Minggu, 22 April 2018

Dimainkan Hanya Jadi Beban, Biang Kerok Kekalahan Indonesia Ini Harusnya Dicadangkan Saja!


Dilansir dari Bola.com (15/08/2018) Timnas Indonesia u23 secara mengejutkan kalah atas lawannya adalah Palestina u23 dengan skor tipis adalah 2-1. Dan, gol tunggal dari Indonesia di kreasi oleh Irfan Jaya.

Ya, tampil apik namun jauh dari impian, Luis Milla telah benar melaksanakan rotasi demi taktik, akan tetapi menciptakan kesalahan besar dengan memainkan pemain-pemain berikut ini, yuk disimak guys.

1. David Maulana
Ya, bermain dengan seni manajemen False Nine dan berharap David maulana bermain apik, ternyata jauh dari cita-cita. Dan, jikalau sejak awal Ilham Udin yang dimainkan, mungkin skor pun bisa bermetamorfosis kemenangan.

2. Bagas Adi
Ya, bermain kurang greget dan beberapa kali kalah duel soal kecepatan dengan winger Palestina dan ketambahan cedera, harusnya Luis Milla memainkan Rezaldi sejak menit awal.

Nah, itulah beberapa pemain yang dimainkan hanya jadi beban atau mampu disebut sebagai biang kerok kekalahan Indonesia u23 atas Palestina u23. Hmm, lantas bagaimana tanggapan kalian mengenai pemain-pemain tersebut sobat Ucers? Apakah layak dicadangkan saja?
Sumber: UCnews.com

Senin, 16 April 2018

3 Kandidat Terkuat Pelatih Timnas Senior

Menjelang Piala AFF senior yang akan digelar pada November hingga Desember mendatang, PSSI ternyata secara membisu-diam tengah mencari instruktur yang nantinya akan menangani Timnas senior di ajang tersebut.

Seperti dilansir dari superball.id (2/8/17) bahwa Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria mengungkapkan bahwa Luis Milla yang selama ini menangani Timnas, ternyata peran utamanya adalah melatih Timnas U23 saja.

Sedangkan ketika melatih Timnas senior di beberapa uji coba, Luis Milla statusnya hanya membantu sementara, sehingga itu artinya bahwa Indonesia memang belum mempunyai instruktur Timnas senior sebab selama setahun belakangan tidak ada event yang dijalani.

Berdasarkan pemaparan yang dikemukan oleh Ratu Destria tersebut bahwa kandidat yang akan mengisi dingklik panas instruktur Timnas senior nantinya berasal dari kompetisi liga 1 dan juga dari instruktur ajaib dari luar negeri.

Maka bila merujuk pada pernyataan tersebut, ada 3 pelatih yang saat ini menangani klub liga 1 yang teladan atau gaya permainannya sangat cocok dengan filosofi sepakbola Indonesia yang selama dua tahun ini dikembangkan oleh Fachri Husaini, Indra Sjafri dan Luis Milla di masing-masing level usia Timnas.

Kandidat terkuat 3 pelatih tersebut yakni Simon Mcmenemy, Jackson F. Thiago dan Rahmad Darmawan. Seperti yang kita ketahui bahwa ketiga pelatih ini punya kemampuan melihat potensi pemain muda Indonesia dengan baik.

Bahkan mereka sangat banyak mengorbitkan pemain-pemain berkualitas meskipun belum punya nama besar.

Simon Mcmenemy yakni instruktur yang sukses bersama Bhayangkara FC musim 2017, Ia berhasil membawa klub tersebut menjadi juara di Liga 1. Tak hanya itu, beberapa pemain muda yang bermain sangat baik ialah hasil polesan tangan dinginnya.

Jika dilihat dari permainan yang dikembangkannya, Simon memang punya tipe permainan sepakbola yang kolektif. Tidak ada yang benar-benar dianggap bintang utama dalam sketsa permainannya, sehingga siapapun yang berada di lapangan mampu Ia sulap menjadi pemain yang memilih.

