Tak Saling Cocok !!
Pelatih Argentina, Jorge Sampaoli, mengakui bahwa skuat timnas Argentina dan eksistensi Lionel Messi tak saling cocok dalam ajang Piala Dunia 2018.
Bagai sebuah mendung, timnas Argentina dikatakan menutupi sinar permainan seorang Lionel Messi.
Konsekuensinya, kapten timnas Argentina itu tak mampu berbuat banyak pada dua sabung awal di fase penyisihan Grup D.
Pada pertemuan pertama, Lionel Messi gagal membawa timnas Argentina meraih poin penuh ketika melawan timnas Islandia dengan skor tamat 1-1.
Di pertemuan kedua, Messi kembali telan kekecewaan setelah timnas Argentina harus mengakui kemenangan timnas Kroasia dengan skor final 0-3, Jumat (22/6/2018) dini hari WIB.
"Saya pikir, keberadaan skuat Argentina menutupi kebrilianan Messi," ucap Jorge Sampaoli dalam konferensi pers usai sabung melawan timnas Kroasia.
"Leo tampil tidak normal karena tim tidak menyatu dengannya seperti yang seharusnya terjadi," kata sang pelatih menambahkan.
Lantas, bagaimana bukti bahwa timnas Argentina dan seorang Lionel Messi tidaklah cocok?
Dilansir BolaSport.com dari laman BBC, Statistik penampilan Lionel Messi dalam langgar kontra timnas Kroasia cukup pertanda bahwa ketidak cocokan dengan timnas Argentina cukup terasa.
Pertama, Jorge Sampaoli menempatkan Lionel Messi sebagai pusat permainan dalam ajang Piala Dunia 2018.
Hampir setiap umpan dan serangan selalu berlabuh kepada Lionel Messi sebagai eksekutor, pun Messi kerap "dibukakan jalan" supaya mampu mencetak gol.
Dalam langgar kontra Kroasia, Lionel Messi karena di jaga ketat. Sang pemain catatkan 49 sentuhan namun hanya dua sentuhan yang beliau terima di kotak penalti lawan.
Kedua, Lionel Messi bahkan harus menunggu hingga babak kedua untuk mendapatkan peluang pertamanya dalam matchday kedua ini.
Tercatat, gres pada menit ke-64 Lionel Messi melepaskan tembakan ke gawang pertama dalam pertandingan.
Itupun, Messi gagal menjebol gawang Kroasia sesudah menerima bola muntah di depan gawang, hasil kolaborasi antara Gonzalo Higuain dan Maximiliano Meza.
Ketiga, Lionel Messi seakan memang tertutupi magisnya dengan "tak beruntung" untuk bisa cetak gol.
Bagaimana tidak, Messi sudah catatkan 12 tembakan ke gawang dalam dua laga pertama timnas Argentina.
Namun, tak satupun berbuah gol untuk Messi. Bahkan, catatan kegagalan tersebut menjadi yang terbanyak sementara ini di Piala Dunia 2018.
sumber : bolasport.com
Pelatih Argentina, Jorge Sampaoli, mengakui bahwa skuat timnas Argentina dan eksistensi Lionel Messi tak saling cocok dalam ajang Piala Dunia 2018.
Bagai sebuah mendung, timnas Argentina dikatakan menutupi sinar permainan seorang Lionel Messi.
Konsekuensinya, kapten timnas Argentina itu tak mampu berbuat banyak pada dua sabung awal di fase penyisihan Grup D.
Pada pertemuan pertama, Lionel Messi gagal membawa timnas Argentina meraih poin penuh ketika melawan timnas Islandia dengan skor tamat 1-1.
Di pertemuan kedua, Messi kembali telan kekecewaan setelah timnas Argentina harus mengakui kemenangan timnas Kroasia dengan skor final 0-3, Jumat (22/6/2018) dini hari WIB.
"Saya pikir, keberadaan skuat Argentina menutupi kebrilianan Messi," ucap Jorge Sampaoli dalam konferensi pers usai sabung melawan timnas Kroasia.
"Leo tampil tidak normal karena tim tidak menyatu dengannya seperti yang seharusnya terjadi," kata sang pelatih menambahkan.
Lantas, bagaimana bukti bahwa timnas Argentina dan seorang Lionel Messi tidaklah cocok?
Dilansir BolaSport.com dari laman BBC, Statistik penampilan Lionel Messi dalam langgar kontra timnas Kroasia cukup pertanda bahwa ketidak cocokan dengan timnas Argentina cukup terasa.
Pertama, Jorge Sampaoli menempatkan Lionel Messi sebagai pusat permainan dalam ajang Piala Dunia 2018.
Hampir setiap umpan dan serangan selalu berlabuh kepada Lionel Messi sebagai eksekutor, pun Messi kerap "dibukakan jalan" supaya mampu mencetak gol.
Dalam langgar kontra Kroasia, Lionel Messi karena di jaga ketat. Sang pemain catatkan 49 sentuhan namun hanya dua sentuhan yang beliau terima di kotak penalti lawan.
Kedua, Lionel Messi bahkan harus menunggu hingga babak kedua untuk mendapatkan peluang pertamanya dalam matchday kedua ini.
Tercatat, gres pada menit ke-64 Lionel Messi melepaskan tembakan ke gawang pertama dalam pertandingan.
Itupun, Messi gagal menjebol gawang Kroasia sesudah menerima bola muntah di depan gawang, hasil kolaborasi antara Gonzalo Higuain dan Maximiliano Meza.
Ketiga, Lionel Messi seakan memang tertutupi magisnya dengan "tak beruntung" untuk bisa cetak gol.
Bagaimana tidak, Messi sudah catatkan 12 tembakan ke gawang dalam dua laga pertama timnas Argentina.
Namun, tak satupun berbuah gol untuk Messi. Bahkan, catatan kegagalan tersebut menjadi yang terbanyak sementara ini di Piala Dunia 2018.
sumber : bolasport.com
5 Fakta Yuli Sumpil, Pentolan Aremania Yang Dihentikan Masuk Stadion Seumur Hidup Nomer 4 Bikin Kaget !!
5 Fakta Yuli Sumpil, Pentolan Aremania yang Dilarang Masuk Stadion Seumur Hidup nomer 4 bikin kaget !
Dedengkot Aremania, Yuli Sumpil, mendapatkan hukuman berat dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI yang telah resmi dikeluarkan pada Kamis (11/10/18). Bagaimana tidak, Yuli Sumpil tidak boleh hadir dalam pertandingan sepak bola seumur hidupnya.
Sanksi tersebut diberikan alasannya adalah agresi kurang terpujinya yang masuk ke lapangan pada pertandingan panas antara Arema FC vs Persebaya Surabaya. Yuli Sumpil masuk ke dalam lapangan bersama rekannya berjulukan Fandi.
Dirinya bahkan melaksanakan provokasi kepada kiper cadangan Persebaya, Alfonsius Kelvan. Yuli Sumpil mencoba untuk memancing emosi Kelvan dengan menabur uang di atas lapangan.
Yuli Sumpil sendiri memang kerap kali menghiasi pertandingan-pertandingan yang dijalani Arema FC di setiap musimnya. Akan sangat janggal bagi Arema kalau tak melihat sosok Yuli Sumpil di pinggir lapangan.
Kali ini INDOSPORT.com pun mecoba untuk membahas fakta-fakta Yuli Sumpil, suporter yang dihukum seumur hidup tak boleh menyaksikan pertandingan sepak bola.
1. Seorang Dirigen
Selebrasi gol Arema Indonesia, Aremania.
Yuli Sumpil merupakan suporter yang sangat fanatik dengan Arema FC yang juga merupakan seorang dirigen Aremania. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Yuli Sumpil tak pernah lelah berteriak di pinggir lapangan untuk Arema FC.
Dipilihnya Yuli Sumpil sebagai dirigen Aremania nyatanya karena dirinya mampu berkomunikasi dengan baik oleh ribuan Aremania dan kemampuannya membangkitkan semangat para suporter. Ia pun punya nilai plus karena mempunyai penampilan yang cukup nyentrik.