Sedangkan Jackson F. Thiago tidak perlu diragukan lagi kualitasnya, pengetahuannya perihal sepakbola Indonesia pastinya juga sangat luas mengingat Ia berada di Indonesia sejak masih menjadi pemain.

Sama halnya denga Simon Mcmenemy, Jcakson punya spesialisasi ataupun kemampuan khusus bisa memoles bakat-bakat muda. Banyak pemain Papua yang menjadi bintang berkat polesan pelatih asal Brazil ini.

Terbaru Ia juga mampu menggabungkan kolaborasi pemain muda dan pemain berpengalaman di klub barunya Barito Putera yang hingga paruh pertama Liga 1 menempati klasemen papan atas.

Secara permainan, Jackson juga dikenal dengan filosofi menyerangnya yang atraktif. Maka tak heran jika klub mana saja yang dipegangnya selalu bermain menyerang dengan sangat rapi.

Kandidat terakhir instruktur Timnas dari kompetisi Liga 1 adalah Rahmad Darmawan, jam terbang pelatih asal Lampung ini juga tak perlu ditanyakan lagi. Ia juga mempunyai banyak pengalaman dalam mengani Timnas di beberapa tahun kemudian.

Kemampuan mengolah taktiknya tak kalah baiknya dibandingkan Simon Mcmenemy dan Jackson F. Thiago. Ia selalu punya planning lain yang baik ketiak planning utamanya tidak berjalan di lapangan.

Sekali lagi bahwa filosofi yang Ia kembangkan juga sangat sinkron dengan apa yang tengah dikembangkan oelh PSSI dikala ini. Sehingga tak heran jikalau namanya sangat patut dipertimbangkan menjadi salah satu kandidat terbaik pelatih Timnas senior.

Itulah beberapa opsi calon pelatih Timnas yang muncul dari liga 1 jika dinilai dari filosofi bermainnya yang tidak berbeda jauh dengan filosofi pelatih-pelatih Timnas yang saat ini menangani Timnas U16, U19, maupun U23.

Tentunya PSSI juga tidak akan melihat pelatih dari kompetisi lokal saja, sangat besar kemungkinan juga akan mencari instruktur dari luar. Tergantung sejauh mana pelatih tersebut nantinya bisa menyesuaikan diri dengan sepakbola Indonesia.

Hal yang paling penting yakni pelatih tersebut bisa berkolaborasi dengan instruktur yang sudah ada di Timnas anabawang. Sehingga program filosofi sepakbola Indonesi bisa terus berlanjut dan itu akan memudahkan penyesuaian pemain yang sudah punya pakem dari pelatihnya ketika masih anabawang. Bravo!
Sumber: UCnews.com

Rabu, 11 April 2018

Mourinho Sudah Tanda Tangan Kontrak Dengan Chelsea?

dikutip dari vivanews Jose Mourinho sudah menandatangani kontrak selama empat tahun bersama Chelsea, Selasa malam 28 Mei 2013 waktu setempat. The Blues harus mengeluarkan £40 juta (setara Rp592 miliar) untuk mendapatkan kembali The Special One.

Hal tersebut diungkap The Sun, Kamis 30 Mei 2013. Media terkemuka Inggris itu memastikan Mourinho sudah menandatangani kontrak bersama Chelsea ketika dua hari berada di London awal pekan ini.

Mourinho dan asisten pelatihnya di Real Madrid, Rui Faria, berada dua hari di London untuk menyaksikan pertandingan playoffs Championship antara Crystal Palace melawan Watford di Wembley, Senin 27 Mei 2013. Namun, Mourinho bahu-membahu bertemu administrasi Chelsea dan melakukan penandatanganan kontrak.

"Sudah resmi Mourinho kembali melatih Chelsea lagi. Semua orang di klub senang beliau kembali, klub, pemain, dan fans. Kami tidak sabar untuk menjalani demam isu depan. Kami yakin akan sangat menarik," ujar sumber internal Chelsea kepada The Sun.

Pihak Chelsea gres akan mempublikasikan kembalinya Mourinho ke Stamford Bridge pekan depan. Sebab, instruktur asal Portugal itu masih harus menangani Madrid pada satu pertandingan La Liga melawan Osasuna, Sabtu 1 Juni 2013.

Mourinho akan mulai bekerja saat Chelsea melakoni tur pramusim di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia. Setelah itu, Chelsea akan terbang ke Amerika Serikat untuk tampil pada International Champions Cup, bersama Real Madrid, Inter Milan, Everton, Juventus, AC Milan, Valencia, dan LA Galaxy.

Jika informasi The Sun benar, ini yaitu kali kedua Mourinho melatih Chelsea setelah sebelumnya terjadi pada 2004 sampai 2007. Pada kala pertamanya melatih Chelsea, Mourinho sukses memberi enam gelar, termasuk dua Premier League. (art)

Sumber

Selasa, 03 April 2018

Buntut Kericuhan Bali United Vs Persib Bandung, Satu Pemain Naturalisasi Banjir Hujatan

Partai kedua tim dihelat di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Minggu (27/5/2018), dengan skor akhir 0-0.

Selepas wasit meniup peluit tamat pertandingan, keributan antara pemain kedua tim tak terhindarkan.

Sejak awal langgar, perjumpaan kedua tim ketika itu memang sudah dibumbui tensi panas dengan aneka macam intrik.

Nahasnya, kericuhan tersebut berdampak jelek pada salah satu pemain, ialah pilar naturalisasi Bali United.

Ya, Stefano Lilipaly menerima kenyataan buruk ialah banjir hujatan dalam akun Instagram pribadinya.

Lilipaly memang tertangkap beberapa kali meluapkan protes keras kepada wasit terutama dikala golnya dianulir.

Aksi penyerang Bali United, Stefano Lilipaly ketika Bali United mengalahkan Borneo FC di Grup D Piala Presiden
Gelandang 28 tahun itu sempat menciptakan gol menit ke-22 namun pada balasannya dianulir alasannya dianggap offside.

Terlebih ketika keributan antar pemain setelah laga berakhir, dalam video yang beredar Lilipaly tampak bergairah.

Dalam artian, pemain naturalisasi berdarah Belanda itu terpancing emosinya oleh salah satu pemain Persib.

Tak diketahui dengan jelas siapa pemain Persib Bandung yang hendak ia hampiri.

Namun untungnya, amarah Lilipaly mampu diredam oleh pemain Persib lainnya.

Sejak ketika itu, kolom komentar dalam unggahan terakhir Stefano Lilipaly di Instagram banjir hujatan.

Banyak yang menilai, sikap Lilipaly tak sepatutnya dilakukan, apalagi sang pemain yakni pilar tumpuan timnas.
Sumber: UCnews.com

Sabtu, 24 Maret 2018

Nantes Have Demanded Payment From Cardiff For The Transfer Of Emiliano Sala


French club Nantes have demanded payment from Cardiff City over the £15m transfer of Emiliano Sala, BBC Wales has learned.

Argentine striker Sala, along with pilot David Ibbotson, was on board the Piper Malibu N264DB which lost radar contact near Guernsey on 21 January.

Sala, 28, was Cardiff's record signing but never played for the club.

Cardiff have withheld the first scheduled payment until they are satisfied with the documentation.

The transfer fee is due to be paid in instalments over three years.

In a later interview with French newspaper L'Equipe, Cardiff chairman Mehmet Dalman indicated that Nantes had sent an invoice for the first instalment, worth 6m euros (£5.27m).

In the same interview Dalman added: "We must show respect to the family. There is the process of recovering the plane."

On Thursday night the Air Accidents Investigation Branch (AAIB) said a body had been recovered from the wreckage.

Cardiff had earlier expressed "surprise" that Nantes made the demand while the recovery attempts were under way.

It is understood Nantes are threatening legal action if they do not receive a payment within 10 days. The BBC has attempted to speak to Nantes for comment.

A source at Cardiff says they will honour the contract but not until they have clarified "all the facts".

It is unclear whether or not the club have insurance covering the cost of the transfer.

French club Bordeaux are also entitled to a cut of the fee, thought to be 50% - Sala was on their books from 2012 to 2015 before joining Nantes.