2. Menahan Lagu Rasis
Yuli Sumpil, dirijen Aremania menyerahkan pinjaman hasil dari iuran sukarela Aremania dengan nilai Rp 31 juta
Sebagai seorang dirigen, Yuli Sumpil yaitu orang yang akan memilih lagu mana dan gerakan badan apa yang harus dilakukan Aremania di atas tribun. Yuli Sumpil sempat menyampaikan bahwa dirinya berusaha keras biar tidak ada lagu rasis dikala tabrak berlangsung.
"Kita selalu berusaha tidak menyanyikan lagu berirama rasis. Selama suporter lawan tidak memancing lebih dulu, ya kita tidak membalas," ujar laki-laki yang selalu bangun memimpin suporter dari tribun timur Stadion Kanjuruhan itu.
"Kalau kami fokus saja pada nyanyian untuk mendukung Arema. Tapi, jikalau sahabat-sobat ingin bernyanyi yang sedikit provokatif, itu semata-mata untuk menaikkan tensi pertandingan saja," lanjutnya.
3. Ciptakan Lagu untuk Arema
Aremania mendatangi kantor Arema FC.
Yuli Sumpil juga sempat membuat lagu untuk dinyanyikan Aremania di setiap pertandingan yang dijalani Singo Edan. Lagu tersebut diciptakan khusus untuk menjalani ISL 2015 kemudian.
Lagu tersebut diciptakan biar para pemain, pelatih dan administrasi Arema FC tahu perjuangan para suporter. Karena menurutnya jiwa, harta dan nyawa dikhususkan untuk tim yang bermarkas di Stadion Kanjuruhan tersebut
4. Dinilai Mirip dengan Young Lex
Penampilan Yuli Sumpil nyatanya dinilai mirip dengan penyanyi rap Indonesia, Young Lex. Kemiripan itu hadir sebab keduanya mempunyai sikap yang kontroversial dan kerap kali mengeluarkan kata-kata bergairah dalam setiap aksinya.
Namun, sosok Yuli Sumpil tidak dibenci oleh sejumlah Aremania. Hal tersebut berbanding terbalik dengan agresi Young Lex yang kerap kali dibenci oleh netizen Indonesia.
Kesamaan lainnya yaitu Yuli Sumpil dan Young Lex sama-sama memiliki jiwa seni dalam menciptakan sebuah lagu. Namun bedanya, lagu yang diciptakan Yuli Sumpil tidak diniatkan untuk komersial.
5. Dijadikan Penelitian Skripsi
Sosok Yuli Sumpil nyatanya pernah diteliti oleh salah satu mahasiswa Universitas Kristen Petra Surabaya berjulukan Ayub Dahana. Mahasiswa itu mencoba untuk membahas ‘Kompetensi Komunikasi Yuli Sumpil dalam Memimpin Kelompok Suporter Aremania’, begitu judul skripnya.
Dalam penelitiannya itu, hadir dua faktor mengapa Yuli Sumpil sukses memimpin ribuan Aremania. Pertama, faktor internal mengenai kemampuan Yuli Sumpil mengikuti keadaan, melakukan pembicaraan, mengatur pembicaraan, menawarkan empati, berbicara secara efektif dan mendapat kelayakan.
Kedua, faktor penerimaan/janji dari khalayak tersebut. Sehingga, dalam konteks komunikasi publik yang bersifat informal maka kompetensi komunikasi tidak bisa dilepaskan dari faktor penerimaan oleh publiknya.
BACA SUMBER
Dedengkot Aremania, Yuli Sumpil, mendapatkan hukuman berat dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI yang telah resmi dikeluarkan pada Kamis (11/10/18). Bagaimana tidak, Yuli Sumpil tidak boleh hadir dalam pertandingan sepak bola seumur hidupnya.
Sanksi tersebut diberikan alasannya adalah agresi kurang terpujinya yang masuk ke lapangan pada pertandingan panas antara Arema FC vs Persebaya Surabaya. Yuli Sumpil masuk ke dalam lapangan bersama rekannya berjulukan Fandi.
Dirinya bahkan melaksanakan provokasi kepada kiper cadangan Persebaya, Alfonsius Kelvan. Yuli Sumpil mencoba untuk memancing emosi Kelvan dengan menabur uang di atas lapangan.
Yuli Sumpil sendiri memang kerap kali menghiasi pertandingan-pertandingan yang dijalani Arema FC di setiap musimnya. Akan sangat janggal bagi Arema kalau tak melihat sosok Yuli Sumpil di pinggir lapangan.
Kali ini INDOSPORT.com pun mecoba untuk membahas fakta-fakta Yuli Sumpil, suporter yang dihukum seumur hidup tak boleh menyaksikan pertandingan sepak bola.
1. Seorang Dirigen
Selebrasi gol Arema Indonesia, Aremania.
Yuli Sumpil merupakan suporter yang sangat fanatik dengan Arema FC yang juga merupakan seorang dirigen Aremania. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Yuli Sumpil tak pernah lelah berteriak di pinggir lapangan untuk Arema FC.
Dipilihnya Yuli Sumpil sebagai dirigen Aremania nyatanya karena dirinya mampu berkomunikasi dengan baik oleh ribuan Aremania dan kemampuannya membangkitkan semangat para suporter. Ia pun punya nilai plus karena mempunyai penampilan yang cukup nyentrik.
2. Menahan Lagu Rasis
Yuli Sumpil, dirijen Aremania menyerahkan pinjaman hasil dari iuran sukarela Aremania dengan nilai Rp 31 juta
Sebagai seorang dirigen, Yuli Sumpil yaitu orang yang akan memilih lagu mana dan gerakan badan apa yang harus dilakukan Aremania di atas tribun. Yuli Sumpil sempat menyampaikan bahwa dirinya berusaha keras biar tidak ada lagu rasis dikala tabrak berlangsung.
"Kita selalu berusaha tidak menyanyikan lagu berirama rasis. Selama suporter lawan tidak memancing lebih dulu, ya kita tidak membalas," ujar laki-laki yang selalu bangun memimpin suporter dari tribun timur Stadion Kanjuruhan itu.
"Kalau kami fokus saja pada nyanyian untuk mendukung Arema. Tapi, jikalau sahabat-sobat ingin bernyanyi yang sedikit provokatif, itu semata-mata untuk menaikkan tensi pertandingan saja," lanjutnya.
3. Ciptakan Lagu untuk Arema
Aremania mendatangi kantor Arema FC.
Yuli Sumpil juga sempat membuat lagu untuk dinyanyikan Aremania di setiap pertandingan yang dijalani Singo Edan. Lagu tersebut diciptakan khusus untuk menjalani ISL 2015 kemudian.
Lagu tersebut diciptakan biar para pemain, pelatih dan administrasi Arema FC tahu perjuangan para suporter. Karena menurutnya jiwa, harta dan nyawa dikhususkan untuk tim yang bermarkas di Stadion Kanjuruhan tersebut
4. Dinilai Mirip dengan Young Lex
Penampilan Yuli Sumpil nyatanya dinilai mirip dengan penyanyi rap Indonesia, Young Lex. Kemiripan itu hadir sebab keduanya mempunyai sikap yang kontroversial dan kerap kali mengeluarkan kata-kata bergairah dalam setiap aksinya.
Namun, sosok Yuli Sumpil tidak dibenci oleh sejumlah Aremania. Hal tersebut berbanding terbalik dengan agresi Young Lex yang kerap kali dibenci oleh netizen Indonesia.
Kesamaan lainnya yaitu Yuli Sumpil dan Young Lex sama-sama memiliki jiwa seni dalam menciptakan sebuah lagu. Namun bedanya, lagu yang diciptakan Yuli Sumpil tidak diniatkan untuk komersial.
5. Dijadikan Penelitian Skripsi
Sosok Yuli Sumpil nyatanya pernah diteliti oleh salah satu mahasiswa Universitas Kristen Petra Surabaya berjulukan Ayub Dahana. Mahasiswa itu mencoba untuk membahas ‘Kompetensi Komunikasi Yuli Sumpil dalam Memimpin Kelompok Suporter Aremania’, begitu judul skripnya.
Dalam penelitiannya itu, hadir dua faktor mengapa Yuli Sumpil sukses memimpin ribuan Aremania. Pertama, faktor internal mengenai kemampuan Yuli Sumpil mengikuti keadaan, melakukan pembicaraan, mengatur pembicaraan, menawarkan empati, berbicara secara efektif dan mendapat kelayakan.
Kedua, faktor penerimaan/janji dari khalayak tersebut. Sehingga, dalam konteks komunikasi publik yang bersifat informal maka kompetensi komunikasi tidak bisa dilepaskan dari faktor penerimaan oleh publiknya.
BACA SUMBER
Rafael Benitez: Does Newcastle Utd Manager Have St James' Park Future?
After consecutive wins and seven points out of a possible nine, people are finally beginning to believe Rafael Benitez's claims that his Newcastle United side are not going to be relegated.
But even if he does manage to keep them up, will it be enough to ensure he remains at St James' Park?
If he does maintain the momentum and ensures Premier League status, it will be an achievement to rival any of the managerial successes crafted over a long and illustrious career.
Can Benitez's vision be realised at Newcastle?
A victim of his own success by finishing 10th in the Premier League the season after winning promotion, you wonder if it would not have been better, having steered the family saloon to a mid-place finish in football's equivalent of a grand prix, to leave while he was ahead.
Had they beaten a virtually already relegated West Brom at home in their penultimate game of last season they would have finished in an almost unimaginable eighth place. It was a stressful season, and in the summer lots of doubts surfaced about how much the club was going to back the Spaniard's ambitious vision.
The spurious and scurrilous assertions that he only took - and remains in - the job for the money are as outrageous as they are inaccurate. The fact is Benitez was lured to Newcastle with the same dreams and aspirations as just about every single Newcastle fan. He, like they, wanted to wake the "sleeping giant".
For "sleeping", read comatose. Rip van Winkle, who slept for a mere 20 years, is practically an insomniac by comparison. Apart from the Championship and the kind of farce that was the Intertoto Cup, the last piece of silverware to sit in the club's trophy room was the Inter-Cities Fairs Cup from way back in 1969.
He did not come to the club with a plan to merely avoid relegation. He wanted to win, to compete.
And yet in the footballing-mad metropolis that is Tyneside, expectations are high. Unnaturally so, really, with the perception that a top-10 finish ought to be the bare minimum for a club with the facilities and fanbase that they enjoy.
If Benitez had merely been there for the money, he could name his price and leave for China tomorrow. But for the Spanish manager that would mean failure, quitting, and one thing Benitez is not, and never has been, is a quitter.
Ongoing money issues - can Benitez and Ashley find common ground?
It is about money, of course, but not for Benitez himself.
He needs it for the club, and not just on new players but also for much-needed investment in the academy, the lifeblood of the club that in the long term can help to raise it from its slumbers.
Backing on both fronts is conspicuous by its absence and much will depend on whether or not money is spent in the winter transfer window.
If it is not forthcoming then, despite Benitez's claim that Newcastle will survive, there is a very good chance that they will be relegated and that he will be sacked - or even move on.
It would then fall to the owner, Mike Ashley, to explain to the fans just why he had dispensed with the services of a manager who maximised the potential of a side despite having to watch on helplessly as the 'family silver' was sold off around him and replaced, largely, with borrowed or cut-price cutlery.
Relegation to the Championship at the end of 2015-16 led to a flurry of transfer activity and between July and August the club cashed in on quality players, with Moussa Sissoko (Tottenham), Georginio Wijnaldum (Liverpool), Andros Townsend (Crystal Palace), Daryl Janmaat (Watford), Remy Cabella (Marseille) and Papiss Cisse (Shandong Luneng) all leaving.
Cheick Tiote, who died in June 2017, and Fabricio Coloccini were given away presumably to reduce the wage bill.
About £87m worth of talent was sold, with about £57m re-invested on players including Dwight Gayle (Crystal Palace), Matt Ritchie (Bournemouth), Matz Sels (Gent), Grant Hanley (Blackburn Rovers), Ciaran Clark (Aston Villa) and Daryl Murphy (Ipswich). Those were quality players for the sasaran that season - to be promoted.
Despite the loss of quality, Newcastle won the Championship and won promotion alongside Brighton and Huddersfield.
Benitez's reward for gaining promotion and Newcastle's idea of preparing for a life in the Premier League was to have a net spend of about a third of what Huddersfield and Brighton spent in summer 2017. In fact, the net spend of about £20m still put them well in credit on transfer dealing during Rafa's rule and streets behind the vast majority of Premier League clubs.
Ashley's claim that he would "spend every penny generated" on improving the club has - to date - translated into a 2018-19 season in which he has made another net profit on the transfer market of about £7.5m.
What happens in the winter window will define the direction Benitez's relationship with Newcastle takes. The impression local observers have is that he would probably not extend his contract unless they spend and Newcastle say they will not spend unless the manager commits to the club.
It is not a western-style stand-off between Ashley and Benitez, though. It is a matter of vision and the possibility of a project - fundamentally nobody is asking the businessman to change how he runs his business, but also not to alter agreed parameters.
Witnesses at St James' Park have seen the owner enjoying his recent visits to the ground, sharing time with the manager and players. It might be a good time to find common ground.
From Valencia to Real Madrid - Benitez has been here before
Ashley's promises to Benitez on spending to strengthen the side will feel all too familiar - and hollow - to the 58-year-old, who more often than not gets the targets agreed at the start of projects but has to suffer the moving of the goal posts by owners and presidents.
In 2004, and having won two La Liga titles in three seasons with Valencia, he left the club after the board signed winger Fabian Canobbio rather than Samuel Eto'o, the player he had asked for.
"I was hoping for a sofa and they've brought me a lamp," he remarked.
But that was nothing compared to the debacle that awaited him at Liverpool, where the American duo Tom Hicks and George Gillett contrived to steer the club into a perilous position, with administration a possibility before they sold it in 2010.
There were more broken promises about rebuilding and so on at Inter Milan, where he signed and improved players like Philippe Coutinho - one of his great enjoyments - but where he did not get the players he chose and who were agreed with the ownership (Javier Mascherano and Dirk Kuyt).
There followed the universal and unwarranted loathing by almost everyone at Chelsea, despite bringing home the Europa League, before becoming yet another victim of the player power that permeates the Real Madrid dressing room when he took charge at the Bernabeu.
In such company, Newcastle and Ashley must have initially felt to Benitez like a philanthropic breath of fresh air.
Perhaps he should have known better.
A new contract on the table - but will he sign it?
A look at Benitez's statistics reveals an interesting story.
Despite having recorded Newcastle's worst 10-game start to a season since the 19th century, back-to-back wins means they are up to 14th in the table. For the time being at least, they can look upwards.
Tottenham are the only side from the top six to have beaten Benitez's Newcastle by more than two goals (August 2017) and in his past eight Premier League games against the top six he has either won (twice) or lost by a single goal.
All of which means one thing: Newcastle are close but clearly not close enough.
Benitez's contract comes to an end next summer. As it stands he has a renewal offer on the table, but to be signed the club have to show enough commitment with a project that should be around improving facilities and results, not just survival.
Should Salomon Rondon - on a year's loan from West Brom - continue to score for his new club then he may will dig them out of a hole, guarantee survival and once again Ashley will believe his approach has been vindicated. With Gayle having gone in the opposite direction to the Baggies, the two clubs should be able to sit down and work out a deal to suit all parties.
But it will probably take considerably more than that to ensure Benitez will be committing his future to the city that has adopted him as one of their own - and that is a real shame.
SOURCE
Jumat, 26 Juni 2026
Tertahan Di Mestalla, Barca Turun Dari Singgasana !!
Tertahan di Mestalla, Barca Turun dari Singgasana !!
Barcelona hanya mampu bermain imbang 1-1 masa bertamu ke markas Valencia, Estadio Mestalla dalam lanjutan La Liga 2018-19 jornada 8 yang digelar pada Senin (8/10) dini hari WIB.
Barca bahkan sempat tertinggal lebih dulu sesudah tuan rumah mencetak gol lewat Ezequiel Garay di menit-menit awal. Tim tamu baru bisa menciptakan skor kembali seimbang berkat gol Lionel Messi.
Laga berjalan belum genap dua menit, publik Mestalla sudah bergemuruh menyambut gol untuk Valencia yang dicetak Garay meneruskan sebuah sepak pojok Dani Parejo yang sempat mengenai kepala Gerad Pique.
Tak lama berselang, Valencia hampir saja menggandakan keunggulan mereka andai saja tembakan keras Michy Batshuayi tak digagalkan Marc-Andre Ter Stegen.