The plane carrying Sala and Ibbotson, from Crowle, Lincolnshire, disappeared en route to Cardiff after the footballer returned to Nantes to say goodbye to his former team-mates.


SOURCE : www.bbc.com

Kamis, 15 Maret 2018

Ribery Ungkap Dua Kunci Kemenangan Bayern Munchen

Bolarius - Bayern Munchen berhasil mengalahkan Barcelona 4-0 pada leg 1 Semifinal Liga Champion di Allianz Arena, Rabu (24/4) dini hari WIB. Gelandang FC Hollywood, Franck Ribery, mengungkapkan kunci kemenangan timnya yakni bermain sebagai tim dan striker yang dapat mencetak gol.

"Untuk mendapatkan hasil seperti ini kami harus bermain lebih banyak sebagai tim. Terlepas dari hal itu kami mempunyai striker yang mampu mencetak gol," ujar Franck Ribery seperti dilansir UEFA.

"Kami sangat bahagia. Masih ada pertandingan lain yang harus dimainkan tetapi saya pikir kami bermain baik malam ini," kata Ribery.

Gol tuan rumah, Bayern Munchen, dicetak Thomas Muller pada menit ke-25 dan 82. Dua gol lagi diciptakan Mario Gomez (49') dan Arjen Robben (73').

Leg 2 Semifinal Liga Champion akan berlangsung pada Kamis (2/5) dini hari WIB di Camp Nou. Dengan kekalahan 0-4 ini maka pada leg 2 Blaugrana mau tidak mau harus menang 5-0 atas FC Hollywood kalau ingin langsung lolos ke final tanpa ada babak aksesori waktu dan berkelahi penalti.

Sumber

Selasa, 13 Maret 2018

Ketahuan! Perusak Dokumen Persija Terciduk, Wakil Satgas Justru Pajang Foto Joko Driyono


Ketahuan! Perusak Dokumen Persija Terciduk, Wakil Satgas Justru Pajang Foto Joko Driyono

Tiga pelaku perusak barang bukti pengaturan skor Liga Indonesia di bekas kantor PT Liga Indonesia yang belakangan diketahui juga sering dijadikan kawasan sidang Komdis PSSI, akhirnya tertangkap.

Ketiganya resmi menyandang status tersangka atas penghancuran dokumen yang diduga juga merupakan data keuangan tim Persija Jakarta.

Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, mengonfirmasi kabar tersebut.

"Penyidik Satgas Antimafia Bola menetapkan tersangka lagi tiga orang," ujar Dedi Prasetyo dikutip dari Bolasport.
Ketiga tersangka tersebut bernama Muhamad MM alias Dani (disebut merupakan sopir salah satu petinggi PSSI), Musmuliadi alias Mus (office boy di PT Persija), dan Abdul Gofur (OB di PSSI).

Dedi menuturkan bahwa ketiga tersangka telah melanggar batas garis polisi yang sudah dibentuk oleh petugas di kantor Komdis PSSI yang juga digunakan sebagai kantor Persija itu. Ketiganya juga terbukti mencuri serta merusak barang bukti di kawasan tersebut.

"Persangkaannya tindak pidana bersama-sama melaksanakan pencurian dengan pemberatan dan atau memasuki dengan cara membongkar, merusak, atau menghancurkan barang bukti yang telah dipasang police line oleh penguasa umum, yang terjadi di kantor Komdis PSSI, Jalan Rasuna Timur, Menteng Atas, Setiabudi, Jakarta Selatan," kata Dedi menjelaskan.
Unggah Foto Dua Petinggi PSSI

Beberapa dikala setelah diciduknya tiga tersangka pengerusakan dokumen, Wakil Satgas Antimafia Bola, Krishna Murti ikut berkomentar melalui akun Instagram pribadinya.

Krishna mengunggah screenshot media online yang memberitakan penangkapan tersebut.

"Si Lord sudah akrab.. Apelo Apelo.. #kmupdates," tulis Krishna di akun Instagram @krishnamurti_bd91.

Tidak diketahui apa maksud dari cuitan tersebut, namun setelah itu dia kembali membuat heboh followersnya. Pasalnya Krishna tiba - datang mengunggah foto dua petinggi PSSI, adalah Plt Ketum Joko Driyono dan Sekjen Ratu Tisha.

"Pasti kalian lagi nungguin saya update, trus cepet2an komen di IG saya," canda Krishna Murti.
"Pasti kalian masih mantengin IG aku ya..?? Trus komen cepet2an..," tulisnya lagi.

Entah ini merupakan suatu isyarat atau hanya sekedar untuk menciptakan heboh followersnya, Krishna tidak menjelaskan secara rinci kenapa beliau tiba - datang mengunggah foto dua petinggi PSSI tersebut. (*)

Kira - kira berdasarkan kalian kenapa Wakil Satgas Antimafia Bola datang - datang mengunggah foto dua petinggi PSSI setelah mengomentari tertangkapnya para tersangka perusak dokumen di kantor Komdis PSSI?



baca sumber

Kamis, 08 Maret 2018

Why Defeat Should Not Define Solskjaer's Man Utd Future -Phil Neville Analysis


Man Utd 0-2 Paris St-Germain: 'United's defeat was several years in making'

Ole Gunnar Solskjaer's first defeat as Manchester United manager was a case of reality finally kicking in among all the fantasy - and the outcome of years of mismanagement at Old Trafford.

Solskjaer's impact as interim boss has been so great that there was a real air of expectation in the stadium before Tuesday's Champions League meeting with Paris St-Germain.

It was all a sharp contrast to when the last-16 draw was made and the cloud of Jose Mourinho's tamat days in charge loomed over a United side viewed as the plum Premier League pick for Europe's elite.

The resulting 2-0 defeat stands as the first blot on Solskjaer's United managerial record - 10 wins and a draw from 11 games before PSG came to town - but this was not a loss 90 minutes in the making; it was one fashioned over several years.

And that is why - disappointing though it was to be brutally brushed aside by a PSG team missing superstars Neymar and Edinson Cavani - this loss should not figure large in United's calculations about whether to appoint the Norwegian as the long-term successor to Mourinho.

Solskjaer may have been the man in the technical area, and of course he takes some responsibility, but the wider picture, ruthlessly exposed by PSG, is a portrait of just how far United have been allowed to drift and fall behind.

United were unlucky to lose Jesse Lingard and Anthony Martial to injury but PSG's strength, and the use of their own financial firepower, allowed them to make light of the loss of Neymar and Cavani.

The simpulan scoreline could have been a lot worse had David de Gea not made important interventions - and it would be optimism gone mad to suggest the second leg in Paris will be anything other than a completion of the formalities.

It is to Solskjaer's credit, accumulated over those 11 games, that there was any optimism at kick-off - but the longer the game went on, the more it waned. When the simpulan whistle blew, the thousands of empty red seats told their own story.

United have been allowed to fall into such disrepair on the back of flawed managerial choices, instability, and a badly structured transfer policy overseen by executive vice-chairman Ed Woodward that they can no longer take their place at Europe's top table.

PSG are fuelled by fierce ambition and Qatari billions and yet even they are struggling to establish themselves among the big Champions League players - but on this evidence they are still far in advance of United.

United are a huge European and global club in many aspects but not in the one that counts most: on the pitch.

Few United players, on this evidence, would get anywhere near PSG's team. A case could be made for De Gea and Paul Pogba but even United's area of real strength, in attack, is eclipsed by the riches available to PSG boss Thomas Tuchel.

United's defence has been key to the fine run under Solskjaer but they cracked under stress here, especially early in the second half when they were cut apart at will and PSG threatened to take the tie out of sight.

The home fans did their best to create a crackling atmosphere on the club's return to big Champions League nights, although the goading of Di Maria only coaxed a stellar performance from the Argentine, who created both goals for Presnel Kimpembe - who was lucky to still be on the pitch after earlier offences - and Kylian Mbappe.

Football has the capacity to produce miraculous comebacks but it stretches the imagination to think this United side, deservedly back in the top four at home but miles off the pace in Europe, can claw this back.