Valencia menerima dilema ketika Goncalo Guedes mengalami cedera dan terpaksa ditarik keluar di menit ke-12. Posisinya digantikan Denis Cheryshev.
Barcelona jadinya sukses menyamakan skor di menit ke-23 lewat tembakan khas Messi. Sebelumnya La Pulga melaksanakan kolaborasi satu-dua dengan Luis Suarez.
Valencia memperoleh peluang emas untuk kembali memimpin di menit ke-40. Sayang tembakan Jose Gaya ke tiang jauh masih melebar dari sasaran. Skor 1-1 bertahan hingga turun minum.
Kembali dari kamar ganti, Barcelona masih mendominasi berkelahi dari sisi penguasaan bola. Namun pasukan Ernesto Valverde tetap kesulitan untuk mengacak-acak pertahanan tuan rumah.
Entrenador Valencia, Marcelino Garcia Toral mencoba untuk meningkatkan intensitas serangan timnya dengan memasukkan Rodrigo untuk menggantikan Kevin Gameiro.
Tak ada gol yang berhasil diciptakan kedua tim di sisa langgar. Skor imbang 1-1 pun menjadi hasil simpulan tubruk ini. Hasil ini menciptakan Barcelona terpaksa kehilangan singgasana yang direbut Sevilla. Sementara Valencia masih tertahan di peringkat 13.
Susunan PemainValencia: Neto, Piccini, Garay, Paulista, Gaya, Soler, Parejo, Kondogbia (Coquelin 79'), Guedes (Cheryshev 12'), Gameiro (Rodrigo 67'), Batshuayi.
Barcelona: Ter Stegen; Semedo, Pique, Vermaelen, Jordi Alba; Busquets, Rakitic, Arthur (Rafinha 88'); Messi, Luis Suarez, Coutinho (Dembele 84').
sumber : bola.net
Barcelona hanya mampu bermain imbang 1-1 masa bertamu ke markas Valencia, Estadio Mestalla dalam lanjutan La Liga 2018-19 jornada 8 yang digelar pada Senin (8/10) dini hari WIB.
Barca bahkan sempat tertinggal lebih dulu sesudah tuan rumah mencetak gol lewat Ezequiel Garay di menit-menit awal. Tim tamu baru bisa menciptakan skor kembali seimbang berkat gol Lionel Messi.
Laga berjalan belum genap dua menit, publik Mestalla sudah bergemuruh menyambut gol untuk Valencia yang dicetak Garay meneruskan sebuah sepak pojok Dani Parejo yang sempat mengenai kepala Gerad Pique.
Tak lama berselang, Valencia hampir saja menggandakan keunggulan mereka andai saja tembakan keras Michy Batshuayi tak digagalkan Marc-Andre Ter Stegen.
Valencia menerima dilema ketika Goncalo Guedes mengalami cedera dan terpaksa ditarik keluar di menit ke-12. Posisinya digantikan Denis Cheryshev.
Barcelona jadinya sukses menyamakan skor di menit ke-23 lewat tembakan khas Messi. Sebelumnya La Pulga melaksanakan kolaborasi satu-dua dengan Luis Suarez.
Valencia memperoleh peluang emas untuk kembali memimpin di menit ke-40. Sayang tembakan Jose Gaya ke tiang jauh masih melebar dari sasaran. Skor 1-1 bertahan hingga turun minum.
Kembali dari kamar ganti, Barcelona masih mendominasi berkelahi dari sisi penguasaan bola. Namun pasukan Ernesto Valverde tetap kesulitan untuk mengacak-acak pertahanan tuan rumah.
Entrenador Valencia, Marcelino Garcia Toral mencoba untuk meningkatkan intensitas serangan timnya dengan memasukkan Rodrigo untuk menggantikan Kevin Gameiro.
Tak ada gol yang berhasil diciptakan kedua tim di sisa langgar. Skor imbang 1-1 pun menjadi hasil simpulan tubruk ini. Hasil ini menciptakan Barcelona terpaksa kehilangan singgasana yang direbut Sevilla. Sementara Valencia masih tertahan di peringkat 13.
Susunan PemainValencia: Neto, Piccini, Garay, Paulista, Gaya, Soler, Parejo, Kondogbia (Coquelin 79'), Guedes (Cheryshev 12'), Gameiro (Rodrigo 67'), Batshuayi.
Barcelona: Ter Stegen; Semedo, Pique, Vermaelen, Jordi Alba; Busquets, Rakitic, Arthur (Rafinha 88'); Messi, Luis Suarez, Coutinho (Dembele 84').
sumber : bola.net
Kamis, 18 Juni 2026
Lupakan Piala Aff 2018, Timnas Indonesia Langsung Menatap Kompetisi Ini, Bisa Juara Nih!
Lupakan Piala AFF 2018, Timnas Indonesia Langsung Menatap Kompetisi ini, Bisa Juara Nih!
Timnas Indonesia dipastikan gagal melaju ke babak semifinal Piala AFF 2018 meskipun masih menyisakan satu pertandingan lagi. Hal ini tidak terlepas dari hasil imbang yang didapat oleh Filipina pada pertandingan kontra Thailand beberapa waktu yang kemudian.
Kegagalan Timnas Indonesia lolos ke babak semifinal tidak hanya telah menunjukan kalau PSSI tidak becus dalam membina sepakbola Indonesia. Namun juga memunculkan tuntutan agar PSSI segera di reformasi agar prestasi Timnas Indonesia di lalu hari mampu lebih baik lagi.
Pada tahun 2019 mendatang, bahu-membahu Timnas Indonesia sudah dinantikan oleh beberapa kompetisi bergengsi yang mungkin bisa mereka juarai. Dilansir dari laman Indosport.com (23/11/2018) bahwa salah satunya ialah Piala AFF U-22 2019 yang akan dihelat pada awal tahun 2019 mendatang. Kompetisi ini juga menjadi ajang persiapan bagi negara-negara yang tampil di SEA Games 2018 supaya bisa mempersiapkan timnya lebih baik mungkin.
Piala AFF U-22 bukanlah kompetisi gres, sebab beberapa tahun yang lalu kompetisi semacam ini juga pernah digulirkan. Hanya saja, Piala AFF U-22 ini akan menjadi ajang jalan masuk bagi Timnas di level junior untuk mampu membela negara mereka.
Beberapa pelatih ternama di Indonesia mirip Indra Sjafri bahkan sudah diprediksi akan menukangi Timnas Indonesia U-22 ini. Sebab banyak pihak yang menyebut jika Timnas Indonesia U-22 nanti akan banyak dihuni oleh alumni Timnas Indonesia U-19.
Seperti yang kita ketahui bahwa dikala ini, PSSI tengah merencanakan pembentukan Timnas Indonesia yang berkesinambungan, dimana pelatih di timna ingusan akan terus mendampingi pemain yang mereka asuh saat tampil di kompetisi dengan tingkat yang lebih tinggi pada setiap tahunnya.
Lantas bagaimana dengan prediksi anda melihat bahwa Timnas Indonesia akan tampil di Piala AFF U-22 tersebut. Apakah anda yakin Indonesia mampu menjadi juara pada kompetisi kali ini?.
sumber : www.indosport.com
Timnas Indonesia dipastikan gagal melaju ke babak semifinal Piala AFF 2018 meskipun masih menyisakan satu pertandingan lagi. Hal ini tidak terlepas dari hasil imbang yang didapat oleh Filipina pada pertandingan kontra Thailand beberapa waktu yang kemudian.
Kegagalan Timnas Indonesia lolos ke babak semifinal tidak hanya telah menunjukan kalau PSSI tidak becus dalam membina sepakbola Indonesia. Namun juga memunculkan tuntutan agar PSSI segera di reformasi agar prestasi Timnas Indonesia di lalu hari mampu lebih baik lagi.
Pada tahun 2019 mendatang, bahu-membahu Timnas Indonesia sudah dinantikan oleh beberapa kompetisi bergengsi yang mungkin bisa mereka juarai. Dilansir dari laman Indosport.com (23/11/2018) bahwa salah satunya ialah Piala AFF U-22 2019 yang akan dihelat pada awal tahun 2019 mendatang. Kompetisi ini juga menjadi ajang persiapan bagi negara-negara yang tampil di SEA Games 2018 supaya bisa mempersiapkan timnya lebih baik mungkin.