Some of United's recent flawed decision-making was illustrated by the performance of Alexis Sanchez, a hugely expensive liability who might as well have stayed in his seat among the substitutes for all the good he did after coming on just before half-time.

And when the crunch came and the starting selection was made, Solskjaer went with Marcus Rashford and Martial rather than £75m Romelu Lukaku - a decision that says much about the striker's place in the manager's plans.

The chasm between United and PSG only underscored the importance of Woodward and his boardroom colleagues finally getting a big decision right when it comes to choosing their next manager and the path forward.

Optimism has rightly risen amid Solskjaer's renewal of United, but this was a graphic illustration of just how far away they are from where they want to be.

Is appointing Solskjaer a gamble or a question of Woodward and the board holding their nerve and moving away from the star-struck recruitment policy that led to Louis van Gaal and later Mourinho?

Whatever it is, the manner in which they were outclassed and dismissed by PSG only emphasised the fact that this time they cannot afford to take another wrong turn or they risk falling even further behind Europe's best.



source : bbc.com

Orangutan Dkk Pilih Dortmund Juara Eropa




Setelah Paul si Gurita yang menjadi fenomena pada Piala Dunia 2010, sekarang muncul sejumlah hewan yang memprediksi Borussia Dortmund bakal menjuarai Liga Champions mengalahkan Bayern Muenchen. Beberapa binatang yang bertugas menjadi "peramal" tersebut berasal dari sejumlah kebun hewan di Jerman.

Pada edisi Liga Champions animo kemudian juga terdapat seekor llama bernama Nicholas yang memprediksi pemenang tamat antara Chelsea dan Bayern. Nicholas pun sukses menjadi peramal seperti Paul sebab pilihannya ialah Chelsea berhasil menjadi kampiun di Allianz-Arena.

Untuk perhelatan tahun ini, setidaknya ada tiga jenis hewan dari tiga kebun binatang berbeda di Jerman yang bertugas untuk memprediksi siapa klub terbaik di Eropa. Seperti dilansir Espnfc.com, ketiga hewan tersebut ialah orangutan, tapir, dan berang-berang.

Walter, seekor orangutan di kebun hewan Dortmund, menentukan Dortmund. Walter menentukan pilihannya tersebut sesudah perwakilan surat kabar Ruhr Nachrichten meminta agar petugas kebun binatang, Eddie Laudert, menempatkan seragam Dortmund dan Bayern di dekat Walter.

Walter sempat tertarik untuk mengambil seragam Bayern. Namun, orangutan itu lalu memalingkan pandangannya ke seragam berwarna kuning milik Dortmund, meskipun pada akhirnya Walter gagal menyelipkan seragam tersebut ke tubuhnya seperti yang awalnya direncanakan.

Namun, alasannya berdomisili di Dortmund, pilihan Walter tersebut bisa dituding menjadi bias. Oleh alasannya itu, pihak pemrakarsa lalu berpindah ke kebun binatang lain yang berdomisili di Leipzig dan Aue. Hasilnya pun sama, beberapa binatang menentukan Dortmund sebagai juara.

Di kebun binatang Leipzig, seekor tapir berjulukan Baru dihadapkan pada dua pilihan kohlrabi (lobak Jerman) berwarna kuning-hitam (Dortmund) dan putih-merah (Bayern). Baru pun lalu memilih kohlrabi berwarna kuning-hitam.

Sementara di kebun binatang Aue, dua ekor berang-berang bernama Ferret dan Mormel pun bertindak sama dengan rekan-rekan sebelumnya. Kedua berang-berang itu lebih memilih mengambil masakan kecil yang ditempatkan di sudut yang bertanda lambang Dortmund ketimbang Bayern.

Apakah kali ini ramalan sejumlah hewan tersebut sempurna? Silakan ikuti saja karena apa pun hasilnya, para binatang itu mungkin tidak peduli alasannya untuk tahun ini negaranya dipastikan akan menjadi juara di Eropa.

Hanya gajah berjulukan Nelly yang mendukung Bayern. Gajah yang berdomisili di Serengeti Park, Hodenhagen, ini dikala diberi bola kemudian membawanya ke gawang Dortmund dan memasukkannya.

Sumber