Piala AFF U-22 bukanlah kompetisi gres, sebab beberapa tahun yang lalu kompetisi semacam ini juga pernah digulirkan. Hanya saja, Piala AFF U-22 ini akan menjadi ajang jalan masuk bagi Timnas di level junior untuk mampu membela negara mereka.
Beberapa pelatih ternama di Indonesia mirip Indra Sjafri bahkan sudah diprediksi akan menukangi Timnas Indonesia U-22 ini. Sebab banyak pihak yang menyebut jika Timnas Indonesia U-22 nanti akan banyak dihuni oleh alumni Timnas Indonesia U-19.
Seperti yang kita ketahui bahwa dikala ini, PSSI tengah merencanakan pembentukan Timnas Indonesia yang berkesinambungan, dimana pelatih di timna ingusan akan terus mendampingi pemain yang mereka asuh saat tampil di kompetisi dengan tingkat yang lebih tinggi pada setiap tahunnya.
Lantas bagaimana dengan prediksi anda melihat bahwa Timnas Indonesia akan tampil di Piala AFF U-22 tersebut. Apakah anda yakin Indonesia mampu menjadi juara pada kompetisi kali ini?.
sumber : www.indosport.com
Senin, 15 Juni 2026
Neymar Sudah Kembali Ke Psg
Neymar Sudah Kembali ke PSG
6 Mei 2018
Neymar telah kembali ke PSG selepas mengalami kecederaan. Dia dilihat melaksanakan aktiviti di PSG untuk memulihkan kecergasannya sebelum kembali ke lapangan.
Pemain bintang PSG telah ditarik keluar dari padang hijau semenjak Februari lalu. Permainan terakhir ia akan menghadapi Marseille. Dalam permainan, Neymar mengalami kecederaan.
Jurulatih PSG, Unai Emery, sendiri memberi petunjuk bahawa Neymar akan kembali bermain sebelum musim berakhir. Tetapi dalam apa perlawanan pemain Brazil akan kembali tidak ada akreditasi.
Pasti, Neymar telah kembali ke Perancis selepas beberapa waktu menjalani pemulihan di Brazil. Dia dilihat berlatih di gym di Pusat Latihan Ooredoo untuk memulihkan kecergasannya sebelum kembali bermain.
"Dia kelihatan biasa. Neymar kembali bekerja di Pusat Latihan Ooredoo," kenyataan itu menyampaikan PSG media umum.
PSG sendiri dalam perlawanan terakhir menentang Amiens di Ligue 1 memperoleh seri 2-2. Dalam perlawanan seterusnya, PSG akan bertemu dengan Les Herbiers dalam perlawanan tamat Coupe de Francis.
Jika PSG dapat mengalahkan satu pasukan dari bahagian ketiga di Perancis, maka mereka akan merebut tiga gelaran domestik isu terkini ini. Selepas itu, PSG akan bermain di Ligue 1 sekali lagi menghadapi Rennes dan Caen.
Sementara itu, Neymar juga berharap mampu pulih tidak lama lagi dan kembali bermain. Sebabnya, Brazil akan menjalani perlawanan sulung di Piala Dunia 2018 ke Switzerland pada 17 Jun tempatan.
sumber: bola.net
6 Mei 2018
Neymar telah kembali ke PSG selepas mengalami kecederaan. Dia dilihat melaksanakan aktiviti di PSG untuk memulihkan kecergasannya sebelum kembali ke lapangan.
Pemain bintang PSG telah ditarik keluar dari padang hijau semenjak Februari lalu. Permainan terakhir ia akan menghadapi Marseille. Dalam permainan, Neymar mengalami kecederaan.
Jurulatih PSG, Unai Emery, sendiri memberi petunjuk bahawa Neymar akan kembali bermain sebelum musim berakhir. Tetapi dalam apa perlawanan pemain Brazil akan kembali tidak ada akreditasi.
Pasti, Neymar telah kembali ke Perancis selepas beberapa waktu menjalani pemulihan di Brazil. Dia dilihat berlatih di gym di Pusat Latihan Ooredoo untuk memulihkan kecergasannya sebelum kembali bermain.
"Dia kelihatan biasa. Neymar kembali bekerja di Pusat Latihan Ooredoo," kenyataan itu menyampaikan PSG media umum.
PSG sendiri dalam perlawanan terakhir menentang Amiens di Ligue 1 memperoleh seri 2-2. Dalam perlawanan seterusnya, PSG akan bertemu dengan Les Herbiers dalam perlawanan tamat Coupe de Francis.
Jika PSG dapat mengalahkan satu pasukan dari bahagian ketiga di Perancis, maka mereka akan merebut tiga gelaran domestik isu terkini ini. Selepas itu, PSG akan bermain di Ligue 1 sekali lagi menghadapi Rennes dan Caen.
Sementara itu, Neymar juga berharap mampu pulih tidak lama lagi dan kembali bermain. Sebabnya, Brazil akan menjalani perlawanan sulung di Piala Dunia 2018 ke Switzerland pada 17 Jun tempatan.
sumber: bola.net
Minggu, 14 Juni 2026
Bola Liga Indonesia Edy Rahmayadi: Saya Mundur Dari Pssi Sebab Bertanggung Jawab
Home Bola Liga Indonesia Edy Rahmayadi: Saya Mundur dari PSSI alasannya adalah Bertanggung Jawab
KOMPAS.com - Edy Rahmayadi telah menyatakan mundur sebagai Ketua Umum PSSI pada Minggu (20/1/2019). Hal tersebut beliau nyatakan dalam Kongres PSSI yang tengah berlangsung di Bali, tepatnya di Sofitel Bali Nusa Dua Beach Resort, Bali. Terkait pengunduran dirinya itu, Edy menyatakan bahwa ia mundur karena bertanggung jawab dan tak ingin mengkhianati PSSI. "Saya nyatakan hari ini saya mundur dari ketua. Dengan syarat, jangan khianati PSSI ini," kata Edy dikutip dari Tribun Bali. "Jangan sebab satu hal lain terus kita bercokol merusak rumah besar ini. Saya mundur bukan karena saya tidak bertanggung jawab, tetapi alasannya saya bertanggung jawab," ucap Edy dalam pidatonya.
Sebelumnya, Edy Rahmayadi terpilih sebagai Ketua Umum PSSI masa 2016-2020 dalam Kongres PSSI yang digelar di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Kamis (10/11/2016). Saat itu, Edy mengalahkan kandidat lainnya, yakni Bernhard Limbong, Kurniawan Dwi Yulianto, Eddy Rumpoko, Moeldoko, dan Sarman. Kemudian, Edy memenangi Pemilihan Gubernur Sumatera Utara pada 2018 lalu. Dia pun menjabat sebagai Gubernur Sumut, sekaligus Ketua Umum PSSI. Kini, Edy telah menyatakan mundur sebagai Ketua Umum PSSI.
sumber : bola.kompas.com
Rabu, 27 Mei 2026
Lionel Messi Sengaja Bermain Jelek Di Piala Dunia 2018?
top news !!! Lionel Messi Sengaja Bermain Jelek di Piala Dunia 2018?
Lionel Messi masih belum terbebas dari sorotan tajam usai kekalahan 0-3 tim nasional Argentina saat menghadapi timnas Kroasia pada Jumat (22/6/2018).
Kapten timnas Argentina tersebut kembali gagal mencetak gol sehabis urung menyarangkan bola pada langgar pertama fase grup melawan timnas Islandia.
Kini Lionel Messi disebut sebagai biang keladi kegagalan Argentina tersebut.
Pelatih asal Argentina, Ricardo Caruso Lombardi, menilai bahwa Messi memang sengaja bermain buruk pada dua sabung awal Piala Dunia 2018.
"Messi telah menghancurkan tujuh instruktur. Saya merasa bahwa beliau sengaja bermain buruk agar Jorge Sampaoli dikritik pedas," kata Lombardi mirip dilansir BolaSport.com dari Marca.
Tanpa ampun, Lombardi bahkan menasihati Argentina untuk bertindak tegas terhadap Messi.
"Argentina harus mengeluarkan Messi sebab dia sama sekali tak peduli. Ia bermain di luar kode pelatih," kata Lombardi.
"Dia selalu ingin dikelilingi oleh para pemain yang beliau sukai saja, tetapi bukan nama-nama terbaik," ucap Lombardi menambahkan.
Messi sebetulnya menjadi sosok sentral dalam kelolosan Argentina ke putaran grup Piala Dunia 2018.
Ia mencetak hat-trick ke gawang Ekuador di tubruk terakhir Kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Amerika Selatan atau Conmebol.
Namun penampilan Messi di Piala Dunia 2018 justru antiklimaks dengan belum mencetak gol sama sekali.
Hal ini menciptakan pasukan Jorge Sampaoli gres mampu mengoleksi satu poin dari sepasang adu yang telah dimainkan di Rusia 2018.
sumber : bolasport.com
Lionel Messi masih belum terbebas dari sorotan tajam usai kekalahan 0-3 tim nasional Argentina saat menghadapi timnas Kroasia pada Jumat (22/6/2018).
Kapten timnas Argentina tersebut kembali gagal mencetak gol sehabis urung menyarangkan bola pada langgar pertama fase grup melawan timnas Islandia.
Kini Lionel Messi disebut sebagai biang keladi kegagalan Argentina tersebut.
Pelatih asal Argentina, Ricardo Caruso Lombardi, menilai bahwa Messi memang sengaja bermain buruk pada dua sabung awal Piala Dunia 2018.
"Messi telah menghancurkan tujuh instruktur. Saya merasa bahwa beliau sengaja bermain buruk agar Jorge Sampaoli dikritik pedas," kata Lombardi mirip dilansir BolaSport.com dari Marca.
Tanpa ampun, Lombardi bahkan menasihati Argentina untuk bertindak tegas terhadap Messi.
"Argentina harus mengeluarkan Messi sebab dia sama sekali tak peduli. Ia bermain di luar kode pelatih," kata Lombardi.
"Dia selalu ingin dikelilingi oleh para pemain yang beliau sukai saja, tetapi bukan nama-nama terbaik," ucap Lombardi menambahkan.
Messi sebetulnya menjadi sosok sentral dalam kelolosan Argentina ke putaran grup Piala Dunia 2018.
Ia mencetak hat-trick ke gawang Ekuador di tubruk terakhir Kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Amerika Selatan atau Conmebol.
Namun penampilan Messi di Piala Dunia 2018 justru antiklimaks dengan belum mencetak gol sama sekali.
Hal ini menciptakan pasukan Jorge Sampaoli gres mampu mengoleksi satu poin dari sepasang adu yang telah dimainkan di Rusia 2018.
sumber : bolasport.com
Minggu, 17 Mei 2026
Netizen Indonesia Meradang Di Akun Resmi Afc Usai Timnas Singapura Taklukan Mongolia, Ini Karena
Netizen Indonesia Meradang !! di Akun Resmi AFC Usai Timnas Singapura Taklukan Mongolia, Ini Alasannya
Timnas Singapura gres saja menyelesaikan laga uji coba menghadapi timnas Mongolia di Stadion Bishan pada Jumat (12/10/2018)
Menjamu Mongolia, timnas Singapura berhasil menaklukan sang tamu.
Dalam adu tersebut, timnas Singapura menaklukan Mongolia dengan skor 2-0.
Namun, usai kemenangan timnas Singapura tersebut, netizen Indonesia justru kedapatan meradang di akun resmi federasi sepak bola Asia (AFC).
Netizen Indonesia kedapatan melontarkan banyak komentar bernada pedas di akun tersebut.
Ternyata alasan di balik meradangnya para netizen Indonesia karena AFC mengunggah hasil kemenangan timnas Singapura tapi tidak mengunggah hasil timnas Indonesia pada Rabu (10/10/2018) kemudian.
"Indonesia 3-0 Myanmar tak diunggah, kenapa?" tulis akun @yudhiansyah12.
"Woy min, Indonesia vs Myanmar mana @theafchub," tulis akun @pajarifkymuhammad___.
"Indo gak di infoin?" tulis akun @haniffkhusnaa_.
"Indonesia mana yang lawan myanmar?" tulis akun @iamsyahroni23.
"Kemaren indonesia menang atas mnyanmar kok gak di post," tulis akun @muhamdherry.
"Where is indonesia result dude?" tulis akun @said.iskandar.
"Indonesia 3-0 Myanmar kok kagak di post, adminnya....," tulis akun @doniipratamaaa_.
Kala itu, timnas Indonesia juga melakukan berkelahi uji coba internasional menghadapi timnas Myanmar.
Indonesia berhasil menang 3-0, namun hasil pertandingan itu tak diberitakan oleh AFC di akun resminya.
sumber : bolasport.com
Timnas Singapura gres saja menyelesaikan laga uji coba menghadapi timnas Mongolia di Stadion Bishan pada Jumat (12/10/2018)
Menjamu Mongolia, timnas Singapura berhasil menaklukan sang tamu.
Dalam adu tersebut, timnas Singapura menaklukan Mongolia dengan skor 2-0.
Namun, usai kemenangan timnas Singapura tersebut, netizen Indonesia justru kedapatan meradang di akun resmi federasi sepak bola Asia (AFC).
Netizen Indonesia kedapatan melontarkan banyak komentar bernada pedas di akun tersebut.
Ternyata alasan di balik meradangnya para netizen Indonesia karena AFC mengunggah hasil kemenangan timnas Singapura tapi tidak mengunggah hasil timnas Indonesia pada Rabu (10/10/2018) kemudian.
"Indonesia 3-0 Myanmar tak diunggah, kenapa?" tulis akun @yudhiansyah12.
"Woy min, Indonesia vs Myanmar mana @theafchub," tulis akun @pajarifkymuhammad___.
"Indo gak di infoin?" tulis akun @haniffkhusnaa_.
"Indonesia mana yang lawan myanmar?" tulis akun @iamsyahroni23.
"Kemaren indonesia menang atas mnyanmar kok gak di post," tulis akun @muhamdherry.
"Where is indonesia result dude?" tulis akun @said.iskandar.
"Indonesia 3-0 Myanmar kok kagak di post, adminnya....," tulis akun @doniipratamaaa_.
Kala itu, timnas Indonesia juga melakukan berkelahi uji coba internasional menghadapi timnas Myanmar.
Indonesia berhasil menang 3-0, namun hasil pertandingan itu tak diberitakan oleh AFC di akun resminya.
sumber : bolasport.com
Senin, 11 Mei 2026
Takluk Dari Korsel !!! Timnas Indonesia U-23 Tanpa Kemenangan Di 6 Sabung
Takluk dari Korsel !!! Timnas Indonesia U-23 Tanpa Kemenangan di 6 Laga
Cibinong - Timnas Indonesia U-23 kembali menelan hasil buruk pada uji coba menuju Asian Games 2018. Melawan Korea Selatan di Stadion Pakansari, Cibinong, Sabtu (23/6/2018), Indonesia mengalah 1-2.
Hasil ini melanjutkan tren jelek Timnas Indonesia U-23 dalam berkelahi uji coba. Tercatat, sudah enam laga uji coba yang mereka lewati tanpa kemenangan. Sebelumnya, mereka kalah 0-1 dari Bahrain, 0-0 kontra Korea Utara, 0-0 kontra Uzbekistan, 1-2 dari Thailand, dan 0-0 melawan Thailand.
Sebagai tuan rumah, Indonesia lebih dulu mengambil inisiatif serangan. Lewat kecepatan para pemain sayap mirip Febri Hariyadi dan Riko Simanjuntak, mereka mencoba menusur pertahanan Korsel.
Septian David Maulana memiliki peluang emas di menit keenam. Menerima umpan terobosan dan lolos jebakan offside, beliau mendapatkan ruang tembak di dalam kotak penalti. Sayang, arah tendangannya masih jauh dari target.
Tempo permainan cepat yang diperagakan Garuda Muda hingga menit ke-10 mampu diladeni Korsel. Meski lebih mengandalkan serangan balik, tim Negeri Gingseng itu mampu mengimbangi kecepatan para pemain Indonesia.
Serangan seporadis sempat dilancarkan tuan rumah di menit ke-12. Berawal dari skema serangan balik, Riko Simanjuntak sempat merebut bola dari kaki pemain Korsel. Sayang, serangan tersebut diakhiri dengan tendangan spekulasi Nelson Alom yang tak mengenai target.
Di menit ke-12, Korsel sempat mengancam pertahanan anak latih Luis Milla itu. Lee Keun Ho melepaskan tendangan keras dari luar kotak penalti yang masih melenceng tipis di sisi kanan gawang Indonesia kawalan Muhammad Ridho.
Memasuki menit ke-20, Korsel gantian mengambil alih kendali permainan. Tim asuhan Kim Hag Bum itu dengan leluasa memainkan bola dari kaki ke kaki. Setiap serangan yang mereka bangkit, gawang Indonesia selalu terancam.
Hingga memasuki menit ke-30, Alberto Goncalves sebagai penyerang tunggal Indonesia pun masih minim menerima peluang. Tak ada pasokan umpan matang yang tiba dari lini kedua seperti Febri, Riko, dan Septian David.
Di menit ke-35, peluang emas balasannya didapat Beto. Riko mengirimkan umpan silang mendatar yang cukup matang. Sayang, Beto gagal mendapatkan momen yang tepat untuk melakukan sontekan pada bola.
Di menit ke-40, giliran Korsel yang memiliki peluang emas lewat serangan balik. Beruntung, tendangan Lee Jinhyun masih melammbung jauh di atas mistar gawang Muhammad Ridho. Tiga menit lalu, Korsel kesudahannya mencetak gol. Dari situasi sepak pojok, Jeong Taewook mencetak gol lewat tandukan. Babak pertama ditutup dengan keunggulan 1-0 tim tamu.
Babak Kedua
Luis Milla melaksanakan beberapa perubahan di babak kedua. Di antaranya adalah memasukkan Osvaldo Haay dan Stefano Lilipaly. Masuknya dua pemain itu menciptakan serangan Indonesia jauh lebih terorganisasi.
Di menit ke-54, Indonesia pun menerima peluang lewat kerja sama apik dengan Beto. Namun, tendangan mendatar yang dilepaskan Febri masih mudah diamankan kiper Korsel, Kang Hyeonmu.
Peluang lebih terbuka didapat Beto di menit ke-57. Mendapat operan dari Putu Gede Juni Antara, penyerang Sriwijaya FC itu gagal menanduk bola ke arah gawang Korsel.
Permainan Indonesia di babak kedua tak jauh berbeda jika dibandingkan dengan babak pertama. Tempo permainan cepat masih mereka peragakan, tapi sulit bagi Beto dan mitra-mitra untuk memaksimalkan setiap serangan.
Salah satunya yakni peluang yang didapat Osvaldo di menit ke-69. Menerima umpan Beto dari sisi kanan pertahanan Korsel, Osvaldo yang berada di depan gawang gagal mengarahkan bola ke posisi yang sempurna. Sontekannya malah melenceng ke sisi kanan gawang.
Di menit ke-77, giliran Febri yang menerima peluang emas. Mengecoh satu pemain, Febri menggiring bola hingga berhadapan eksklusif dengan kiper Korsel. Namun, tendangannya malah mengenai kaki kiper Korsel dan melenceng dari gawang.
Upaya tuan rumah akibatnya menuai hasil di menit ke-90+3. Serangan bertubi-tubi Indonesia diakhiri dengan sundulan Hansamu Yama Pranata yang gagal diantisipasi kiper Korsel.
Sayang, Indonesia justru sedikit lengah di menit-menit simpulan. Berawal dari situasi bola mati, bola liar tepisan Awan Setho dilanjutkan Han Seunggyu untuk mencetak gol kemenangan Korsel dari luar kotak penalti.
Susunan Pemain
Indonesia: Muhammad Ridho; Putu Gede Juni Antara, Ricky Fajrin, Hansamu Yamaha Pranata, Rezaldi Hehanusa, Muhammad Hargianto, Nelson Alom, Febri Hariyadi, Riko Simanjuntak, Septian David Maulana, Alberto Goncalves
Pelatih: Luis Milla
Korsel: Kang Hyeonmu; Jeong Taewook, Lee Siyoung, Kim Jinya, Hwang Hyunsoo, Kim Geonung, Lee Jinhyun, Kim Hyeonug, Lee Donggyeong, Kim Jungmin, Lee Keun Ho
Pelatih: Kim Hag Bum
sumber : liputan6.com
Cibinong - Timnas Indonesia U-23 kembali menelan hasil buruk pada uji coba menuju Asian Games 2018. Melawan Korea Selatan di Stadion Pakansari, Cibinong, Sabtu (23/6/2018), Indonesia mengalah 1-2.
Hasil ini melanjutkan tren jelek Timnas Indonesia U-23 dalam berkelahi uji coba. Tercatat, sudah enam laga uji coba yang mereka lewati tanpa kemenangan. Sebelumnya, mereka kalah 0-1 dari Bahrain, 0-0 kontra Korea Utara, 0-0 kontra Uzbekistan, 1-2 dari Thailand, dan 0-0 melawan Thailand.
Sebagai tuan rumah, Indonesia lebih dulu mengambil inisiatif serangan. Lewat kecepatan para pemain sayap mirip Febri Hariyadi dan Riko Simanjuntak, mereka mencoba menusur pertahanan Korsel.
Septian David Maulana memiliki peluang emas di menit keenam. Menerima umpan terobosan dan lolos jebakan offside, beliau mendapatkan ruang tembak di dalam kotak penalti. Sayang, arah tendangannya masih jauh dari target.
Tempo permainan cepat yang diperagakan Garuda Muda hingga menit ke-10 mampu diladeni Korsel. Meski lebih mengandalkan serangan balik, tim Negeri Gingseng itu mampu mengimbangi kecepatan para pemain Indonesia.
Serangan seporadis sempat dilancarkan tuan rumah di menit ke-12. Berawal dari skema serangan balik, Riko Simanjuntak sempat merebut bola dari kaki pemain Korsel. Sayang, serangan tersebut diakhiri dengan tendangan spekulasi Nelson Alom yang tak mengenai target.
Di menit ke-12, Korsel sempat mengancam pertahanan anak latih Luis Milla itu. Lee Keun Ho melepaskan tendangan keras dari luar kotak penalti yang masih melenceng tipis di sisi kanan gawang Indonesia kawalan Muhammad Ridho.
Memasuki menit ke-20, Korsel gantian mengambil alih kendali permainan. Tim asuhan Kim Hag Bum itu dengan leluasa memainkan bola dari kaki ke kaki. Setiap serangan yang mereka bangkit, gawang Indonesia selalu terancam.
Hingga memasuki menit ke-30, Alberto Goncalves sebagai penyerang tunggal Indonesia pun masih minim menerima peluang. Tak ada pasokan umpan matang yang tiba dari lini kedua seperti Febri, Riko, dan Septian David.
Di menit ke-35, peluang emas balasannya didapat Beto. Riko mengirimkan umpan silang mendatar yang cukup matang. Sayang, Beto gagal mendapatkan momen yang tepat untuk melakukan sontekan pada bola.
Di menit ke-40, giliran Korsel yang memiliki peluang emas lewat serangan balik. Beruntung, tendangan Lee Jinhyun masih melammbung jauh di atas mistar gawang Muhammad Ridho. Tiga menit lalu, Korsel kesudahannya mencetak gol. Dari situasi sepak pojok, Jeong Taewook mencetak gol lewat tandukan. Babak pertama ditutup dengan keunggulan 1-0 tim tamu.
Babak Kedua
Luis Milla melaksanakan beberapa perubahan di babak kedua. Di antaranya adalah memasukkan Osvaldo Haay dan Stefano Lilipaly. Masuknya dua pemain itu menciptakan serangan Indonesia jauh lebih terorganisasi.
Di menit ke-54, Indonesia pun menerima peluang lewat kerja sama apik dengan Beto. Namun, tendangan mendatar yang dilepaskan Febri masih mudah diamankan kiper Korsel, Kang Hyeonmu.
Peluang lebih terbuka didapat Beto di menit ke-57. Mendapat operan dari Putu Gede Juni Antara, penyerang Sriwijaya FC itu gagal menanduk bola ke arah gawang Korsel.
Permainan Indonesia di babak kedua tak jauh berbeda jika dibandingkan dengan babak pertama. Tempo permainan cepat masih mereka peragakan, tapi sulit bagi Beto dan mitra-mitra untuk memaksimalkan setiap serangan.
Salah satunya yakni peluang yang didapat Osvaldo di menit ke-69. Menerima umpan Beto dari sisi kanan pertahanan Korsel, Osvaldo yang berada di depan gawang gagal mengarahkan bola ke posisi yang sempurna. Sontekannya malah melenceng ke sisi kanan gawang.
Di menit ke-77, giliran Febri yang menerima peluang emas. Mengecoh satu pemain, Febri menggiring bola hingga berhadapan eksklusif dengan kiper Korsel. Namun, tendangannya malah mengenai kaki kiper Korsel dan melenceng dari gawang.
Upaya tuan rumah akibatnya menuai hasil di menit ke-90+3. Serangan bertubi-tubi Indonesia diakhiri dengan sundulan Hansamu Yama Pranata yang gagal diantisipasi kiper Korsel.
Sayang, Indonesia justru sedikit lengah di menit-menit simpulan. Berawal dari situasi bola mati, bola liar tepisan Awan Setho dilanjutkan Han Seunggyu untuk mencetak gol kemenangan Korsel dari luar kotak penalti.
Susunan Pemain
Indonesia: Muhammad Ridho; Putu Gede Juni Antara, Ricky Fajrin, Hansamu Yamaha Pranata, Rezaldi Hehanusa, Muhammad Hargianto, Nelson Alom, Febri Hariyadi, Riko Simanjuntak, Septian David Maulana, Alberto Goncalves
Pelatih: Luis Milla
Korsel: Kang Hyeonmu; Jeong Taewook, Lee Siyoung, Kim Jinya, Hwang Hyunsoo, Kim Geonung, Lee Jinhyun, Kim Hyeonug, Lee Donggyeong, Kim Jungmin, Lee Keun Ho
Pelatih: Kim Hag Bum
sumber : liputan6.com
Minggu, 12 April 2026
Emiliano Sala - A 'South American Warrior'& The ,Local Carlos Tevez'
Emiliano Sala: Profile of 'a South American warrior' & the 'local Carlos Tevez'
At 28, Emiliano Sala had just reached football maturity, and his move to Cardiff was shaping up to be a thrilling adventure.
The transfer marked belated recognition for a player who might be imperfect technically but who is physical, courageous - and endearing.
On the pitch, he is confrontational; off it, he has led a quiet life.
He loves detective novels and would never go to an away game without taking a book. He plays guitar too but took that up quite late, and usually prefers to leave it at home.
A common morning sight in Nantes was Sala, seated at a table outside a cafe with his Labrador Naja curled up at his feet.
Destiny is cruel.
Fans of Nantes football club spent the whole of January hoping - rumour had it that Sala didn't really want to leave for Cardiff. His coach, Vahid Halilhodzic, had rekindled his career last October following a long period of struggle under former manager Miguel Cardoso and refused to discuss the possibility of his striker leaving.
Halilhodzic - himself a former centre-forward at Nantes - had decided his mission was to relaunch the Argentine player, whose role model since childhood had been the legendary striker Gabriel Batistuta.
"He's a sensitive young man; he needs to feel confident, so the priority was to help him believe in himself. Only after that could we talk, striker-to-striker," said Halilhodzic.
Sala confirmed: "The club was ready to sell me to Galatasaray, but I held on tight. I have no regrets, because Vahid and I talk a lot, and I'm steadily improving."
Between July and September, during the Cardoso kala at Nantes, Sala scored four times; between October and December, he scored eight times.
'If he were an English player, he would be Jamie Vardy'
Sala is first and foremost an instinctive striker.
If he were an English player, he would be Jamie Vardy: a player who likes wide spaces and being part of a team that has a strong counter-attacking style; a lively, light player but one who is also resilient and reliable - a real South American warrior.
During his time with French club Niort he was often referred to as "the local Carlos Tevez".
Sala was also a skilled 'fox in the box', thanks particularly to his exceptional finishing ability with his head. He had perfect timing, and he was clinical on set pieces with his great headers. There is no doubt his technique still lacked something, but the Premier League looked like his turf to conquer.
He was initially unsure about joining a club struggling in their own league, but Kita, the president of Nantes, didn't want to miss out on the 17m euro transfer fee.
The player Cardiff wanted was the Sala that Halilhodzic had so successfully polished and relaunched.
In Argentina, Sala trained in San Francisco, Cordoba, at an academy allied to Bordeaux, moving to France to join Bordeaux when he was 20.
Everyone who knew him there agrees - Emiliano was a good guy and a good team-mate.
On Tuesday, Felipe Saad, who played with Sala at Caen, told L'Equipe: "He was a lovable, generous fellow. He always believed that football was a team sport. I am so shaken.
"His move to Cardiff was going to bring him the recognition he deserved, albeit belatedly. He so deserved his talent to be recognised."
It is true that Sala's progress was rather slow: people still referred to him as a "promising talent" when he was 23 and at Bordeaux.
His team-mates even poked fun at him for his unpolished style on the field - so much so that, after a season spent in the Bordeaux reserves in 2011-12, Sala was loaned to Orleans, then a Niveau 3 team. He went on to score 19 goals in 37 matches.
Next came another loan, this time to Niort, in D2. Initially, Sala's then-coach Pascal Gastieu had no real interest in him.
"I considered his technique to only be adequate, though everything else was there," said Gastieu. "He was a generous guy and when he was on the field he never gave up.
"He knew he had room for improvement, especially on a technical level. He'll reach full maturity later than the average player, you'll see."
At the time, Sala agreed: "My headers aren't good enough, even though I'm tall. It's something I'll have to work on."
Sala's next loan move took him to Caen. It wasn't always easy for him, a joint Italian-Argentine national, to be constantly on the move. But he eventually found his feet at Nantes, where he won an initial five-year contract.
It didn't take Sala long to establish himself and soon Wolves, then in the Championship, got in touch with Nantes about him. President Kita, who had signed Sala a year earlier for 1m euros, rejected the 4m euro offer.
Sala had been tempted - "this might be the second division, but that's the English league" - but he knew that, even at 26, he wasn't yet mature enough to go up against the solid defence of English teams.
"I haven't left my mark on Nantes yet. If I was to leave, I would want it to be after I've made it, and I'd want to leave a good memory of me."
Sala could be spotted outside a cafe in Nantes, having breakfast with Naja, as recently as a few days ago.
Afterwards, he went to say goodbye to his Nantes team-mates. Then he boarded a plane to Cardiff.
source : bbc.com
Selasa, 07 April 2026
Unggah Foto Liburan, Baju Roy Kiyoshi Ini Jadi Materi Candaan Netizen, Aduh Bang Roy !
Unggah Foto Liburan, Baju Roy Kiyoshi Ini Makara Bahan Candaan Netizen, Aduh Bang Roy !
Siapa yang tidak mengenal selebriti yang mendadak viral ini, sobat niscaya tahu dan tidak heran jika dia sering dibicarakan karena sebab keunikan yang dimilikinya tersebut.
Teman-sobat pasti tahu kebiasaan atau lebih tepatnya khasnya Roy Kiyoshi dikala tampil di televisi, hmmm saya mencium wangi-bacin sesuatu kayaknya, begitulah kalimat yang pertama kali diucapkan oleh roy sendiri, ditambah lagi dengan kemampuan nya yakni sebagai indigo menciptakan dirinya kini semakin populer di publik.
Roy sendiri sering membagikan kegiatannya melalu instagram, di akun instagramnya @roykiyoshi dia membagikan sebuah postingan dirinya sedang berlibur di Burano, Italia, namun netizen malah mengomentari hal lain tentang Roy yakni pakain nya dan hal tersebut menjadi bahan candaan netizen
Pada foto tersebut Roy menggunakan baju berwarna merah muda yang bangun dalam sebuah lorong kuning.
"Salfok sama baju nya ka, pingki pingki gtu @roykisyoshi" ujar pemilik akun @_wulan.m.
"Aku Kira BlackPink Ter nyata Koko" Sahut akun @davv.n.
"Koko kok kayak di dalam jeruk yah" Ujar pemilik akun @dewi.firni_
"kalau di liat liat baju koko lucu ya pink kayak patrick hahhahahahah" sahut akun @najfhiska.
Sumber : www.tribunnews.com
Langganan:
Postingan (Atom)



















